Jumat, 3 Juli 2015

Penertiban Pekat di Kutai Timur Terus Berjalan

Senin, 23 Juli 2012 21:44

Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah aktivitas tempat hiburan malam (THM), aksi gelandangan dan pengemis (gepeng), juga penjualan petasan. Demikian disampaikan Kepala Satpol PP Kutim, Sarwono Hidayat, Senin (23/7/2012).

"Untuk THM, kami menjalankan surat edaran Wakil Bupati Kutim bahwa mereka dilarang beraktifitas mulai H-7 Ramadhan sampai H+7 'Idul Fitri," katanya. Sejauh ini belum ada temuan pelanggaran. Untuk monitoring gabungan, Satpol PP bekerjasama dengan Polres Kutim dan Kesbangpol Linmas.

"Sejauh ini memang belum ada pelanggaran. Namun kami tetap pantau dengan cermat, karena umumnya pelanggaran berpotensi terjadi di pertengahan Ramadhan," katanya. Termasuk pula kemungkinan aktifitas secara "kucing-kucingan".

Contoh peristiwa besar terjadi tahun lalu di salah satu THM di Sangatta. Tidak hanya melanggar larangan beraktivitas, bahkan terbukti terjadi human trafficking terhadap empat anak di bawah umur. Kasus ini berujung hukuman pidana terhadap pemilik dan pengelola THM.

Adapun untuk gepeng, pihaknya juga melakukan penertiban intensif di samping penertiban reguler. "Bahkan sepekan sebelum Ramadhan, kami sudah melimpahkan sekitar delapan perkara untuk diproses tindak pidana ringan (tipiring) di Pengadilan Negeri Sangatta," katanya.

Tak hanya gepeng, beberapa peminta sumbangan untuk pembangunan masjid juga terkena tipiring. Terutama mereka yang meminta sumbangan masjid untuk kawasan luar Kutim atau terindikasi bermasalah.

Persoalan gepeng dan peminta sumbangan memang menjadi sorotan serius dari Satpol PP Kutim. Bahkan banyak gepeng yang dipulangkan ke daerah asalnya. Diduga kuat, ada sindikat yang mengatur aksi para gepeng.

Halaman12
Penulis: Kholish Chered
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About us Help
Atas