Ngayogjazz, Festival Jazz Paling Membumi

"Ngayogjazz" tidak berpikir ke profit oriented, tapi lebih 'membumi', agar semua lapisan masyarakat bisa menikmati jazz.

Ngayogjazz, Festival Jazz Paling Membumi - edit_Rubrik_Citizen_Journalism_BJL_Dapat_Penghargaan_HO.jpg
ISTIMEWA
Ketua BJL Ahmad Jailani menerima penghargaan dari Walikota Surabaya.
Ngayogjazz, Festival Jazz Paling Membumi - edit_Rubrik_Citizen_Journalism_Penampilan_BJL_HO.jpg
ISTIMEWA

JAZZ tidak mesti digelar di gedung yang megah atau di hotel yang mewah, tapi di tengah pasar pun pertunjukkan jazz bisa digelar. Itu sudah di buktikan oleh Djaduk Ferianto sebagai pencetus ide "Ngayogjazz" yang berlangsung di Yogyakarta pada Sabtu (12/11) kemarin.

Berbeda dengan dari empat penyelenggaraan terdahulu, jika sebelumnya even ini diselenggarakan di tengah desa, kali ini diadakan seputaran Pasar Kotagede dan perkampungan yang bisa dibilang jauh dari sebutan desa. "Ngayogjazz" bisa dikatakan pencair sekat musik jazz.

Bagaimana tidak even jazz yang satu bukan hanya disaksikan oleh orang yang memang  menyukai dan penggemar jazz tapi juga ditonton oleh orang pasar, dari buruh, pedagang hingga anak-anak yang masih berumur sepuluh tahunan, yang mungkin tiak mengenal jazz ikut menikmati karena memang tidak menggunakan ticketing alias gratis.

"Ini adalah sebuah investasi budaya, kalau jazz itu mampu menyatu dengan kultur dan budaya masyarakat. Kalau kita ingin memasyarakatkan jazz, ya jazz harus dekat dengan masyarakat," kata Djaduk Ferianto, ketika mengobrol dengan saya.

Memang konsep "Ngayogjazz" amat berbeda dengan festival-festival jazz kebanyakan di negeri ini. Dari awal memang "Ngayogjazz" tidak berpikir ke profit oriented, tapi lebih 'membumi', agar semua lapisan masyarakat bisa menikmati jazz yang selama ini dikenal kebanyakan orang sebagai musik 'mahal'.

Festival ini terwujud berkat kerjasama semua pihak baik penyelenggara dengan pemerintah daerah, dan juga keterlibatan masyarakat itu sendiri sebagai 'pemilik' tempat. Djajuk menambahkan, "Masyarakat setempat sengaja saya libatkan, agar mereka juga merasa memiliki even ini, sehingga saya bisa menekan biaya," ujar Djaduk Ferianto.

Djaduk mengaku pada penyelenggaraan "Ngayogjazz" yang pertama hanya mengeluarkan bugjet kurang lebih Rp 30 juta, dan penyelenggaraan berikutnya naik menjadi Rp 60 hingga Rp 100 juta. Sementara untuk sekelas festival ini di kota lain, dana itu hanya cukup untuk sound system saja.

Bukan hanya itu, pada setiap penyelenggaraan "Ngayogjazz" selalu melibatkan para pedagang kecil, baik makanan sampai merchandise yang pada akhirnya secara tidak langsung juga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Artis maupun official-nya disuguhi makanan khas Yogyakarta seperti angkringan dan panganan lainnya. Memang "Ngayogjazz" sudah menyatu dengan budaya dan masyarakat Yogyakarta, dari kita masuk ke pintu tempat penyelenggaraan, sudah disuguhi dengan lagu tradisional Jawa, bahkan sampai atribut pakaian penerima tamunya juga 'berbau' Jawa. Bukan hanya itu, warna jazz yang disajikan oleh komunitas jazz Yogyakarta pun kental dengan etnik Jawa, sekalipun yang dimainkan adalah komposisi-komposisi standar jazz karya  John Coltrane, Cole Porter, George Gershin, DuBose Heyward sampai ke Dizzy Gillispie.

Saat festival ini dibuka pada 12 Oktober 2011, pukul 15.30 tampil grup Everyday di Panggung Spleker Ngisor Ringin Dhodhongan memainkan "So In Love" karya Cole Porter, lagu standar jazz yang diaransemen penuh dengan muatan musik etnik lokal. Sungguh menarik!

Halaman
12
Editor: Fransina Luhukay
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved