Ranomi, Gadis Emas Belanda dari Jawa
Ayah Ranomi kemudian pindah ke Belanda, menikah dan memiliki anak, Ranomi.
Tidak
tanggung-tanggung, Ranomi meraih impiannya di nomor yang dianggap
paling bergengsi, 100 meter gaya bebas. Ini merupakan medali emas kedua
buat Belanda setelah yang pertama diraih oleh atlet balap sepeda
Marianne Vos.
Ranomi sejak kecil mengidolakan perenang putra
Pieter van den Hoogenband dan Inge de Bruijn yang pernah meraih 15
medali di Olimpiade Sydney 2000 dan Athens 2004.
Ia bertemu dan
berlatih bersama Van den Hoogenband di perkumpulan renang miliknya di
Eindhoven bersama rekan-rekannya, Inge Dekker, Marleen Veldhuis, dan
Femke Heemskerk. Bersama rekan-rekannya ini, Ranomi meraih perak 4 x 100
meter estafet gaya bebas.
Ranomi kini ditangani oleh Jacco
Verhaeren, pelatih bertangan dingin yang juga pernah menangani van den
Hoogenband dan de Bruijn.
Ranomi memiliki nama berbau Jawa dari
kakeknya, Kromowidjojo. Kakeknya merupakan seorang pekerja kontrak dari
Jawa yang berimigrasi ke Suriname. Ia kemudian menetap dan berkeluarga
di sana. Ayah Ranomi kemudian pindah ke Belanda, menikah dan memiliki
anak, Ranomi.
Di nomor 100 meter gaya bebas, Ranomi menyentuh
dinding nomor empat saat pembalikan. Namun, saat finis ia mencatat waktu
53,00 detik, yang merupakan rekor baru olimpiade.
"Lomba yang
hebat. Namun, saya tidak puas dengan catatan waktu," kata Ranomi yang
memiliki catatan waktu terbaik tahun ini 52,75 detik. "Walau begitu,
medali emas tetaplah medali emas, dan saya memang mencari medali emas."
Tempat
kedua diduduki Aliaksandra Herasimenia dari Belarus dengan 53,38 detik,
sementara perunggu diraih atlet China, Tang Yi, dengan 53,44 detik.