A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Asinnya Garam Gunung Pa’ Nado - Tribun Kaltim
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Kaltim

Asinnya Garam Gunung Pa’ Nado

Senin, 30 Januari 2012 18:28 WIB
Asinnya Garam Gunung Pa’ Nado
tribun kaltim/niko ruru
Penjemuran garam gunung produksi Desa Pa’ Nado, Lokasi Long Midang, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan
TRIBUNKALTIM.co.id - Pa’ Nado merupakan salah satu desa di Lokasi (menghimpun beberapa desa) Long Midang, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan. Di kawasan yang termasuk dataran tinggi Borneo ini terdapat sumur garam yang sekaligus mementahkan anggapan, jika garam hanya berasal dari air laut. Ladang garam ini dikelola secara komunal.

Seorang pria berbadan kekar dengan senjata sumpit menempel dibibirnya sedang membidik buruannya. Sambil jongkok, ia terus mengamati seekor burung yang sedang bertengger di ranting salah satu pohon di pinggir sungai kecil. Sekali tiup, anak sumpit meluncur dan menancap di dada burung tersebut. Burung itupun jatuh tepat di sebuah kubangan berisi air yang jernih, hanya sekitar dua meter dari sungai.


Si pria inipun bergegas mendapatkan buruannya. Ia lalu membersihkan burung buruannya itu. Bulu dicabut dan isi perut dikeluarkan. Ia kemudian mencuci kembali burung hasil bidikannya dan memanggang di atas perapian. Begitu menyantap hasil panggangannya, pria itu merasa ada yang aneh.


Daging burung terasa asin, sementara ia sendiri tak pernah memberi garam. Iapun mencicipi rasa air kubangan dan ternyata asin. Itulah awal muasal ditemukannya sumber garam gunung Desa Pa’Nado seperti dikisahkan Seminar, salah seorang warga setempat.


Tak ada yang tahu persis, bilamana sumur itu mulai digunakan untuk memproduksi garam. “Ini sudah ratusan tahun, nenek-nenek kita dulu. Saya saja lahir tahun 1968, sumur ini sudah dikelola,” kata Seminar.


Tak ada kepemilikan pribadi terhadap alat produksi pengelolaan garam. Alat produksi dikelola secara komunal oleh seluruh penduduk desa khususnya warga suku Lundayeh. Setiap keluarga digilir untuk mengelola sumur garam. Di sana terdapat sekitar 400 keluarga yang secara bergantian mengelola sumur garam tersebut. Mereka yang mendapatkan giliran berhak mengelola sumur hingga selama dua pekan atau 14 hari. Selama itu keluarga dimaksud berhak atas seluruh hasil setelah dikeluarkan Rp1.000 untuk setiap satu kilogram penjualan garam. Uang yang disisihkan itu masuk ke kas desa.


Setiap harinya garam yang bisa diproduksi mencapai antara 15 sampai 20 kilogram, tergantung pada kayu yang digunakan untuk pembakaran. Di Pa’ Nado, garam itu dijual seharga Rp30.000 perkilogramnya. Sementara di Bandar Lawas, Malaysia, garam gunung Pa’ Nado yang sudah dikemas dengan berat kurang setengah kilogram dijual seharga 10 hingga 15 ringgit Malaysia dengan kurs satu ringgit sama dengan Rp2.900.


Di Long Bawan, garam yang dijual di pasaran dikemas dalam dua bentuk. Satu bentuk bubuk garam dalam plastik. Sementara bentuk lainnya garam batangan yang terbungkus daun. Namun soal rasa sama saja. “Di sini kita tidak perlu mencari pasaran. Karena pesanan sangat banyak. Bahkan kita tidak sanggup memenuhi pesanan. Karena mereka ini membelinya langsung sistem borong,” ujarnya.


Untuk menjangkau sumur garam Pa’ Nado, dari ibukota Kecamatan Krayan di Long Bawan, kita harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan roda empat. Lokasi sumur garam tak jauh dari perbatasan darat Indonesia dengan Ba Kelalan, Lawas, Negara Bagian Serawak, Malaysia. Dari Desa Long Midang, jalan menuju ke lokasi sumur garam sangat mulus karena sudah beraspal.


Tim Ekspedisi Tapal Batas Malaysia-Indonesia yang terdiri dari aktivis Gabungan Pemuda Pecinta Alam Borneo, wartawan Kompas, wartawan Tribun Kaltim dan wartawan Radio Maroni, yang berkunjung ke lokasi pembuatan garam gunung ini dibuat tercengang-cengang dengan proses pembuatan garam tersebut. Ada dua sumur garam dengan air berasa asin di sana.

Setiap sumur itu disekelilingnya dibeton agar tidak runtuh. Uniknya di sebelah sumur justru terdapat sungai yang airnya sama sekali tidak terasa asin.
Untuk proses memasak air garam, dilakukan dalam bangunan yang letaknya persis di sebelah sumur. Bangunan itu perawatannya selama ini mendapatkan bantuan dari Pemkab Nunukan.


Sumur ini diklaim bisa menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik daripada garam laut. Garam itu disebut-sebut berkhasiat untuk mencegah gondok karena kadar yodium yang tinggi. Saat memasak sayuran hijau, warna hijau pada daun tetap tampak. Berbeda dengan garam biasa yang membuat sayur menjadi layu. Selain itu, garam itu bisa mencegah makanan cepat basi dalam waktu yang lebih lama.


Untuk membuat garam gunung, terdapat dua tungku terpisah yang masing-masing tungku terdapat tiga tempat penampungan yang terbuat dari drum dibelah. Masing-masing bagian penampungan memiliki fungsi yang berbeda.

Penampungan pertama pada masing-masing tungku berfungsi untuk proses pengendapan lumpur. Di atas perapian, penampungan pertama di sebelah kiri dengan kapasitas 100 liter air ini, paling hanya menyisahkan air hingga 10 liter. Air yang sudah terpisah dengan endapan lumpur ini dipindahkan ke penampungan kedua disebelah kanan, masih untuk proses pemisahan dengan kotoran. Pada proses ketiga, air dipindahkan kepenampungan bagian tengah hingga menjadi garam. Dari 100 liter air, hanya menghasilkan dua kilogram garam. Untuk proses pemanasan air hingga menjadi garam memakan waktu hingga 24 jam diatas perapian. Setelah diperapian, garam inipun harus dijemur lagi untuk mendapatkan panas matahari.

Kecamatan Krayan memang terisolir. Namun potensi alam yang dimilikinya sungguh luar biasa. Kondisi geografis yang berbukit di dataran tinggi Kalimantan dan iklim yang mendukung sebenarnya sangat potensial untuk pengembangan tanaman tertentu seperti apel. Namun hingga kini warga setempat lebih senang bercocok tanam padi ketimbang mencoba sesuatu yang baru.


Kondisi alam seperti ini justru dimanfaatkan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Krayan. 
Kerajaan Malaysia melalui Kementerian Sains Teknologi dan Inovasi (MOSTI) Malaysia membiayai proyek pengembangan apel malang di Ba Kelalan. Proyek pengembangan apel yang dinilai Project Improvement of Ba’ Kelalan Apple’s Yield And Fruit Quality VIA Adopting Biotechnology Methods of In Situ Bioproducts Processing (Biofertilizer And Biopesticides) itu melibatkan perusahaan Mashijau Bumi SDN BHD yang berkolaborasi dengan Ba Kelalan Highlands Development Committee. Sementara konsultan dan peneliti berasal dari Universiti Putra Malaysia (UPM).


Proyek yang baru berjalan setahun terakhir itu melibatkan tenaga kerja dari Malang. Mereka merupakan orang upahan yang dibayar untuk menenam dan merawat perkebunan tersebut.


Apel Malang sudah dikembangkan di kawasan itu sejak tahun 1985 silam. Sudah belasan tahun apel itu dinikmati warga Malaysia. Bahkan apel-apel ini dijual hingga ke semenanjung Malaysia.


Tagel Paran, warga suku Lun Bawan di Ba Kalalan merupakan orang yang pertama kali mengembangkan perkebunan apel di sana. Ia memiliki dua hektare lahan perkebunan apel yang sudah produksi di sana. Tagel dengan bendera Rata Farm SDN BHD tertarik mengembangkan apel karena melihat geografis wilayah itu yang berbukit dan berhawa dingin. Iapun lantas mengajak Jefri, warga asal Malang untuk dipekerjakan di lahan perkebunan miliknya. Selanjutnya hingga kini kebun tersebut dirawat petani asal Malang.
Penulis: Niko Ruru
Editor: Fransina
Sumber: Tribun Kaltim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
25033 articles 6 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas