Selasa, 28 April 2015

Asinnya Garam Gunung Pa’ Nado

Senin, 30 Januari 2012 18:28

Asinnya Garam Gunung Pa’ Nado
tribun kaltim/niko ruru
Penjemuran garam gunung produksi Desa Pa’ Nado, Lokasi Long Midang, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan

Seorang pria berbadan kekar dengan senjata sumpit menempel dibibirnya sedang membidik buruannya. Sambil jongkok, ia terus mengamati seekor burung yang sedang bertengger di ranting salah satu pohon di pinggir sungai kecil. Sekali tiup, anak sumpit meluncur dan menancap di dada burung tersebut. Burung itupun jatuh tepat di sebuah kubangan berisi air yang jernih, hanya sekitar dua meter dari sungai.

Si pria inipun bergegas mendapatkan buruannya. Ia lalu membersihkan burung buruannya itu. Bulu dicabut dan isi perut dikeluarkan. Ia kemudian mencuci kembali burung hasil bidikannya dan memanggang di atas perapian. Begitu menyantap hasil panggangannya, pria itu merasa ada yang aneh.


Daging burung terasa asin, sementara ia sendiri tak pernah memberi garam. Iapun mencicipi rasa air kubangan dan ternyata asin. Itulah awal muasal ditemukannya sumber garam gunung Desa Pa’Nado seperti dikisahkan Seminar, salah seorang warga setempat.

Tak ada yang tahu persis, bilamana sumur itu mulai digunakan untuk memproduksi garam. “Ini sudah ratusan tahun, nenek-nenek kita dulu. Saya saja lahir tahun 1968, sumur ini sudah dikelola,” kata Seminar.

Tak ada kepemilikan pribadi terhadap alat produksi pengelolaan garam. Alat produksi dikelola secara komunal oleh seluruh penduduk desa khususnya warga suku Lundayeh. Setiap keluarga digilir untuk mengelola sumur garam. Di sana terdapat sekitar 400 keluarga yang secara bergantian mengelola sumur garam tersebut. Mereka yang mendapatkan giliran berhak mengelola sumur hingga selama dua pekan atau 14 hari. Selama itu keluarga dimaksud berhak atas seluruh hasil setelah dikeluarkan Rp1.000 untuk setiap satu kilogram penjualan garam. Uang yang disisihkan itu masuk ke kas desa.

Setiap harinya garam yang bisa diproduksi mencapai antara 15 sampai 20 kilogram, tergantung pada kayu yang digunakan untuk pembakaran. Di Pa’ Nado, garam itu dijual seharga Rp30.000 perkilogramnya. Sementara di Bandar Lawas, Malaysia, garam gunung Pa’ Nado yang sudah dikemas dengan berat kurang setengah kilogram dijual seharga 10 hingga 15 ringgit Malaysia dengan kurs satu ringgit sama dengan Rp2.900.

Di Long Bawan, garam yang dijual di pasaran dikemas dalam dua bentuk. Satu bentuk bubuk garam dalam plastik. Sementara bentuk lainnya garam batangan yang terbungkus daun. Namun soal rasa sama saja. “Di sini kita tidak perlu mencari pasaran. Karena pesanan sangat banyak. Bahkan kita tidak sanggup memenuhi pesanan. Karena mereka ini membelinya langsung sistem borong,” ujarnya.

Halaman123
Penulis: Niko Ruru
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About us Help
Atas