Minggu, 5 Juli 2015

Bandara Tanjung Bara Sulit Diperluas, Pesawat pun Diganti

Selasa, 24 Juli 2012 19:30

Terkait hal ini, sedang dijajaki pemanfaatan bandara khusus Tanjung Bara KPC untuk penerbangan komersial perintis. General Manager External Affair and Sustainable Development KPC, Huseinsyah Akma, Selasa (24/7/2012), mengatakan pihaknya masih mengkaji aspek legal pemanfaatan bandara khusus KPC untuk komersial.

Adapun untuk kemungkinan perluasan bandara Tanjung Bara, Husein menyebutnya bakal sulit dan mahal. Hal ini karena bandara di sebelah utara berbatasan dengan laut, selatan dengan jalan, dan arah lain dengan rawa dan lapangan golf.

"Beberapa tahun lalu juga sempat ada penerbangan Sangatta Air, namun tutup dalam beberapa bulan," katanya. Pihaknya justru lebih mendorong agar Pemkab Kutim memaksimalkan pengembangan bandara Sangkima.

"Kami lebih mendorong pengembangan bandara Sangkima. Selain sudah pernah dikembangkan (oleh Pertamina, red), dari sisi luas juga memungkinkan didarati pesawat jet. Namun memang ada kendala status Taman Nasional Kutai (TNK)," katanya.

Ia pun menginformasikan, pesawat yang mendarat di Tanjung Bara sudah beralih dari jenis Cassa berkapasitas 22 orang menjadi Twin Otter berkapasitas 16 orang dalam dua bulan terakhir. Bahkan barang penumpang sering dikirimkan lewat darat.

"Sekarang penggunaan Cassa dialihkan ke Twin Otter. Artinya kapasitas penumpang semakin sedikit. Karena itu kami mendorong pengembangan bandara Sangkima. Segmentasi pasar sangat besar, terutama dari karyawan KPC dan perusahaan kontraktornya," katanya.

Sebelumnya, pekan lalu digelar pertemuan yang dipimpin Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kutim, Ismunandar, dan dihadiri Sekretaris Dishubkominfo Kutim, Muchtar, Kasi Udara, Chairuddin, Kepala Bandara Temindung, Aritonang, dan sejumlah staf serta unsur manajemen KPC.

Halaman12
Penulis: Kholish Chered
Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About us Help
Atas