Kamis, 18 Desember 2014
Tribun Kaltim

Sampah Plastik Diolah Jadi BBM

Jumat, 11 Mei 2012 20:38 WIB

Sampah Plastik Diolah Jadi BBM
Tribunkaltim/Doan Pardede
Adalah Marno Mukti, ketua RT 22 kelurahan Pelita Samarinda Ilir telah berhasil "menyulap" sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan teknologi penyulingan.
SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Jika selama ini pengolahan plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya terdengar di luar daerah, sekarang hal itu sudah ada di Samarinda.

Adalah Marno Mukti,  ketua RT 22 kelurahan Pelita Samarinda Ilir telah berhasil "menyulap" sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan teknologi penyulingan.

Menurut Marno, selain tertantang oleh program Kemenrtrian Lingkungan Hidup, ide pengolahan ini berawal dari keprihatinan pada sampah plastik yang sulit terurai. Iapun mencoba mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

"Selama ini, sampah plastik menjadi masalah bagi masyarakat karena sulit terurai. Ini juga bisa mengajak masyarakat, bagaimana agar peduli terhadap pengolahan sampah," kata Marno yang mengaku sudah 3 bulan terakhir menggeluti serius eksperimennya ini ketika ditemui tribunkaltim.co.id dirumahnya, Jumat (11/5/2012).

Berbekal alat pembakaran dan penyulingan (reaktor) hasil rakitan sendiri yang dibuat dari tabung elpiji ukuran 3 kilogram, jenis plastik apa pun bisa diolah menjadi bahan bakar minyak. Saat ini yang diprioritaskan plastik dari tas kresek dan botol air kemasan.

"Saya dulu mau membor tabung elpiji tapi tidak ada bengkel yang mau karena takut meledak. Akhirnya saya bor sendiri, susah memang karena lapisannya tebal. Sudah berhasil, saya bawa ke bengke untuk dilas sebagai katup reaktor," katanya.

Alat ini bisa mengubah 1 kilogram plastik, setelah disuling akan menghasilkan sekitar 400 mililiter Solar, 200 mililiter minyak tanah dan 200 mililiter premium. Bahan bakar yang digunakan saat ini untuk memanaskan reaktor adalah gas elpiji seperti yang dipakai untuk masak sehari-hari di rumah tangga. Kedepannya, penggunaan batu bara sebagai bahan bakar masih akan dikaji lagi.

"Suhu ideal untuk mencairkan plastik adalah 200 derajat. Sementara kita masih pakai gas elpiji yang biasa," paparnya.

Ada temuan menarik yang menurut Marno didapat 3 hari belakangan. Ia mengamati bahwa gas CH4 (metana) yang dihasilkan tentunya akan dibuang begitu saja ke udara selama proses penyulingan.

"Saya berpikir untuk menangkap gas metana tadi. Akhirnya bisa dan terbukti bisa menghidupkan kompor gas. Bahkan siang hari apinya tidak kelihatan dan baru terlihat jika tidak ada cahaya, apinya berwarna biru," jelasnya.

Untuk memproduksi secara massal, ia mengaku belum ada remcana. Tapi ia berharap ada kerjasama antara lembaga pendidikan dan dunia usaha untuk mengembangkan hasil pengolahannya ini. Jika mengolah limbah anorganik seperti sampah plastik menjadi bahan bakar minyak digunakan tekhnologi penyulingan, maka di lokasi yang sama ia juga mengolah sampah organik menjadi bahan bakar bio gas.

"Kalau saya hitung, untuk 1 liter hasil olahan ini bisa dijual dengan harga Rp 7,500 untuk premium. Cukup ekonomis," katanya.
Penulis: Doan E Pardede
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim

TRIBUNnews.com © 2014

About us

Help

Atas