Menelisik Aksi Pembobolan Rekening Nasabah Bank (1)

Maaf, Dompet Saya Ketinggalan

Munculnya kembali tindak pidana penipuan dan pencurian uang nasabah melalui fasilitas ATM itu menggelitik naluri saya.

Maaf, Dompet Saya Ketinggalan - _Dompet_saya_ketinggalan_CCTV_BCA.jpg
CCTV-BCA
Maaf, Dompet Saya Ketinggalan - CCTV4.jpg
CCTV-BCA
Oleh Syarifuddin HS
Warga Balikpapan, mantan wartawan

PERTENGAHAN bulan Oktober tadi, seorang kawan lama yang bermukim di ibukota mengirim pesan singkat ke telepon saya. Ini memang sudah menjadi kebiasaan kami untuk bertukar informasi menyangkut fenomena yang terjadi di masyarakat.

Dalam  pesan singkatnya, ia mengingatkan untuk waspada terhadap penipuan di bilik-bilik ATM. Menurut kawan yang bekerja sebagai wartawan di sebuah harian khusus berita kriminal dan bertiras besar itu, belakangan ini para penjahat kartu ATM tersebut menggunakan muslihat baru.    

Munculnya kembali tindak pidana penipuan dan pencurian uang nasabah bank melalui fasilitas ATM itu menggelitik naluri saya sebagai seseorang yang pernah berkiprah di dunia jurnalistik. Memang cukup lama juga saya tak menulis dan berita soal kejahatan ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru.

Beberapa waktu yang silam koran-koran di daerah ini pun pernah gencar memberitakannya. Cuma sayang, dalam berita-berita tersebut, tak tergambar secara rinci apa saja yang dilakukan para penjahat itu. Karena itulah saya tergelitik untuk melakukan penelusuran tentang modus operandi para pelaku kriminal tersebut.

Tentulah sebelum terjun bebas ke medan investigasi itu, saya perlu melakukan sharing dengan beberapa kawan, termasuk di jajaran kepolisian, khususnya AKP Gendut Supriyanto SH, kasatreskrim Polresta Balikpapan.

"Kok sampeyan penasaran betul dengan jenis kejahatan yang satu ini? Memangnya mau belajar jadi penjahat? Daripada hanya mendengar cerita saya atau orang lain, bagaimana kalau sampeyan coba mengalaminya sendiri," ujar Gendut lalu terkekeh.

Alamak, walau bercanda, bagi saya ide yang nyeleneh ini patut dipertimbangkan. Betul, pengalaman sendiri lebih bernilai dibanding mendengar cerita orang saja, pikir saya dalam hati.

Syahdan, setelah paginya mengecek saldo tabungan saya (yang memang tak pernah banyak), hari Sabtu (29/10) petang, sekitar pukul 18.00 saya singgah ke ATM BCA di areal SPBU Sepinggan. Saat saya melangkah menuju bilik ATM, seseorang bertubuh agak gemuk mengenakan setelan safari lengan pendek berwarna gelap dan bertopi hitam bergegas dari arah lain mendahului saya memasuki bilik tersebut.


Sekitar tiga menit, sang pria yang saya perkirakan berusia 40 tahun itu berada dalam bilik ATM BCA yang berjejer dengan bilik ATM Commonwealth Bank dan Bank Mandiri itu. Tak ada suara berisik dari mesin ATM yang biasanya terdengar apabila seseorang melakukan transaksi dengan mesin pintar itu.

Lalu sang pria berkulit agak terang itu -kita sebut saja XX - keluar. Saya pun masuk ke bilik tadi. Saya coba memasukkan kartu ATM, tetapi tak dapat masuk. "Nah, ini dia!" seru saya dalam hati dengan degup jantung yang seketika mengencang.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu bilik, XX melongok di mulut pintu. "Ada apa?" kata saya dengan intonasi suara agak meninggi. "Anu, aduh, maaf, Pak, dompet saya ketinggalan," jawabnya dengan suara seolah memelas. "Oh, silakan," kata saya sambil mengamati wajahnya lalu menoleh ke arah dompet hitam yang "tertinggal" di atas layar monitor ATM.

Setelah mengambil dompet, pria itu tak langsung ke luar bilik. "Ada apa, Pak?" tanya XX. "Oh, ini, kartu ATM saya kok tak bisa dimasukkan?"  kata saya. "Saya tadi bisa aja kok, Pak," ujarnya. "Sini, Pak, saya bantu masukkan," kata XX lagi sambil mengulurkan tangan.

Kartu ATM saya serahkan, sambil terus mengamatinya. Kartu ATM saya itu dimasukkannya dengan cara menekannya kuat-kuat, tetapi tak tertelan seluruhnya, masih tersisa sekitar lima milimeter di luar "mulut" (card rider) mesin ATM. "Sudah, Pak, permisi," kata XX sambil bergegas keluar dari bilik.

Saya sudah mulai yakin bahwa XX adalah "kutu busuk" yang jadi target investigasi saya. Sekitar semenit kemudian saya keluar dari bilik, tetapi XX bagai ditelan bumi. "Raib" begitu saja. (*/bersambung)

Editor: Fransina Luhukay
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved