A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Menyelamatkan Hutan, Orangutan, dan Bumi Kita - Tribun Kaltim
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 31 Juli 2014
Tribun Kaltim

Tribunners / Citizen Journalism

Menyelamatkan Hutan, Orangutan, dan Bumi Kita

Senin, 19 Desember 2011 14:01 WIB
Menyelamatkan Hutan, Orangutan, dan Bumi Kita
tribun kaltim/niko ruru
Ishak Yassir
Oleh: Ishak Yassir    
Pegiat Lingkungan Samboja -Balitek KSDA-Samboja

BEBERAPA bulan ini, pemberitaan mengenai 'pembantaian' orangutan di salah satu perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Timur menjadi topik hangat dan menjadi pusat perhatian baik di tingkat nasional maupun Internasional.

SUNGGUH
sangat ironis, orangutan sebagai binatang yang secara hukum dilindungi, yang seharusnya memperoleh perlindungan baik habitat, populasi maupun individunya, justru dimusuhi dan atau dibunuh. Konflik antara orangutan dan manusia di kawasan perkebunan sawit, tambang batu bara, hutan tanaman bahkan di kebun masyarakat potensial akan terus berlanjut di Kalimantan Timur, seiring dengan perubahan penutupan lahan dari hutan menjadi lahan budidaya.

Perlu upaya konkrit dan solusi nyata, baik yang bersifat pencegahan maupun tindakan penyelamatan (preventive ataupun curative) di lapangan.

Secara ilmiah, orangutan diyakini sebagai salah satu penjaga dan pembentuk keseimbangan ekosistem serta penciri dari struktur keanekaragaman hayati hutan tropis berkualitas tinggi. Sungguh memprihatinkan, karena dalam kenyataan di lapangan keberadaan mereka, khususnya di kawasan perkebunan sawit dan hutan tanaman tak lebih dianggap sebagai hewan pengganggu atau hama.

Pola adaptasi orangutan untuk mencoba bertahan hidup dengan cara menyesuaikan pola makan dan tingkah laku di saat habitat aslinya semakin rusak, sempit dan tergusur oleh beberapa aktivitas manusia ternyata menimbulkan konflik dengan manusia.

Kasus pengusiran dan pembunuhan orangutan baru-baru ini menjadi sebuah fakta bahwa ada masalah di lapangan berkaitan dengan pemanfaatan ruang dan tata kelola kawasan-kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi baik di dalam maupun di sekitar kawasan perkebunan tersebut. Pendekatan penyediaan kawasan konservasi dalam bentuk cagar alam dan suaka margasatwa serta taman nasional ternyata belum cukup untuk menampung kelimpahan populasi fauna yang dilindungi.

Keberadaan suaka-suaka itu kini bagai pulau-pulau yang terpisah dengan lingkungannya.Fakta ini juga mendorong kita untukberfikir jernih dan memberikan solusi jangka panjang. Perlu diketahui, menurut data dari Dinas Perkebunan Kaltim, luas tanaman kelapa sawit saat ini baru sekitar 20 persen dari total luasan izin lokasi kepada lebih dari 300 perusahaan.

Jika mengacu pada semangat Kaltim Green, maka ke depan pembangunan kebun kelapa sawit harus selalu memperhatikan asas kelestarian dan ramah lingkungan. Beberapa tindakan pencegahan kedepan yang harus dilakukan sebelum dilakukan pembangunan perkebunan sawit misalnya dengan melakukan kajian apakah merupakan habitat asli atau terdapat orangutan ataupun satwa liar lainnya yang dilindungi.

Kajian tersebut sering disebut penilaian kawasan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF). Tindakan pencegahan lainnya adalah melakukan kajian apakahperkebunan sawit nantinya jika dibangun tidak memberikan dampak pada kerusakan habitat satwa dilindungi yang terlebih dulu hidup di wilayah itu. Kajian ini sangat penting dilakukan sebagai informasi dasar didalam perencanaan pembangunan sawit yang berkelanjutan.Pembangunan koridor satwa di sepanjang tepi sungai dan yang menghubungkan dengan suaka alam atau cagar alam di sekitarnya merupakan langkah yang dapat dilakukan dalam perencanaan pembangunan kebun sawit berkelanjutan.

Sedangkan untuk tindakan penyelamatan yang mendesak dilakukan sekarang diantaranya adalah membangun koridor bagi orangutan dan satwa liar lainnya dengan manajemen kolaboratif dan berbasis bentang alam.

Fungsi koridor tersebut diharapkan mampu dimanfaatkan orangutan dan satwaliar lainnya berpindah ke tempat lain, sesuai kesediaan pakan di setiap habitatnya ataupun penyedia daerah baru didalam menopang kehidupannya.Inisiatif pembangunan koridor dengan manajemen kolaboratif menjadi penting mengingat pembuatan atau pembanguan koridor akan melibatkan kawasan lainnya di luar kemampuan manajemen unit yang melibatkan kewenangan dari masing-masing pemangku kepentingan.

Inisiatif dari para pemangku kepentingan seperti unit manajemen, pemerintah, LSM ataupun lembaga penelitian untuk menginisiasi wacana dan desain bersama sangat diperlukan didalam proses pembangunan koridor ini.

Selain itu, merestorasi (memperkaya habitat asli), membangun daerah penyangga misalnya jalur hijau dengan tanaman yang disukai oleh orang utan, misalnya salak, mengelola kawasan yang bernilai konservasi tinggi serta melakukan supervisi yang tepat dan ketat serta bertanggung jawab oleh pemerintah khususnya berkaitan dengan pengelolaan kawasan-kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi di dalam unit manajemen maupun di luar manajemen unit seperti pengelolaan sempadan sungai ataupun areal lainnya yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Langkah penyelamatan yang terakhir adalah melakukan translokasi atau relokasi. Langkah ini hendaknya diambil dalam kondisi terpaksa karena ketiadaan alternatif lainserta hanya dilakukan setelah berkonsultasi dan mendapat persetujuan dari instansi yang memiliki kewenangan seperti BKSDA dan LIPI.

Tindakan translokasi misalnya, dengan memindahkan beberapa orangutan yang terisolasi di dalam kawasan perkebunan ke habitat aslinya (misalnya TN Kutai) ataupun memindahkannya ke areal lain yang ditunjuk sebagai habitat baru mereka (misalnya di areal PT. RHOI (Restorasi Habitat Orangutan Indonesia) seluas 86.450 ha yang terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur).

Orangutanku sayang, orangutanku malang. Memang engkau tidak dapat berbicara layaknya manusia. Engkau tidak dapat pula melakukan protes atau berdemo layaknya manusia di saat hak hidupmu dirampas. Semoga dengan adanya permasalahan ini akan membawa hikmah kedepandimana eksistensimu sebagai penyeimbang ekosistem semakin diakui dan diperhatikan. Semoga pula tumbuh kesadaran dan pemahaman kepada kita semua bahwa menjaga dan menyelamatkan hutan bukan semata-mata hanya untuk menyelamatkan habitatmu ataupun satwaliar lainnya, akan tetapi untuk menyelamatkan umat manusia di dunia ini. Save the forest, Save the world. Salam Hijau. (*)
Editor: Fransina
Sumber: Tribun Kaltim
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas