• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Kaltim

Malaysia Akan Borong Persenjataan Rusia

Rabu, 18 April 2012 11:57 WIB
Malaysia Akan Borong Persenjataan Rusia
Wikimedia Commons
Kapal perang Morshansk milik Rusia adalah kapal korvet kelas Tarantul-III yang menjadi dasar pengembangan kapal kelas Molniya.
KUALA LUMPUR, tribunkaltim.co.id- Malaysia dikabarkan akan segera memborong berbagai persenjataan buatan Rusia, mulai dari rudal portabel sampai kapal perang berpeluru kendali. Negosiasi pembelian persenjataan ini terus berlangsung.

Demikian dikatakan Viktor Komardin, Deputi Kepala Rosoboronexport—perusahaan eksportir senjata milik negara dari Rusia, di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (17/4/2012), seperti dikutip RIA Novosti.

Menurut dia, Malaysia sudah mendekati proses negosiasi final untuk membeli sistem rudal antitank Kornet, rudal panggul antipesawat Igla, dan masih terus bernegosiasi untuk membeli kapal perang berpeluru kendali dan kapal-kapal patroli.

Komardin menambahkan, Rusia siap menjual lisensi pembuatan kapal berpeluru kendali kelas Molniya dan kapal patroli kelas Mirazh untuk dibuat di galangan kapal Malaysia sendiri.

"Malaysia tertarik dengan kapal-kapal (kelas) Molniya dan Mirazh kami. Ini mengacu pada pembuatan oleh mereka sendiri di bawah lisensi di galangan-galangan kapal mereka, seiring dengan telah majunya sektor pembuata kapal di Malaysia," tutur Komardin.

Kapal perang kelas Molniya adalah kapal jenis korvet hasil pengembangan kapal perang kelas Tarantul. Kapal sepanjang 56,1 meter ini dilengkapi dengan sistem radar dan persenjataan terbaru, termasuk rudal antikapal P-270 Moskit-E (SS-N-22 Sunburn) dan rudal antipesawat Igla.

Selain Malaysia, Vietnam lebih dulu membeli kapal kelas ini. Vietnam juga dikabarkan membeli lisensi untuk membuat sendiri kapal-kapal perang ini.

Federasi Ilmuwan Amerika (www.fas.org) menyebut kapal kelas Molniya ini dirancang untuk melakukan pertempuran laut melawan kapal permukaan. Ukurannya yang relatif kecil membuat kapal ini bisa bermanuver lincah dan menyatu dengan keramaian kapal nelayan atau kapal barang kecil di dekat wilayah pesisir, sehingga susah dilacak dan ditembak.

Dengan Malaysia dan Vietnam, dua negara pengklaim Kepulauan Spratly, memiliki kapal ini, situasi konflik di kawasan Laut China Selatan bisa makin memanas.  
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas