• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Kaltim

Trans Corp Berjaya di Bisnis Hiburan

Sabtu, 5 Mei 2012 19:47 WIB

JAKARTA, tribunkaltim.co.id- Langkah bisnis anak usaha CT Group makin mantap di bisnis hiburan dan media. Dengan melakukan sejumlah konsolidasi dan akuisisi, perusahaan ini tidak mau kalah dari saingannya yaitu MNC Group dan Viva Group. Selain memiliki bisnis media, perusahaan milik Chairul Tanjung ini juga berencana membangun 20 Trans Studio di Indonesia.



Sulur bisnis Chairul Tanjung, pemilik CT Corp makin panjang. Terakhir, perusahaan ini melalui anak usahanya Trans Airways membeli 10,88% saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) seharga Rp 620 per saham.


Trans Airways bukanlah satu-satunya anak usaha CT Corp. Perusahaan yang sebelum 1 Desember 2011 bernama Para Group ini juga memiliki sejumlah anak usaha di bidang penyiaran televisi, perdagangan ritel, dan hotel.


Di bisnis penyiaran televisi, CT memiliki perusahaan bernama Trans Corp yang membawahi Trans TV dan Trans 7. Sedangkan di bidang ritel, CT memegang lisensi Carrefour di Indonesia.


Konsolidasi media

Sejarah Trans Corp dimulai dari perusahaan bernama PT Para Inti Investindo. Unit usaha Para Group ini pada awalnya memang fokus di bidang media, gaya hidup, dan bisnis hiburan.


Mulai mengudara pada 10 November 2001, Trans TV menjadi unit bisnis pertama Trans Corp. Untuk mengudara pertama kali, perusahaan ini membangun stasiun reli di Bandung dan Jakarta.


Setelah berkembang cukup besar dan menguasai industri TV nasional, Trans Corp kemudian berekspansi dengan membeli 49% saham TV7 pada awal Agustus 2006. Stasiun televisi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh Grup Kompas Gramedia (KG) ini kemudian berubah nama menjadi Trans7.


Dengan membeli TV7, Trans Corp berusaha mengonsolidasikan dua perusahaan televisi itu sehingga semakin eksis dan mampu bersaing di industri televisi nasional. Apalagi sebagai televisi yang baru berumur enam tahun, saat itu Trans TV harus melawan dominasi televisi yang sudah lahir dan besar lebih dahulu, seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar.


Agar mampu bersaing, Trans Corp kemudian mengambil strategi dengan memilih pasar yang selama ini masih belum tergarap dengan baik, yaitu segmen A, B, dan C. Baik Trans TV maupun Trans7 mencoba mencuwil pasar yang menginginkan tayangan non-sinetron.


Segmen pasar itu juga biasanya lebih memilih tayangan dengan sajian komedi lebih banyak, variety show, termasuk sajian budaya dan petualangan seperti program Jelajah dan Jejak Petualang.


Untuk melengkapi bisnis hiburan, Trans Corp kemudian berkongsi dengan Kalla Group membangun Trans Studio di Makassar. Resmi beroperasi pada 9 September 2009, wahana rekreasi dan permainan dalam ruangan atau indoor ini diresmikan oleh Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia saat itu yang juga pemilik Kalla Group.


Dengan nama Trans Studio Theme Park, wahana ini berlokasi di kawasan Tanjung Bunga, dekat Pantai Losari, Makassar. Studio ini memiliki lahan 24 hektare.


Chairul membangun wahana ini karena terinspirasi Disneyland dan Universal Studio di Amerika Serikat. Ongkos membangun Trans Studio ini lebih dari Rp 1 triliun di tahap awal.


Setelah sukses di Makassar, Trans Corp giliran berekspansi ke Jawa. Kali ini, Bandung yang menjadi pilihan lokasi Trans Studio yang kedua.

Trans Studio di Bandung beroperasi perdana pada 18 Juni 2011. Di kota kembang tersebut, Trans Studio berdiri di lahan kurang lebih 4 hektare di Jalan Gatot Subroto, Bandung. Di lokasi yang sama, Trans Corp juga membangun Hotel Trans dan Ibis Hotel berkapasitas 1.000 kamar.


Untuk membangun Trans Studio di Bandung, perusahaan ini diperkirakan harus merogoh kocek sekitar Rp 2 triliun. Itu di luar ongkos akuisisi tanah. Selain Bandung, Trans Studio juga akan membangun 20 wahana lain seperti di Solo dan Palembang, serta di Jakarta.


Ishadi Soetopo Kartosapoetro, Komisaris Trans Corp membenarkan rencana perusahaannya membuka 20 Trans Studio di berbagai kota di Tanah Air. "Pembangunan Trans Studio Jakarta ditargetkan mulai tahun depan," katanya ke KONTAN, Jumat (4/5). Menurut Ishadi, 20 Trans Studio selesai dibangun dalam kurun empat hingga lima tahun ke depan.

Dia menjelaskan, khusus Trans Studio Jakarta, Trans Corp akan membuat dua macam theme park, yaitu versi Trans dan versi Marvel. Trans Corp memang telah membeli lisensi tokoh komik super hero dari Marvel Entertainment. Nantinya pusat hiburan bermain dan rekreasi tersebut akan ada di dalam satu kawasan kota mandiri yang diberi nama Trans City.

Konsep kota mandiri sebenarnya bukan yang pertama digarap Trans Corp. Maklum, perusahaan ini juga mengembangkan proyek serupa di Bandung.

Chairul mengatakan, Trans City akan dibangun di lahan seluas 120 hektare dengan dana investasi hingga sekitar US$ 2 miliar. Selain Trans Studio, di Trans City tersebut kelak akan hadir studio televisi, pusat belanja, hotel, perkantoran, dan juga perumahan.

Di bisnis media, Trans Corp juga terus berekspansi dengan membeli situs berita online Detik.com pada Juni 2011. Menurut Ishadi, saat ini persaingan industri media sangat ketat sehingga mau tidak mau pemain bisnis ini harus melakukan konsolidasi. Sejumlah perusahaan media yang juga melakukan konsolidasi secara cepat adalah MNC Group milik Hary Tanoesoedibyo maupun Viva Group milik keluarga Bakrie.

Ishadi menambahkan, ke depan, Trans Corp akan berusaha menjadi pemimpin pasar di industri pertelevisian nasional. "Kami bekerja keras untuk menjadi pemain nomor satu di pasar TV Tanah Air," ujarnya. Saat ini, Trans TV memiliki pangsa pasar sebesar 12% hingga 13% dan Trans7 memiliki pangsa sebesar 11%

Di sektor ritel, Trans Corp melalui anak usahanya PT Trans Retail juga telah mengakuisisi 40% saham 
PT Carrefour Indonesia dengan nilai lebih dari 
US$ 300 juta pada April 2010. Dengan akuisisi itu maka Trans Retail menjadi pemegang saham terbesar Carrefour Indonesia, sedangkan sisanya digenggam oleh Carrefour SA, sebesar 39%, Carrefour Nederland BV sebesar 9,5%, dan Onesia BV sebesar 11,5%.

Ketika itu Chairul mengungkapkan, proses akuisisi Carrefour Indonesia hanya memakan waktu selama tiga bulan. Carrefour yang merupakan perusahaan swasta multinasional yang pernah masuk ke dalam 25 besar Fortune Global 500, menurut Chairul, sangat strategis. Selain telah menjadi perusahaan ritel terbesar di Indonesia, pertumbuhan ekonomi dan ritel di Indonesia dipercaya akan mendorong pundi-pundi keuangan perusahaan ini.

Selain bisnis hiburan dan ritel, Trans Corp juga merambah bisnis makanan dan minuman. Di sektor ini, Trans memiliki PT Trans Coffee dengan merek The Coffee Bean & Tea Leaf dan es krim Baskin-Robbins. Perusahaan ini juga memiliki lini bisnis properti melalui PT Trans Property dengan sejumlah proyek di Bandung, Batam, dan Bali.

Di bisnis lifestyle dan jasa perjalanan, Trans memiliki PT Anta Express Tour & Travel dan PT Trans Fashion. Perusahaan inilah yang membawa merek terkenal seperti Prada, Miu Miu, Tod’s, Aigner, Brioni, Celio, Hugo Boss, Jimmy Choo, dan Mango ke Indonesia.

Dulu jatuh bangun, kini getol membangun

Di Indonesia, siapa yang tak kenal dengan sosok pengusaha bernama Chairul Tanjung? Anak seorang wartawan ini sukses membesarkan konglomerasi CT Corp yang merangsek ke berbagai lini bisnis.

Chairul lahir di Jakarta, 16 Juni 1962. Pria yang lebih akrab dikenal dengan panggilan CT itu telah mulai berbisnis ketika masih kuliah di Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Demi mencukupi biaya kuliahnya, ia mesti berjualan mulai dari buku kuliah, kaos, dan lainnya di kampus.

Setelahnya, ia membuka usaha toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat. Namun, usaha itu bangkrut.

Setelah jatuh bangun berkali-kali, akhirnya bisnis CT mulai bersinar setelah ia terjun ke bisnis keuangan. CT mengambil alih Bank Tugu dan mengubahnya menjadi Bank Mega. Ia mengembangkan bisnis keuangannya dengan mendirikan sekuritas dan asuransi.

Tak hanya itu, CT masuk ke bisnis properti dan kemudian bisnis media dengan mendirikan Trans TV, serta membeli Trans 7.

Ia pun menyatukan aneka macam bisnisnya itu di bawah bendera Para Group. Di akhir tahun 2011, dia mengubah nama holding perusahaannya itu menjadi CT Corp. Perubahan ini seiring dengan peringatan perjalanan bisnis CT yang sudah berlangsung selama 30 tahun.

Sebagai pebisnis, CT gemar berekspansi. Lihat saja bagaimana ia membeli saham berbagai media, kemudian tiba-tiba masuk ke Carrefour dan terakhir memborong saham Garuda Indonesia.

Dengan kesuksesannya itu, CT mendapat julukan "The Rising Star". Pada 2010, majalah Forbes pertama kali menobatkannya sebagai salah satu orang terkaya dunia yang berasal dari Indonesia. Forbes menyatakan bahwa CT berada di urutan ke 937 dunia dengan total kekayaan US$ 1 miliar.

Tahun 2011, Forbes kembali menempatkan CT di peringkat ke-11 orang terkaya di Indonesia. Menurut majalah itu, total kekayaan CT mencapai US$ 2,1 miliar.

Editor: Fransina
Sumber: Kontan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas