Analisa Runtuhnya Jembatan Kukar

Jarak Konstruksi Jembatan dan Jalan Terus Melebar

Semakin panjang jarak bentang yang tidak ditopang oleh pilar, penyaluran beban akan tidak bisa terdistribusi dengan baik.

SEBELUMNYA saya mengucapkan turut berduka cita kepada seluruh masyarakat dan pemerintah Kaltim dan khususnya Kutai Kartenegara atas musibah runtuhnya jembatan kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara pada Sabtu, 26 November 2011.

Secara  pribadi, saya memiliki banyak kenangan dengan jembatan ini walau saya belum begitu lama menginjakkan kaki di Kalimantan Timur. Tahun 2004 saat saya pertama kali menginjakkan kaki di bumi Etam, hal pertama yang ingin saya lihat adalah Sungai Mahakam dengan Jembatan Mahakam dan Jembatan Ing Martadipuranya.

Rasa penasaran saya timbul karena dari cerita yang saya dengar dari keluarga perantau Bugis, sungai dan kedua jembatan ini begitu sangat terkenal dan selalu menjadi topik pembicaraan setiap orang yang pernah berkunjung ke bumi Etam ini.

Dan menurut mereka lagi, anda tidak akan lengkap berkunjung ke Kalimantan Timur bila belum melihat sungai Mahakam dan kedua jembatan tersebut. Bahkan menurut cerita, apabila anda sudah meminum air sungai Mahakam maka anda akan selalu ingin kembali lagi ke bumi Etam ini.

Cerita yang menurut saya ada benarnya karena terbukti ketika saya datang pertama kali tahun 2004 dan sempat kembali lagi ke kampung halaman, pada akhirnya kembali lagi tahun 2007 dan 2009 sampai sekarang.

Kenangan saya dengan Jembatan Ing Martadipura Kutai Kartanegara sangat banyak karena dari tahun 2009 sampai april 2011 saya banyak menghabiskan waktu di Loa Ipuh bersama adik saya yang bersuamikan pekerja tambang di Cipta Kridatama, dan tinggal hampir bertetangga dengan wakil bupati sekarang di Maluhu.

Selain itu, pekerjaan saya di Samarinda mengharuskan saya bolak balik melewati Golden Gate ini hampir setiap pagi dan sore bahkan malam. Pemandangan ketika malam jauh lebih indah karena lampu-lampunya yang bisa kelihatan dari jauh yang menandakan kalau kita sudah dekat dan akan memasuki Tenggarong.

Kenangan saya yang lainnya, hampir setiap sore di hari sabtu dan minggu saya selalu menyempatkan diri datang dan duduk di tepian sungai dekat jembatan ini sambil menikmati es rumput laut dan gorengan. Terkadang juga saya datang bersama ponakan dan adik untuk mengajari ponakan merangkak dan berjalan di bundaran taman dekat jembatan.

Dan masih banyak kenangan lainnya yang tak dapat saya lupakan sebagaimana saya tidak bisa melupakan adik saya yang meninggal beberapa bulan yang lalu yang membuat saya harus meninggalkan Kutai Kartanegara dan pindah ke Samarinda.

Analisa Penyebab Runtuhnya Jembatan
Beberapa hari ini saya sudah banyak mendengar dan membaca berbagai spekulasi analisa penyebab keruntuhan jembatan agung ini. Ada yang menganalisa secara teknikal, konstruksi dan bahkan ada yang menganalisa secara feng shui dan mistik. Bagi saya, yang besar di Muhammadiyah Sul-Sel dan sempat mengecap pendidikan berbasis teknik Perkapalan di Universitas Hasanuddin, semua analisa yang berbasis teknikal dan konstruksi yang telah dipaparkan oleh penulis baik di media lokal maupun nasional adalah benar.

Halaman
123
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved