Menelisik Aksi Pembobolan Rekening Nasabah Bank (2)

Mohon Maaf, Kami Terpaksa Minta Nomor PIN

XX adalah "kutu busuk" yang jadi target investigasi saya. Semenit kemudian saya keluar dari bilik, tetapi XX bagai ditelan bumi.

SAYA sudah mulai yakin bahwa XX adalah "kutu busuk" yang jadi target investigasi saya. Sekitar semenit kemudian saya keluar dari bilik, tetapi XX bagai ditelan bumi. Raib begitu saja.

Di luar bilik sudah ada tiga orang yang antre akan masuk bilik. "Ada apa, Pak?" kata seorang pemuda bertubuh tegap dengan tinggi sekitar 170 cm, bertopi putih, berkulit agak gelap, mengenakan kaus garis-garis horizontal hitam-putih, yang selanjutnya kita sebut saja YY.

"Mana orang tadi? Anda lihat ke mana perginya?" kata saya seolah-olah marah. "Nggak lihat, Pak" ujar YY yang mengenakan celana jins pudar sebatas lutut dan bersandal putih.  

Saya kemudian masuk kembali ke dalam bilik, dan eh, YY ternyata ikut masuk tanpa saya minta. "Oh, macet lagi ATM-nya, Pak?" katanya. Saya mengiyakan. "Memang di sini ini sering macet, Pak," kata YY. "Oh, gitu ya?" saya menyahut sambil mengamati wajahnya. "Iya, Pak. Tapi gampang kok, Bapak telepon saja ke sini," katanya seraya menunjukkan pada sebuah stiker biru dengan tulisan putih berlogo BCA yang ditempel di bagian bawah layar monitor ATM.

Di situ tertera nomor telepon (0542) 7078848. "Lho? Kenapa bukan nomor 021 500888, nomor Halo BCA yang di atas itu?" kata saya sambil menoleh ke arah stiker nomor telepon Call Center BCA yang ditempel di sebelah atas layar monitor ATM.   

"Ya, betul Pak, tapi sering susah dihubungi, telepon Jakarta sering sinyalnya lemah. Kalau yang nomor Balikpapan ini bisa cepat, Pak," kata YY berusaha meyakinkan. "Ok, satu lagi 'kutu busuk'," saya membatin.

Belum tampak tanda-tanda YY akan ke luar bilik, lalu saya menelepon ke nomor "dewa penolong" tadi. Begitu melihat saya menelepon, YY kemudian ke luar bilik, dan diam-diam saya mengamati dari balik kaca, YY rupanya masuk ke bilik sebelah, bilik ATM Mandiri.

Masih memegang telepon, dari seberang sana terdengar suara lelaki berlogat Melayu "Selamat sore, Halo BCA, apa yang bisa kami bantu, Pak?" kata QQ -kita sebut saja begitu. Saya menceritakan "musibah" yang saya alami. "Wah, bagaimana ceritanya kartu ATM Bapak bisa tertahan?" kata QQ. Saya ceritakan kronologi "tertelannya" kartu ATM saya itu.

"GANGGUAN SINYAL"
Lewat percakapan di telepon itu QQ kemudian meminta saya untuk menekan tombol angka 7 sebanyak dua kali lalu angka 9 juga dua kali, kemudian menekan tombol Enter. "Sudah bisa keluar, Bapak?"  tanyanya. Tentu saja belum.

Selanjutnya percakapan via telepon saya dengan QQ sebagai berikut:
QQ: "Nah, sekarang Bapak tekan angka 7 dua kali, angka 8 dua kali, lalu Enter," Saya berbuat seolah-olah menuruti panduan "petugas bank" ini.
QQ: "Bagaimana, Pak? Sudah bisa dikeluarkan kartunya?"
Saya: "Belum juga, nih,"
Sejurus tak ada suara QQ, hanya terdengar ketukan-ketukan seperti seseorang yang tengah menekan sejumlah tombol.
QQ: "Wah, maaf, Pak, sinyal dan magnetik mesin ATM di situ sering lemah, bahkan saat ini sinyal sedang terkena gangguan frekuensi radio dan radar yang ada di bandara, sehingga kami juga mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kartu Bapak secara digital. Tapi masih ada cara lain, secara manual, tapi mohon maaf, Pak. Sekali lagi mohon maaf, kami terpaksa menanyakan nomor PIN kartu Bapak agar kami bisa melakukan secara manual,"
Saya: "Eh, kenapa harus menyebut nomor PIN? Bukankah itu terlarang?"
QQ: "Ya, betul terlarang, Pak. Karena itulah sekali lagi kami mohon maaf, karena cuma cara manual saja yang bisa kami lakukan. Tapi terserah Bapak, dan jangan panik, Pak ya, kami akan bantu mengeluarkan kartu Bapak,"
Saya: "Ah, terserahlah, biar saya cabut sendiri," (Tentu saja saya hanya menggertak).
QQ: "Wah, jangan dipaksa cabut, Pak, nanti kartunya tergores atau rusak,"
Saya: "Jadi? Bagaimana, dong, supaya kartu itu bisa dikeluarkan?"
QQ: "Sebentar, Pak, tunggu dulu, karena kami harus menerima telepon masuk lainnya, tapi telepon Bapak tidak usah ditutup," (Dari gagang telepon terdengar suara QQ sedang menerima panggilan telepon lainnya).
QQ: "Halo, bagaimana, Pak? Kami masih harus melayani telepon pengaduan lainnya,"
Saya: "Ok, nomor PIN saya 030994,"
QQ: "Baik, Pak. Coba ulang sekali lagi," (Saya menyebutkan lagi nomor tadi.)
QQ: "Nah, sekarang nama ibu kandung Bapak siapa? Sebutkan, Pak" (Saya menyebutkan nama orang lain).
QQ: "Nah, sekarang Bapak buat PIN baru, tidak usah disebutkan, tekan Enter, terus ulangi nomor PIN baru tadi, Pak ya," (Saya mengetuk keras-keras tombol angka di ATM agar terdengar seolah sedang membuat nomor PIN baru),
Saya: "Sekarang bagaimana?"
QQ: "Coba Bapak gunakan PIN yang baru," (Saya kembali mengetuk-ngetuk tombol angka.)
Saya:"Tetap tak bisa keluar,"
QQ: "Maaf, Pak, sekali lagi mohon maaf, kartu Bapak sudah terblokir. Apa boleh buat hari Senin Bapak ke kantor kami, BCA di Pasar Baru, Pak ya"
Saya: "Baik, terima kasih telah berusaha menolong saya,"
QQ: "Sama-sama, Pak,"

Halaman
12
Editor: Fransina Luhukay
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved