- Harga tiket pesawat dari Banjarmasin ke berbagai kota tujuan melonjak hingga 300 persen karena begitu padat penumpang selama musim liburan panjang anak sekolah kali ini.

Agen tiket City Link di Jalan Sutoyo S, Banjarmasin, Akmad, Minggu, mengatakan, harga tiket pesawat dari Banjarmasin tujuan Jakarta yang biasanya dijual dengan harga terendah sekitar Rp350 ribu --kadang Rp250 ribu-- kini harga terendah menjadi Rp850 ribu.

"Itupun banyak calon penumpang yang masuk daftar tunggu karena tidak mendapatkan kursi penerbangan," katanya.

Bukan hanya ke Jakarta, tiket Banjarmasin-Surabaya juga melonjak tajam, berkisar antara Rp600 ribu - Rp800 ribu dari biasanya harga terendah hanya mencapai Rp350 ribu - Rp400 ribu.

Lonjakan harga tiket juga terjadi pada maskapai lainnya, baik Garuada, Lion Air, Merpati, Batavia dan Sriwijaya Air.

Diperkirakan lonjakan harga tiket pesawat tersebut masih akan berlangsung hingga 20 Juli 2011 atau pada saat anak-anak mulai masuk sekolah.

"Kalau sekarang dalam setiap hari terus naik, apalagi dalam tiga hari terakhir, permintaan tiket ke berbagai tujuan terus meningkat," katanya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada agen-agen tiket lainnya, yang mengaku kewalahan untuk melayani permintaan tiket terutama yang murah.

"Saya menyerah untuk bisa mendapatkan tiket Banjarmasin-Jakarta dengan harga murah, justru semakin hari semakin naik. Lima hari lalu masih bisa didapat tiket dengan harga Rp650 ribu, sekarang sudah Rp850 ribu," kata Khairil salah seorang agen tiket.

Ketua Presidium Forum Pariwisata Kalsel, Jono Purwadi, mengatakan banyaknya minat masyarakat Kalsel yang bepergian ke luar daerah untuk mengisi masa liburan sekolah adalah hal yang wajar.

Hanya saja yang menjadi persoalan, tambah Jono, tidak ada keseimbangan antara warga yang keluar untuk berlibur dan orang luar yang ingin menikmati wisata Kalsel.

Dengan demikian, warga Kalsel hingga kini belum bisa menikmati insentif lebih besar pada liburan sekolah, karena justru uang asal Kalsel banyak dibelanjakan ke luar daerah.

"Seharusnya ada perimbangan, bila warga Kalsel banyak yang keluar, maka orang luar juga harus banyak yang masuk Kalsel, tapi kenyataannya masih sangat jomplang," katanya.

Hal tersebut terjadi, tambah dia, karena Kalsel belum menjadi referensi untuk menjadi salah satu tujuan wisata nasional kendati potensi cukup bagus dan bisa dikembangkan.

Menurut Jono, selama ini daerah tujuan wisata terfokus pada Yogyakarta, Bali, Jakarta dan Lombok, sedangkan yang ke Kalimantan belum ada.

"Saya rasa ini adalah menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, masyarakat dan seluruh pihak terkait untuk bisa menjadikan Kalsel sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang menarik," katanya.(*)