Leader is Reader (2-Habis)

Jangan Lupakan Warga Perbatasan

PNS sangat santai bekerja, jumlah pegawai melebihi kuota dan birokrasi di semua kedinasan yang berbelit-belit.

Jangan Lupakan Warga Perbatasan
istimewa
Bambang Prayitno
Oleh: Bambang Prayitno, Tenggarong
- Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Perencanaan Sosial (PKPS) Kaltim
- Mantan Ketua KAMMI Kalimantan

SEHARUSNYA sekarang ini, Pemprov Kaltim dan tim yang bekerja membuat anggaran, bisa membuat analisa dan prioritas program, karena seingat saya, setidaknya gubernur sekarang adalah orang yang pernah mengakses data survei tersebut.

LALU, jika ternyata naiknya anggaran tidak berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan publik, Siapa pihak pertama yg menikmati kenaikan ini? Ya tentu saja Pegawai Negeri Sipil. Abteenar yang selama ini mengelola pemerintahan.
Diakui atau tidak, PNS mendapatkan tunjangan yang sangat "wah".

Operasionalisasi kerja dan perjalanan dinas mereka memang begitu memanjakan. Setiap tahun, gaji naik sebesar 10 persen. Mereka juga mendapatkan tunjangan ini itu yang membuat mata rakyat sembab.


Tapi menurut saya semua itu tidak masalah, asalkan efesiensi dan efektivitas kerja pegawai ditingkatkan. sangat banyak kita jumpai, PNS sangat santai bekerja, jumlah pegawai yang melebihi kuota di sebuah pekerjaan, birokrasi di semua kedinasan yang berbelit-belit dan watak birokrasi yang abteenar yang seperti bangsawan/ningrat yang membuat kerja pelayanan PNS menjadi tak terukur. Harus ada perombakan sistem, birokrasi, budaya kerja dan pengawasan.

Tapi, cerita kenaikan APBD Kaltim tahun 2012 ini harus juga diisi oleh lembar kesedihan masyarakat pedalaman dan dan perbatasan. Sejak APBD Kaltim Tahun 2010 selalu digaungkan oleh banyak pihak. Gubernur, tolong perbatasan diperhatikan! Begitu terus menerus. Tapi selalu saja tersisih prioritasnya di finalisasi anggaran. Padahal, warga pedalaman harusnya sekarang ini menjadi kelompok yang mendapatkan perhatian lebih dari DPRD dan Pemprov.

Mereka bergumul oleh persoalan besar menuju dunia global; buta huruf, shocking budaya karena derasnya informasi, menjadi alat kapital untuk melegalkan pengerukan SDA tanah leluhur mereka dengan leluasa, dan mahalnya biaya hidup karena tersendatnya jalan penghubung. Mereka bisa menjadi bom waktu yang bisa meledakkan diri sewaktu-waktu.  Karena problem ketidakadilan.

Dalam sebuah Uji Materi Policy Paper "Pencegahan Konflik di Indonesia" yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Politik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerjasama dengan BAPPENAS, tanggal 15-21 November di Kaltim, dimana saya menjadi peneliti lokalnya, kami menemukan bahwa penyebab konflik di Indonesia (termasuk di Kaltim) ada 7 hal. Dan 4 di antaranya, karena; ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum (hukum adat yang kadang vis a vis dengan hukum formal), perebutan SDA dan patologi birokrasi. 4 dari 7 penyebab konflik itu laten berada sehari-hari di antara kehidupan masyarakat adat dan pedalaman. Pemimpin (Pemprov dan DPRD) Kaltim harus belajar cerdas membaca masalah ini.

Menutup pembicaraan ini itu tentang kenaikan APBD Kaltim tahun 2012, saya ingin bercerita tentang cerita dua hal. Yang pertama; cerita tentang Umar Ibn Khattab ra. Umar merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang dikenal banyak memberikan pengaruh pada dunia kepemimpinan profetik di banyak perusahaan dan birokrasi. Umar mempunyai kebiasaan yang unik yang bisa menjadi tradisi kepemimpinan Pemprov dan DPRD di Kaltim. Umar di hampir setiap malam selalu menyamar dan keluar ke semua pelosok daerah nya dan mendengarkan jeritan terdalam suara hati rakyatnya. Tapi saya bukan menyarankan hendak Gubernur untuk menyamar seperti Umar.

Karena disamping fisik yang mudah dikenali, gubernur bukan tipe orang yang mau diam jika berada di tengah-tengah rakyat. Cukuplah buat sebuah mekanisme penyerapan aspirasi rakyat yang non-formal yang benar-benar menjangkau isi hati tersembunyi yang jika dilakukan dengan cara-cara formal, suara itu tak pernah muncul. Coba, buatlah, dan berpikirlah, rencana besar apa yang akan kita perbuat berdasarkan suara rakyat itu.

Cerita yang kedua, adalah cerita tentang Willie Stark. Willie stark adalah nama orang yang ada di film "All The King's Men". Dalam film itu, Willie adalah seorang pejuang hak-hak warga yang sangat kharismatik dan disukai rakyat, yang kemudian naik jenjang dan menjadi gubernur di sebuah wilayah.
Tapi, kemudian sikap Stark berubah setelah menjadi gubernur. Ia yang dulu mempunyai mimpi-mimpi besar untuk rakyat tak lagi berpikir untuk berjuang dan lupa "membaca" hati rakyat. Lalu ia "jatuh" dari singgasananya. Ia jatuh karena lupa membaca. Ingat; "setiap pemimpin adalah pembaca"(Anonymous). Janganlah pernah lupa membaca. Agar jalan tak pernah salah arah. (*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved