Rabu, 10 Juni 2026

Kawasan Sangatta Selatan Kembali Terisolir

Banjir periodik akibat meluapnya Sungai Sangatta kembali melanda Desa Sangatta Selatan, Sangatta Selatan, Kutai Timur

Tayang:
Editor: Sumarsono
SANGATTA, tribunkaltim.co.id- Banjir periodik akibat meluapnya Sungai Sangatta kembali melanda Desa Sangatta Selatan, Sangatta Selatan, Kutai Timur, dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, Desa Sangatta Selatan lagi-lagi terisolir. Akses transportasi ke Sangatta Utara menjadi sangat sulit.

Akses dari dan menuju Sangatta Selatan selama ini mengandalkan jalur darat dan melintasi sungai. Jalur darat dapat ditempuh dari tiga arah, yaitu dari Jl HM Ardans, jalan Pertamina, dan jembatan Kampung Kajang. Namun ketiga akses jalan ini, selain dinilai cukup jauh untuk ditempuh, juga rawan banjir dengan area rendaman yang relatif luas.

Sedangkan moda transportasi sungai mengandalkan rakit penyeberangan yang diistilahkan ponton oleh warga. Ponton hanya beroperasi pada sungai yang lebarnya sekitar 30 meter. Dengan ponton, jarak tempuh dan waktu tempuh relatif pendek, serta berada di kawasan pusat aktifitas kecamatan.

Kepala Desa Sangatta Selatan, M Sjaim, Selasa (8/5/2012), mengatakan akibat banjir belum ada informasi tentang warga yang mengungsi. "Banjir seperti ini sudah biasa. Belum ada info ada warga yang mengungsi. Namun bila beberapa hari ke depan belum surut, mungkin ada bantuan dari pemerintah maupun perusahaan," katanya.

Namun sebagaimana biasa, banjir kembali membuat akses transportasi terputus. "Yah, seperti biasa Sangatta Selatan kembali terisolir. Mau lewat Jl Ardans dan Kampung Kajang sama-sama terjebak banjir. Satu-satunya cara lewat ponton. Itupun hanya sepeda motor dan antreannya sangat panjang. Karena dalam kondisi banjir hanya sedikit ponton yang jalan," katanya.

Atas kondisi ini, Sjaim menyatakan hal yang paling utama dibutuhkan adalah akses transportasi berupa jalan dan jembatan. Hal ini sudah dikomunikasikan dengan Pemkab Kutim, namun belum ada respon. Keberadaan kawasan di wilayah Taman Nasional Kutai (TNK) kembali menjadi salah satu alasannya.

"Yang kami butuhkan adalah jalan dan jembatan. Kami yakin SKPD terkait memiliki kemampuan untuk meninggikan jalan sekaligus menambah gorong-gorong. Jembatan yang terletak di pusat kawasan juga sangat diperlukan. Akses transportasi itu urat nadi perekonomian," katanya.

Terkait alasan keberadaan desa di wilayah TNK, Sjaim berharap pemerintah bisa mencarikan solusi yang benar-benar solutif. "Upaya mandiri sudah kami lakukan. Kami juga meminta dukungan perusahaan. Tapi sampai kapan kami terus begini. Kami kan tidak enak kalau terus menerus meminta pada perusahaan. Warga membutuhkan pembangunan, dan desa ini harus dibangun," katanya.

Karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan membangun konsolidasi dengan masyarakat untuk memperjuangkan pemenuhan kebutuhan yang benar-benar mendesak. Khususnya jalan dan jembatan.

Khusus untuk jembatan, sebenarnya sudah beberapa tahun direncanakan. Namun karena ada keberatan dari pihak tertentu, pembangunan dialihkan lokasinya. Padahal keberatan tersebut hanya disampaikan segelintir orang.

Sekretaris Desa Sangatta Selatan, Effendi, mengatakan pembahasan jembatan tersebut sudah diusulkan dalam beberapa kali rapat koordinasi pembangunan desa. Namun ia tidak mengetahui mengapa usulan tersebut belum diakomodir dalam pelaksanaan pembangunan daerah.

"Pembangunan jembatan akan membawa banyak kemajuan. Termasuk kemungkinan masuknya angkot ke Sangatta Selatan," katanya. Selain itu, jembatan bisa menjadi solusi mengatasi kondisi terisolasi kawasan tersebut ketika banjir.

Salah seorang warga Sangatta Selatan, Saroni, mengatakan pembangunan daerah sudah semakin maju, namun warga Sangatta Selatan tetap saja tergantung pada ponton. "Kami harap pemerintah bisa membangun jembatan yang posisinya tepat di pusat permukiman Sangatta Selatan. Perhatikan kebutuhan warga. Jangan hanya mengakomodir keinginan pemilik ponton," katanya. (*)


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved