Selamat Pagi
Tsunami Jepang
Sehari sebelum terjadinya gempa Jepang, Jumat (11/3) lalu, para ilmuwan internasional ramai mendiskusikan fenomena supermoon.
SELAMAT hari Senin. Sehari sebelum terjadinya gempa Jepang, Jumat (11/3) yang lalu, para ilmuwan internasional --lewat media internet-- ramai mendiskusikan fenomena supermoon dan efek yang ditimbulkannya. Diskusi itu mengarah pada kesimpulan bahwa fenomena supermoon akan membawa "kekacauan di bumi."
Supermoon adalah sebuah fenomena dimana bulan (moon) terlihat sangat besar di langit karena berada dalam posisi terdekatnya dengan bumi. Saat ini proses itu sedang terjadi. Klimaknya akan bisa kita saksikan bersama pada tanggal 19 Maret 2011 mendatang, dimana posisi bulan berada pada jarak terdekatnya 356.723 km dari bumi, sehingga bulan akan kita lihat dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya.
Teori supermoon juga pernah dikaitkan dengan gempa bumi superdahsyat berkekuatan 9.0 Skala Richter (SR) disertai tsunami setinggi 10 meter yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2005. Ketika itu klimaks supermoon terjadi pada dua minggu setelah "kiamat kecil Aceh."
Dalam 50 tahun terakhir, supermoon terjadi pada tahun 1955, 1974, 1992, 2005, dan 2011. Khusus tahun 2011, supermoon tidak saja merangsang terjadinya gempa bumi besar namun juga mengakibatkan gelombang laut yang tinggi dan cuaca buruk yang sangat ekstrem di seluruh dunia.
Namun demikian, penganut teori supermoon selalu dibantah oleh sebagian besar ilmuwan dunia. Mereka yang tidak percaya pada teori supermoon selalu berdalih bahwa secara ilmiah fenomena bulan hanya akan berakibat pada naiknya gelombang air laut, bukan berpengaruh atau merangsang terjadinya gempa bumi dan meletusnya gunung berapi.
Terlepas dari polemik fenomena supermoon, faktanya Jepang telah luluhlantak dihajar gempa bumi 8.9 SR, Jumat baru lalu. Gempa terjadi pukul 12.46 WIB atau 14.46 waktu Jepang, dengan episentrum berpusat di 373 km timur laut Tokyo. Beberapa saat kemudian terjadi tsunami dengan ketinggian 4 meter hingga 10 meter.
Ada tiga provinsi dengan kondisi rusak terparah yakni Miyagi, Iwate, dan Fukushima. Hingga kemarin pemerintah Jepang mengumukan korban tewas berjumlah lebih dari 1000 orang dan diperkirakan korban masih akan terus bertambah karena masih ada sekitar 10.000 orang yang masih belum ditemukan di kota pelabuhan Minamisanriku di Prefektur Miyagi, Jepang,
Siang itu mbakyu ipar saya sedang membersihkan piring, gelas, dan alat-alat masak di dapur, ketika tiba-tiba rumah tempat tinggalnya terasa terayun-ayun bergoyang keras. Perabotan rumah berjatuhan, iapun panik, gempa besar sedang terjadi.
Langkah pertama yang mbakyu saya lakukan adalah menelepon suaminya yang sedang bekerja. Suaminya memerintahkan agar dia tetap tinggal di dalam rumah, lalu ikuti perkembangan lewat televisi. Mbakyu ipar saya dan suaminya yang orang Jepang tinggal di sebuah apartemen lantai sebelas di Prefektur Asakuka, Tokyo. Anaknya bekerja sebagai sekretaris Dutabesar RI untuk Jepang di Tokyo.
Pukul 13.00 WIB atau 15.00 waktu Tokyo atau seperempat jam setelah gempa, mbakyu ipar saya barulah menelepon istri saya (adik kandungnya) di Jakarta, mengabarkan apa yang sedang terjadi di Jepang. Hubungan telepon ke Jakarta terus dilakukan setiap setengah jam sekali untuk meng-update perkembangan.
Saat ini terdapat 31 orang saudara istri saya yang hidup di Jepang. Mereka tinggal di berbagai kota di Negeri Matahari Terbit. Beberapa di antara mereka adalah warga asli Jepang, lainnya berstatus WNI yang sedang bekerja di sana dalam berbagai profesi. Alhamdulillah seluruh keluarga saya tidak ada satu pun yang menjadi korban gempa dan tsunami 11 Maret 2011.
Gempa berkekuatan 8,9 SR disertai tsunami yang mengguncang Jumat yang lalu itu merupakan gempa terbesar yang melanda Jepang dalam kurun waktu 140 tahun terakhir. Kekuatan gempa tersebut melampaui kekuatan gempa Great Kanto yang terjadi pada 1 September 1923 silam. Gempa tersebut berkekuatan 7,9 dan menewaskan lebih dari 140 ribu orang warga Tokyo.
Dari oborolan dengan saudara-saudara saya yang mengalami musibah bencana alam terbesar itu saya mendapatkan beberapa gambaran yang menarik. Pertama, menyangkut infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat Jepang. Saudara-saudara saya yang tinggal di Jepang menceritakan bahwa ada empat hal yang dijamin oleh pemerintah Jepang yang tidak akan terpengaruh oleh gempa dan bencana alam lainya seburuk apapun bencana itu terjadi. Keempatnya adalah; listrik, telepon, air bersih, dan gas.
Tidak seperti di Indonesia yang sebagian besar penduduknya harus membeli gas elpiji dengan cara ketengan untuk kebutuhan rumah tangga mereka, di Jepang kebutuhan gas rumahtangga dilayani oleh pemerintah dengan sistem jaringan suplai lewat jalur pipa ke seluruh negeri. Dan, pemerintah Jepang telah membuktikan jaminan suplai tersebut tetap terjaga meski sedang diterjang gempa berkekuatan dahsyat tersebut.
Listrik juga tetap menyala di sebagian besar wilayah Negeri Sakura. Air bersih tatap mengalir ke sebagian besar rumah warga. Sedangkan telepon, sama sekali tidak ada gangguan. Saya dan keluarga saya tetap bisa berhubungan dengan saudara-saudara saya di Jepang, sejak bencana alam tersebut terjadi hingga beberapa saat ketika saya mengetik tulisan ini.
Semuanya membuktikan bahwa pemerintah Jepang berhasil membangun infrastruktur yang berkaiatan dengan hajat utama rakyatnya dengan kualitas yang tahan terhadap bencana seburuk apapun. Kita tahu bahwa Jepang adalah negara yang rawan bencana gempa bumi, tsunami, terjangan badai dan angin topan.