• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Kaltim

Kue Khas Banjar Laris Manis

Sabtu, 6 Agustus 2011 15:21 WIB
TRIBUNKALTIM.co.id - Di  antara barisan penjaja kue di Pasar Ramadhan, kue khas Banjar menjadi lapak yang banyak didatangi pembeli. Hanya ada dua lapak saja yang menyajikan beragam kue khas Banjar yang dipajang khas dengan loyang bundar dan berukuran besar.

Satu di antaranya lapak milik Dewi. Di tempat ini, ada lebih lima kue berbahan utama tepung beras, santan dan gula merah yang dipajang. Namanya kuenya pun ternyata berbeda-beda. Ada yang bernama sarimukalakatan, kue dengan bahan tepung beras, santan dan gula merah yang menutupi lapisan ketan di bawahnya. Ada pula bingka telur yang pastinya dominan dengan rasa telur ayam kampungnya, hamparan tatak pisang yang berwarna putih dan karaban, kue dari paduan tepung beras, gula merah, santan ditambah aroma wewangian yang khas. "Kalau kue Banjar yang banyak dicari ya karaban, hamparan tatak pisan dan sarimukalakatan. Itu yang paling cepat habis di sini. Tapi, biasanya jelang berbuka, semua kue yang kami jajakan sudah ludes," ujar Dewi.

Harga kue yang ditawarkan Dewi juga sangat terjangkau. Rp 2.000 per potong. Namun untuk kue bingka telur atau lapis India yang berbentuk bunga langsung dibandrol sekitar Rp 15.000. Sebab tidak tersedia pembelian dalam bentuk potongan.

Di lapak lainnya, Icha penjaja kue berbuka memajang lebih beragam kue untuk berbuka. Baik kue tradisional seperti bolu peca asal Sulawesi Selatan maupun kue modern, seperti roti isi daging, pastel, bolu kukus warna warni hingga puding marmer. Namun, tidak semua kue yang dijajakannya merupakan kreasi sendiri. "Sebagian saja yang saya buat sendiri. Selebihnya, titipan orang. Nggak kepegang kalau segini banyak bikin sendiri. Modalnya juga nggak kuat," ungkap Icha.

Untuk membuat kue yang akan dijajakan, Icha mengaku merogoh kocek sekitar Rp 300.000 per hari. Dengan uang sebesar itu, ia bisa meraih untung sekitar Rp 100.000 per hari. Kalau semua kue kreasinya habis terjual. Untung itu masih ditambah dengan bagi hasil penjualan kue titipan.

Senada, Halimah, penjaja lauk pauk dan sayur masak mengaku memperoleh untung yang lumayan dengan menjadi pedagang musiman. Karena itu, ia pun sudah lebih tiga tahun selalu berjualan di Pasar Ramadhan.  Modalnya? Halimah mengaku merogoh kocek sekitar Rp 700.000 per hari untuk berbelanja segala kebutuhan di pasar.

Soal kebersihan makanan, ketiga penjaja makanan berbuka ini mengaku sangat menjaga kebersihan makanan produk mereka. Bahkan sayur dan bahan mentah lainnya sengaja dipilih yang bagus. "Silakan diperiksa. Kami juga nggak mau sembarang mengolah makanan. Kalau ada apa-apa atau rasanya kurang enak, kita juga yang ditinggal pembeli," ujar Halimah.(sar)
Editor: Fransina
Sumber: Tribun Kaltim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
12665 articles 6 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas