Kamis, 5 Maret 2015

Kota Balikpapan di Persimpangan Jalan

Senin, 19 Desember 2011 14:14 WITA

Untuk kepentingan penataan kota yang lebih baik, beberapa kawasan akhirnya bisa direlokasi ke wilayah-wilayah baru. Pemangku kota menganggap kawasan seperti ini sama dengan pasar-pasar  tradisonal yang dianggap kumuh, jelek, dan becek, mengotori dan menodai wajah kota yang bersih.

Kawasan dibelakang terminal BP adalah salah satu kawasan yang membuat sakit kota Balikpapan.  Sakitnya parah, selama ini wajahnya selalu tertutupi dengan gemerlap toko-toko, pusat perbelanjaan dan mal di sekitarnya. Rumah-rumah yang berhimpitan, dan berdesakan tumbuh seperti tanaman menjalar horizontal mengarah kepantai dan kemana saja, dan melanggar aturan-aturan tentang tata kota tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Blok-blok rumah horizontal itu tumbuh diatas tanah rawa yang tidak bersurat resmi. Blok-blok pemukiman hanya dilayani jalan-jalan kayu ulin selebar 1-2 meter berkelok-kelok sepanjang hingga ratusan meter. Jalan sempit ini juga yang akhirnya menyulitkan mobil pemadam kebakaran masuk mengiterupsi nyala api dari jarak yang paling dekat.

Fire hydran? tidak bisa diadakan, selain akan mudah hilang dan dicuri, kebakaran adalah kejadian langka dalam satu kawasan, sekali dalam seumur hidup, tetapi sekali terjadi akan meluluhlantakkan harta benda yang dicari seumur hidup. Salah satu biang keladi terjadinya kebakaran, karena tidak ada data yang jelas tentang bahan dan material listrik yang digunakan untuk instalasi masing-masing rumah itu.

Barangkali hal yang paling menyenangkan dikawasan tersebut adalah kecenderungan penghuni kawasan yang guyub dan ramah. Setiap warga dalam satu RT akan dengan mudah saling mengenal satu sama lain. Wajah-wajah ceria dan bangga satu sama lain mudah kita dapatkan. Tidak semua kawasan baru akan bisa menciptakan kondisi yang ramah sepeti itu.

Sebagian besar penghuninya merupakan pekerja, karyawan, buruh harian, dan pelaku-pelaku kota yang tidak ada dipermukaan kota, mungkin sesekali diajak muncul mengapung-apung bersama perahu politik menjelang pilkada, jumlah mereka sangat banyak dan mudah diajak berlayar kemana-mana, nakhodanya tidak perlu jelas siapa dan mengapa. Mereka banyak tapi tidak selalu dibutuhkan.

Masalah sesungguhnya pasca kebakaran adalah mengembalikan budaya paternalistik dan mengobati kondisi psikologis masyarakat yang akrab dan tidak berjarak satu sama lain sesegera mungkin. Ciri masyarakat Balikpapan yang ramah, tumbuhnya dari kawasan-kawasan padat seperti ini.

Halaman12
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About us

Help

Atas