Kenangan Bersama Jembatan KUkar

Debu Tebal Beterbangan ke Langit

Kami sekeluarga menyantap makanan ala kadarnya yang dijajakan pedagang di tepian Sungai Mahakam.

Oleh: H Syahbudin Noor Acang
Warga Tenggarong, pendiri Yayasan  Darur Rahim


DAHULU sekitar sepuluh tahun yang lalu saat saya masih bekerja di Samarinda, sangat besar jasanya jembatan Mahakam II Kutai Kartanegara buat saya. Karena setiap harinya, aktivitas keseharian pekerjaan saya di salah satu perusahaan batu bara yang harus pulang pergi Tenggarong-Samarinda, sangatlah bergantung dengan jembatan kebanggaan warga Kutai Kartanegara ini.

Tidak  lain tidak bukan, saya melalui jembatan ini untuk memperpendek jarak tempuh. Bukan hanya saya, tapi saya sangat yakin Jembatan Mahakam II itu memiliki peran yang vital, khususnya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Kalau dulu bila berkendara roda empat menuju Tenggarong, harus menempuh jarak yang jauh melalui jalan di Loa Kulu.

Selepas Jembatan Mahakam II diresmikan, perekonomian masyarakat Tenggarong kian tumbuh. Selain dari sisi ekonomi, jembatan yang dibentuk menyerupai Jembatan Golden Gate yang berada di Amerika Serikat. Memang, setahu saya, Pemerintah Kabupaten Kukar saat itu yang masih dipimpin Pak Syaukani, menginginkan agar Kaltim juga punya Golden Gate.

Alhasil, tak hanya dari sisi ekonomi, Jembatan Mahakam II Kutai Kartanegara juga menjadi kebanggaan warga Kukar, khususnya orang Tenggarong seperti saya. Terkadang saat waktu libur, saya dan keluarga mengunjungi jembatan itu di malam hari, hanya sekadar mencari pemandangan yang indah.

Sembari melepas penat dengan menikmati indahnya sinar lampu dari jembatan, kami sekeluarga menyantap makanan ala kadarnya yang dijajakan pedagang di tepian Sungai Mahakam. Sungguh kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidup saya. Bukan hanya saya dan keluarga, warga Kukar dan banyak turis lokal maupun asing juga mengagumi Jembatan Mahakam II ini. Merekam aktivitas mereka di sekitar jembatan melalui video ataupun kamera.

Sebelum jembatan kebanggaan saya itu runtuh, rasa-rasanya sudah hampir satu bulan saya tak pernah melewatinya. Maklum, kesibukan saya di Balikpapan memaksa saya harus menetap di sana. Namun Sabtu 26 November 2011 saat jembatan itu runtuh, saya tengah berada di Tenggarong. Minimal setiap bulan, dari Balikpapan-Samarinda lalu melalui Jembatan Mahakam II, saya pergi ke Tenggarong.

Selain membesuk orangtua yang tinggal di Kelurahan Mangkurawang, saya juga memiliki aktivitas rutin menggelar pengajian di Makam Habib Muhammad bin Ali bin Hasan bin Thoha bin Yahya yang memiliki gelar Pangeran Noto Igomo. Pengajian ini digagas Yayasan Darur Rahim yang saya dirikan bersama kawan-kawan ulama dan tokoh masyarakat di Tenggarong. Pengajian kali ini spesial, untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram yang jatuh pada keesokan harinya.

Selepas pengajian dan sholat Dzuhur, sekitar pukul 14.00 saya sempat menyeberangi Jembatan Mahakam II untuk mengisi bensin lantaran dua SPBU Tenggarong yang saya datangi sudah kehabisan premium. Saat melintas, saya merasakan keanehan pada jembatan. Mobil saya terasa miring. Tapi dalam hati saya berpikir, ah mungkin ini hanya perasaan saya. Saya pun memacu mobil, menuju Masjid Sultan Sulaiman Tenggarong.

Setelah membaca doa akhir tahun, sekitar pukul 16.00 saya lalu pulang ke rumah di Jalan Maduningrat. Di perjalanan saya melintasi Makam Kelambu Kuning dan Jalan Patin. Saat di lampu merah simpang tiga Kantor KPU Kukar, saya mendengar suara gemuruh yang begitu keras. Seketika saya melihat banyak orang berlarian sembari berteriak, "Jembatan runtuh".

Hati saya pun berdetup kencang. Saya pun ikut berlari mendekati tepian Sungai Mahakam, menyaksikan runtuhnya ikon kebanggaan warga Kota Tenggarong. Pondasi dan kawat baja yang lepas dan menghantam tanah, menimbulkan debu yang tebal beterbangan ke langit. Allahuakbar, ucapku dalam hati. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Jembatan yang kokoh itu hancur dalam hitungan detik.

Saya lalu melihat banyak mobil dan motor yang tengah berada di atas jembatan, ikut masuk ke dalam sungai. Saya sedih, membayangkan nasib korban. Semoga saja mereka bisa selamat. Mereka tidak seberuntung saya, yang baru beberapa waktu lalu sempat melewati jembatan tersebut. Rupanya mobil miring itu bukan perasaan saya, melainkan pertanda bahwa pondasi jembatan melemah. Alhamdulillah, Allah SWT menyelamatkan saya dari maut.

Keesokan harinya, Minggu 27 November 2001, tepat 1 Muharam 1433 H, kami dari Yayasan Pendidikan dan Dakwah Darur Rahim mengadakan ziarah ke makam Sultan Sulaiman yang berada di samping Musium Tenggarong. Sebagai wujud syukur kepada Allah, juga sekaligus kami mengirimkan doa untuk korban musibah runtuhnya Jembatan Tenggarong, untuk para keluarga yang ditinggalkan agar tabah, serta kekuatan untuk tim penolong yang masih melakukan evakuasi dan pencarian korban sampai detik ini.

Membaca Koran Tribun Kaltim kemarin, Bupati Kukar Rita Widyasari hendak membangun kembali jembatan di kawasan Loa Kulu. Tentu ini kabar gembira untuk semua masyarakat Tenggarong dan Kukar secara luas. Pesan saya, pembangunan jembatan baru hendaknya diperhitungkan dengan perhitungan yang tepat dan serahkan pada yang ahli.

Kelak kalah jembatan ini jadi, hendaklah dibuat tempat ibadah di sekitarnya seperti masjid, atau mushola. Karena Kota Tenggarong adalah kota para aulia, para ulama, dan wali-wali. Bencana yang datang ini adalah peringatan dari Allah SWT. Diharapkan masyarakat Kukar bisa menyadari hal ini, untuk menjadi koreksi bagi kita semua. Berhentilah saling menyalahkan, marilah kita menjaga agar musibah ini tak terulang, dengan melaksanakan perintah Allah. (*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved