Dibalik Fenomena Puting Beliung
Tribun Kaltim - Jumat, 9 Maret 2012 18:20 WITA
Oleh Achmad Fahruddin Rais, Ah. MG, S. Si
Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru Kalimantan Selatan
TRIBUNKALTIM.co.id - Pada penghujung Februari 2012, masyarakat dikejutkan dengan fenomena puting beliung karena datangnya yang tiba-tiba. Hempasan puting beliung terjadi di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Sidrap, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, terkena dampak puting beliung yang paling parah.
Setidaknya empat orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka baik berat maupun ringan serta ratusan tempat tinggal diporakporandakan oleh puting beliung. Puting beliung di Pamekasan Madura merenggut korban luka-luka dan puluhan rumah rusak. Di Malang Jawa Timur, angin puting beliung berhembus menyebabkan sejumlah korban luka ringan dan puluhan rumah mengalami kerusakan. Begitu juga Pakpak Barat Sumatera Utara, Garut Jawa Barat dan sebagainya.
Tidak semua angin kencang identik dengan puting beliung. Puting beliung bukanlah istilah ilmiah, akan tetapi "tornado" adalah kata yang biasa dipergunakan kalangan ahli meteorologi untuk menyebut fenomena yang sejenis. Tornado adalah kolom berputar yang cepat dari hembusan udara di sekitar area tekanan rendah yang sempit dengan pusarannya menggapai permukaan tanah dan berasal dari awan cumuliform (biasanya awan cumulonimbus/CB). Jika tidak menyentuh tanah disebut funnel cloud. Puting beliung disebut waterspout saat berada di atas lautan.
Tornado dapat terjadi dimana saja asalkan kondisi atmosfernya mendukung untuk pembentukannya, terkecuali di Antartika. Di Inggris, tornado dilaporkan setidaknya 33 kali pertahun. Distribusi tornado di Amerika Serikat berturut - turut pada periode 1950-1959 sebanyak 480 kali kejadian, periode 1960-1969 sebanyak 681 kali, periode 1970-1979 tercatat 858 kejadian, periode 1980-1989 terjadi 819 kali, periode 1990-1999 dilaporkan 1220 peristiwa dan periode 2000-2007 sejumlah 1319 kejadian. Pada wilayah Kanada, tornado tercatat 80 sampai 100 kali setiap tahunnya. Di belahan selatan ekuator, tornado di Australia terhitung mencapai 20 peristiwa pertahun. Tornado Bangladesh adalah fenomena tornado paling merusak yang pernah terjadi di muka bumi pada 26 April 1989 dengan jatuhnya korban jiwa sebanyak 1300 orang.
Berdasarkan proses pembentukannya, tornado dibagi menjadi dua jenis, yaitu tornado supersel dan tornado nonsupersel. Tornado supersel adalah tornado yang terbentuk dari kuatnya updraft (aliran ke atas) yang dihasilkan oleh awan CB multisel. Suhu permukaan yang panas memicu tekanan permukaan menjadi rendah sehingga updraft dibawah awan CB menjadi kuat dan terbentuklah tornado.
Awan CB dicirikan dengan awan yang menjulang tinggi keatas sampai ketinggian 10 km lebih dengan dasar awan berwarna abu-abu dan kehitam-hitaman. Awan CB multisel dimulai dengan terbentuknya geser angin vertikal yang menyebabkan terjadinya turbulensi yang kuat. Pada keadaan labil, udara permukaan yang lembab dan dukungan mekanisme pengangkatan massa udara yang kuat (konvektifitas, orografis, front dan konvergensi) maka akan terbentuk awan CB multisel. Tornado supersel ini umumnya adalah tornado yang bersifat merusak. Sedangkan tornado nonsupersel terjadi dari awan CB non multisel. Awan ini tergantung kondisi yang panas pada siang hari, udara lembab pada kondisi atmosfer yang labil dan lemahnya geser angin vertikal. Tornado terjadi pada daerah yang vegetasinya kurang. Vegetasi yang kurang tidak mampu menghalangi sinar matahari memanasi permukaan akibatnya suhu permukaan menjadi lebih panas.
Kebanyakan di Indonesia, tornado terjadi pada pukul 13 sampai 17 waktu setempat dimana pada pagi sampai siang hari terjadi proses pembentukan awan CB melalui pemanasan permukaan sedangkan pada siang sampai sore hari awan CB sudah dalam tahap dewasa dan dapat memicu terjadinya tornado. Distribusi tornado paling banyak terjadi pada masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan dan musim hujan ke musim kemarau dimana monsun Asia maupun Australia lemah sehingga geser angin vertikal lemah. Hal ini menandakan bahwa tornado yang terbentuk di Indonesia umumnya adalah tornado nonsupersel.
Mengamati kondisi atmosfer pada pekan terakhir Februari 2012, lemahnya hembusan angin monsun Asia dapat menimbulkan geser angin vertikal yang lemah. Hal ini memungkinkan terbentuknya awan-awan CB nonmultisel yang berpotensi mengakibatkan tornado. Lemahnya monsun Asia diakibatkan oleh pusat tekanan tinggi di daratan Asia yang terganggu oleh besarnya pusat tekanan tinggi Eropa. Pusat tekanan tinggi Eropa diatas normal dipicu oleh gelombang dingin yang tengah terjadi di Eropa.
Di bidang meteorologi, penelitian mengenai tornado terbilang belum lama. Meskipun penelitian tornado telah berlangsung secara intensif selama 60 tahun, akan tetapi banyak yang belum terungkap dibalik fenomena ini. Tipikal awan-awan tornado di Indonesia berbeda dengan di daerah subtropis dan setiap daerah di Indonesia mempunyai karakteristik yang spesifik karena wilayah Indonesia terdiri dari pulau - pulau baik besar maupun kecil dengan gugusan gunung dan pegunungan yang berbeda-beda ketinggiannya sehingga mengidentifikasi awan tornado Indonesia bukanlah perkara yang mudah.
Saat ini, ahli meteorologi mendeteksi adanya tornado dengan radar cuaca jenis doppler. Radar doppler bukan hanya bisa memantau adanya fenomena cuaca (awan, hujan dan sebagainya) tetapi dapat mengetahui pergerakan fenomena tersebut. Kabar baiknya, radar doppler telah dan sedang dibangun di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merencanakan hampir di setiap ibu kota propinsi akan mendirikan radar doppler. Semua radar doppler akan diintegrasikan sehingga memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi cuaca di Indonesia. Sehubungan dengan ini, BMKG telah membentuk sistem peringatan dini cuaca dan iklim dengan menunjuk beberapa kantor BMKG daerah untuk memberikan layanan tersebut agar masyarakat bisa menghindari fenomena cuaca dan iklim yang berbahaya. (*)
Skala Intensitas Tornado menurut Tetsuya Fujita
SKALA KECEPATAN ANGIN (KM/JAM) TIPE KERUSAKAN
F0 <112 Kerusakan ringan. Beberapa kerusakan pada cerobong asap; dahan pohon patah ; pohon-pohon berakar dangkal terdorong; papan - papan penunjuk rusak.
F1 112 - 175 Kerusakan sedang. Atap rumah berhamburan; rumah semi-permanen bergeser.
F2 178 - 245 Kerusakan yang signifikan. atap rumah kayu rusak; rumah semi-permanen roboh; mobil terbalik; pohon besar tercabut; misil ringan terpicu; mobil terangkat dari permukaan tanah.
F3 246 - 322 Kerusakan berat. Atap dan dinding rumah permanen roboh; kereta api terbalik; sebagian besar pohon di hutan tercabut; mobil besar terangkat dan terlempar dari permukaan tanah.
F4 323 - 407 Kerusakan hebat. Rumah permanen terangkat; bangunan dengan pondasi semi-permanen terlempar;misil besar terpicu; mobil dan benda berat lainnya terlempar beterbangan.
F5 >407 Kerusakan sangat hebat. Rumah dengan kerangka yang baik pondasinya terangkat dan tersapu; Misil berukuran besar beterbangan di udara hingga 100 meter; pohon beterbangan; fenomena luar biasa lain akan muncul.
Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru Kalimantan Selatan
TRIBUNKALTIM.co.id - Pada penghujung Februari 2012, masyarakat dikejutkan dengan fenomena puting beliung karena datangnya yang tiba-tiba. Hempasan puting beliung terjadi di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Sidrap, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, terkena dampak puting beliung yang paling parah.
Setidaknya empat orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka baik berat maupun ringan serta ratusan tempat tinggal diporakporandakan oleh puting beliung. Puting beliung di Pamekasan Madura merenggut korban luka-luka dan puluhan rumah rusak. Di Malang Jawa Timur, angin puting beliung berhembus menyebabkan sejumlah korban luka ringan dan puluhan rumah mengalami kerusakan. Begitu juga Pakpak Barat Sumatera Utara, Garut Jawa Barat dan sebagainya.
Tidak semua angin kencang identik dengan puting beliung. Puting beliung bukanlah istilah ilmiah, akan tetapi "tornado" adalah kata yang biasa dipergunakan kalangan ahli meteorologi untuk menyebut fenomena yang sejenis. Tornado adalah kolom berputar yang cepat dari hembusan udara di sekitar area tekanan rendah yang sempit dengan pusarannya menggapai permukaan tanah dan berasal dari awan cumuliform (biasanya awan cumulonimbus/CB). Jika tidak menyentuh tanah disebut funnel cloud. Puting beliung disebut waterspout saat berada di atas lautan.
Tornado dapat terjadi dimana saja asalkan kondisi atmosfernya mendukung untuk pembentukannya, terkecuali di Antartika. Di Inggris, tornado dilaporkan setidaknya 33 kali pertahun. Distribusi tornado di Amerika Serikat berturut - turut pada periode 1950-1959 sebanyak 480 kali kejadian, periode 1960-1969 sebanyak 681 kali, periode 1970-1979 tercatat 858 kejadian, periode 1980-1989 terjadi 819 kali, periode 1990-1999 dilaporkan 1220 peristiwa dan periode 2000-2007 sejumlah 1319 kejadian. Pada wilayah Kanada, tornado tercatat 80 sampai 100 kali setiap tahunnya. Di belahan selatan ekuator, tornado di Australia terhitung mencapai 20 peristiwa pertahun. Tornado Bangladesh adalah fenomena tornado paling merusak yang pernah terjadi di muka bumi pada 26 April 1989 dengan jatuhnya korban jiwa sebanyak 1300 orang.
Berdasarkan proses pembentukannya, tornado dibagi menjadi dua jenis, yaitu tornado supersel dan tornado nonsupersel. Tornado supersel adalah tornado yang terbentuk dari kuatnya updraft (aliran ke atas) yang dihasilkan oleh awan CB multisel. Suhu permukaan yang panas memicu tekanan permukaan menjadi rendah sehingga updraft dibawah awan CB menjadi kuat dan terbentuklah tornado.
Awan CB dicirikan dengan awan yang menjulang tinggi keatas sampai ketinggian 10 km lebih dengan dasar awan berwarna abu-abu dan kehitam-hitaman. Awan CB multisel dimulai dengan terbentuknya geser angin vertikal yang menyebabkan terjadinya turbulensi yang kuat. Pada keadaan labil, udara permukaan yang lembab dan dukungan mekanisme pengangkatan massa udara yang kuat (konvektifitas, orografis, front dan konvergensi) maka akan terbentuk awan CB multisel. Tornado supersel ini umumnya adalah tornado yang bersifat merusak. Sedangkan tornado nonsupersel terjadi dari awan CB non multisel. Awan ini tergantung kondisi yang panas pada siang hari, udara lembab pada kondisi atmosfer yang labil dan lemahnya geser angin vertikal. Tornado terjadi pada daerah yang vegetasinya kurang. Vegetasi yang kurang tidak mampu menghalangi sinar matahari memanasi permukaan akibatnya suhu permukaan menjadi lebih panas.
Kebanyakan di Indonesia, tornado terjadi pada pukul 13 sampai 17 waktu setempat dimana pada pagi sampai siang hari terjadi proses pembentukan awan CB melalui pemanasan permukaan sedangkan pada siang sampai sore hari awan CB sudah dalam tahap dewasa dan dapat memicu terjadinya tornado. Distribusi tornado paling banyak terjadi pada masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan dan musim hujan ke musim kemarau dimana monsun Asia maupun Australia lemah sehingga geser angin vertikal lemah. Hal ini menandakan bahwa tornado yang terbentuk di Indonesia umumnya adalah tornado nonsupersel.
Mengamati kondisi atmosfer pada pekan terakhir Februari 2012, lemahnya hembusan angin monsun Asia dapat menimbulkan geser angin vertikal yang lemah. Hal ini memungkinkan terbentuknya awan-awan CB nonmultisel yang berpotensi mengakibatkan tornado. Lemahnya monsun Asia diakibatkan oleh pusat tekanan tinggi di daratan Asia yang terganggu oleh besarnya pusat tekanan tinggi Eropa. Pusat tekanan tinggi Eropa diatas normal dipicu oleh gelombang dingin yang tengah terjadi di Eropa.
Di bidang meteorologi, penelitian mengenai tornado terbilang belum lama. Meskipun penelitian tornado telah berlangsung secara intensif selama 60 tahun, akan tetapi banyak yang belum terungkap dibalik fenomena ini. Tipikal awan-awan tornado di Indonesia berbeda dengan di daerah subtropis dan setiap daerah di Indonesia mempunyai karakteristik yang spesifik karena wilayah Indonesia terdiri dari pulau - pulau baik besar maupun kecil dengan gugusan gunung dan pegunungan yang berbeda-beda ketinggiannya sehingga mengidentifikasi awan tornado Indonesia bukanlah perkara yang mudah.
Saat ini, ahli meteorologi mendeteksi adanya tornado dengan radar cuaca jenis doppler. Radar doppler bukan hanya bisa memantau adanya fenomena cuaca (awan, hujan dan sebagainya) tetapi dapat mengetahui pergerakan fenomena tersebut. Kabar baiknya, radar doppler telah dan sedang dibangun di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merencanakan hampir di setiap ibu kota propinsi akan mendirikan radar doppler. Semua radar doppler akan diintegrasikan sehingga memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi cuaca di Indonesia. Sehubungan dengan ini, BMKG telah membentuk sistem peringatan dini cuaca dan iklim dengan menunjuk beberapa kantor BMKG daerah untuk memberikan layanan tersebut agar masyarakat bisa menghindari fenomena cuaca dan iklim yang berbahaya. (*)
Skala Intensitas Tornado menurut Tetsuya Fujita
SKALA KECEPATAN ANGIN (KM/JAM) TIPE KERUSAKAN
F0 <112 Kerusakan ringan. Beberapa kerusakan pada cerobong asap; dahan pohon patah ; pohon-pohon berakar dangkal terdorong; papan - papan penunjuk rusak.
F1 112 - 175 Kerusakan sedang. Atap rumah berhamburan; rumah semi-permanen bergeser.
F2 178 - 245 Kerusakan yang signifikan. atap rumah kayu rusak; rumah semi-permanen roboh; mobil terbalik; pohon besar tercabut; misil ringan terpicu; mobil terangkat dari permukaan tanah.
F3 246 - 322 Kerusakan berat. Atap dan dinding rumah permanen roboh; kereta api terbalik; sebagian besar pohon di hutan tercabut; mobil besar terangkat dan terlempar dari permukaan tanah.
F4 323 - 407 Kerusakan hebat. Rumah permanen terangkat; bangunan dengan pondasi semi-permanen terlempar;misil besar terpicu; mobil dan benda berat lainnya terlempar beterbangan.
F5 >407 Kerusakan sangat hebat. Rumah dengan kerangka yang baik pondasinya terangkat dan tersapu; Misil berukuran besar beterbangan di udara hingga 100 meter; pohon beterbangan; fenomena luar biasa lain akan muncul.
Editor : Fransina
Sumber : Tribun Kaltim