Senin, 20 April 2015

Menyelamatkan Hutan, Orangutan, dan Bumi Kita

Senin, 19 Desember 2011 14:01

Menyelamatkan Hutan, Orangutan, dan Bumi Kita
tribun kaltim/niko ruru
Ishak Yassir

BEBERAPA bulan ini, pemberitaan mengenai 'pembantaian' orangutan di salah satu perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Timur menjadi topik hangat dan menjadi pusat perhatian baik di tingkat nasional maupun Internasional.

SUNGGUH
sangat ironis, orangutan sebagai binatang yang secara hukum dilindungi, yang seharusnya memperoleh perlindungan baik habitat, populasi maupun individunya, justru dimusuhi dan atau dibunuh. Konflik antara orangutan dan manusia di kawasan perkebunan sawit, tambang batu bara, hutan tanaman bahkan di kebun masyarakat potensial akan terus berlanjut di Kalimantan Timur, seiring dengan perubahan penutupan lahan dari hutan menjadi lahan budidaya.

Perlu upaya konkrit dan solusi nyata, baik yang bersifat pencegahan maupun tindakan penyelamatan (preventive ataupun curative) di lapangan.

Secara ilmiah, orangutan diyakini sebagai salah satu penjaga dan pembentuk keseimbangan ekosistem serta penciri dari struktur keanekaragaman hayati hutan tropis berkualitas tinggi. Sungguh memprihatinkan, karena dalam kenyataan di lapangan keberadaan mereka, khususnya di kawasan perkebunan sawit dan hutan tanaman tak lebih dianggap sebagai hewan pengganggu atau hama.

Pola adaptasi orangutan untuk mencoba bertahan hidup dengan cara menyesuaikan pola makan dan tingkah laku di saat habitat aslinya semakin rusak, sempit dan tergusur oleh beberapa aktivitas manusia ternyata menimbulkan konflik dengan manusia.

Kasus pengusiran dan pembunuhan orangutan baru-baru ini menjadi sebuah fakta bahwa ada masalah di lapangan berkaitan dengan pemanfaatan ruang dan tata kelola kawasan-kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi baik di dalam maupun di sekitar kawasan perkebunan tersebut. Pendekatan penyediaan kawasan konservasi dalam bentuk cagar alam dan suaka margasatwa serta taman nasional ternyata belum cukup untuk menampung kelimpahan populasi fauna yang dilindungi.

Keberadaan suaka-suaka itu kini bagai pulau-pulau yang terpisah dengan lingkungannya.Fakta ini juga mendorong kita untukberfikir jernih dan memberikan solusi jangka panjang. Perlu diketahui, menurut data dari Dinas Perkebunan Kaltim, luas tanaman kelapa sawit saat ini baru sekitar 20 persen dari total luasan izin lokasi kepada lebih dari 300 perusahaan.

Jika mengacu pada semangat Kaltim Green, maka ke depan pembangunan kebun kelapa sawit harus selalu memperhatikan asas kelestarian dan ramah lingkungan. Beberapa tindakan pencegahan kedepan yang harus dilakukan sebelum dilakukan pembangunan perkebunan sawit misalnya dengan melakukan kajian apakah merupakan habitat asli atau terdapat orangutan ataupun satwa liar lainnya yang dilindungi.

Halaman123
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About us Help
Atas