Fotografi sebagai Hasil Karya Seni Rupa

Fotografi dapat menghasilkan gambar yang sama dengan obyeknya. Sehingga menyampaikan pesan kepada penikmatnya.

Oleh: Effendi Alamri

FOTOGRAFI adalah aktifitas manusia untuk menghasilkan sebuah karya dengan dibantu peralatan yang disebut kamera foto. Fotografi dapat menghasilkan gambar yang sama dengan obyek sebenarnya. Sehingga hasil foto dapat dengan segera menyampaikan pesan kepada penikmatnya.

Selain sebagai hobi (kesenangan), fotografi menjadi kebutuhan yang dipergunakan diberbagai bidang pekerjaan. Misalnya: fashion, advertising, percetakan, perumahan, industri, perkebunan, pertanian, tambang dan dokumentasi untuk kegiatan-kegiatan tertentu.

Pesan yang disampaikan dalam suatu hasil karya fotografi dapat langsung dinikmati. Perasaan sedih, gembira, haru, atau tentang pemberitaan (jurnalistik) dan perkembangan ilmu pengetahuan alam. Pada akhirnya seorang fotografer dapat membedakan tujuan pekerjaannya.

Kamera yang dipergunakan untuk menghasilkan foto juga dengan mudah kita dapatkan. Bermula dengan kamera ponsel, mulai dari anak-anak sudah dapat mengabadikan berbagai moment. Saat ini banyak pula toko toko kamera yang menjual kamera foto setara dengan harga ponsel. Apakah dengan demikian sebuah karya fotografi menjadi sesuatu yang murahan? Murahan karena terlalu mudah dihasilkan tentu saja tidak bijak.

Bisa saja  sebuah foto memiliki nilai tinggi meskipun dihasilkan dari kamera sederhana, tentu karena ada makna yang terkandung di dalamnya. Seperti "human interest" atau suatu kejadian yang tak mungkin terulang lagi (moment). Namun hasil foto bisa menjadi lebih memuaskan apabila segala sesuatunya dipersiapkan secara professional. Apalagi fotografi statis seperti pada salon-salon foto, apabila tidak ditunjang dengan tata pencahayaan buatan yang baik dengan pertimbangan latar (back ground) tentu tak akan menghasilkan karya yang baik.

Keberadaan kamera foto telah mengalami beberapa perubahan hingga ke era digital seperti yang banyak dipakai saat ini. Tak perlu lagi membeli film dan mencetaknya di lab foto. Kita dapat dengan mudah mencetak sendiri dengan memindai hasil foto ke komputer dan dicetak pakai printer. Begitu mudahnya, sampai fotografer pemula tak perlu lagi mengenal yang namanya; kamar gelap, anlarger, dan perangkat lainnya.

Begitu pula bukaan diafragma dan perbandingannya menggunakan kecepatan bukaan rana serta ASA pada kamera. Semua sudah terkomulasi pada kecanggihan teknologi serba otomatis masa kini yang sangat memanjakan pemakainya.

Jadi apalagi yang perlu dibahas dalam perbincangan fotografi ? Ternyata tidak semua tahu bahwa fotografi memiliki berbagai unsur yang sama dengan hasil karya seni rupa lainnya. Di dalam sebuah hasil karya foto selalu terdapat unsur warna, bentuk, garis, balans (keseimbangan), tekstur (permukaan), emphasis (pusat perhatian), ritme (pengulangan) hingga mencapai sesuatu yang dapat dinikmati.

Semua dimulai dari tata letak. Ketika lensa mengarah pada obyek bidikan, dimana kita harus menempatkannya pada frame (bingkai). Bisa di tengah, di sisi kiri atau kanan, lalu mulalilah mempertimbangkan unsur-unsur seni tadi. Setelah kamera di klik, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hasil dengan cara croping, copy paste berkali-kali, menambah ketajaman dan perbuatan efek lainya sesuai dengan tujuan hasil akhir yang dikehendaki.

Begitu leluasanya berkreasi melalui media fotografi. Tanpa harus mengasah ketrampilan psikomotorik yang dimulai dari ide dilanjutkan dengan garis-garis hingga terbentuk lalu dipoles warna dengan menggunakan berbagai media yang disesuaikan teknik penggarapannya.  Begitulah fotografi, teknologi yang membutuhkan sentuhan seni untuk memperoleh hasil yang memuaskan. (*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved