Selasa, 9 Juni 2026

Kelenteng Thien Ie Kong Samarinda Gelar Kirab

Dalam tradisi religius Tionghoa, ada tiga kali peringatan hari kebesaran Dewi Guanyin setiap tahunnya.

Tayang:
Penulis: Doan E Pardede | Editor: Fransina Luhukay
zoom-inlihat foto Kelenteng Thien Ie Kong Samarinda Gelar Kirab
tribun kaltim/doan pardede
Kirab budaya menyusuri beberapa ruas jalan di Samarinda, Senin (6/8/2012).
SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari kebesaran Dewi Guanyin tahun ini ditandai dengan kirab budaya menyusuri beberapa ruas jalan di Samarinda, Senin (6/8/2012).

Kirab diawali dengan ritual keagamaan di Kelenteng Thien Ie Kong, selanjutnya rupang (patung) Dewi Guanyin yang sudah berumur lebih dari seratus tahun diarak keliling Samarinda menggunakan tandu khusus.

Kirab budaya yang dimulai dari kelenteng di Jl Yos Sudarso, berlanjut ke Jl Nahkoda, Jl Mulawarman, Jl Pangeran Suriansyah kembali ke kelenteng di Jl Yos Sudarso. Sepanjang kirab, umat dapat melakukan penghormatan kepada Dewi Guanyin, yang juga dikenal sebagai Dewi Welas Asih. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pengurus Kelenteng Thien Ie Kong, Jl Yos Sudarso

Menurut Ketua Panitia Kirab, Go Hengseng, dalam tradisi religius Tionghoa, ada tiga kali peringatan hari kebesaran Dewi Guanyin setiap tahunnya. Salah satunya jatuh pada tanggal 19 (Cap Kau, Shijiu) bulan 6 (Lak Gwee, Liu Yue) dalam penanggalan Imlek, atau bertepatan dengan 6 Agustus mendatang. Biasanya, pada hari ini akan dilakukan persembahyangan di setiap rumah yang memiliki altar Guanyin, atau sembahyang di kelenteng.

"Kenapa tahun ini kita adakan kirab, karena tahun ini bertepatan dengan hari kesempurnaan. Itulah yang latar bekakang kita adakan kirab. Berbeda daru tahun - tahun sebelumnya," kata Go Hengseng.

Sosok Dewi Guanyin lanjutnya, atau yang dikenal dengan sebutan dalam dialek Hokkien sebagai Kwan Im, maupun sebagai Bodhisatva Avalokitesvara, menjadi salah satu figur penting dalam kepercayaan Tionghoa (Tri Dharma).

Dalam kepercayaan Tri Dharma, sosok Dewi Guanyin yang dikenal saat ini merupakan sinkretisme atau peleburan dari figur Bodhisatva (calon Buddha) Avalokitesvara dalam ajaran Buddha aliran Mahayana dan Tantrayana, serta figur Putri Miao Shan yang ada di Tiongkok. Itu sebabnya, dalam peringatan hari kebesaran Dewi Guanyin pada tanggal 19 bulan 6 Imlek ini, diceritakan bahwa Dewi Guanyin menolak untuk menjadi Buddha sepenuhnya dan meninggalkan semesta fana, selama manusia dan makhluk lainnya masih tenggelam dalam penderitaan. Ini juga yang menjadi semangat umat Tri Dharma untuk selalu memupuk karma baik dan peduli dengan sesama makhluk hidup, serta tidak saling menyakiti. Sikap ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi maupun dalam lingkungan bermasyarakat.

"Hikmah dan teladan yang terkandung dalam peringatan hari kebesaran Dewi Guanyin kali ini, yakni sifat Welas Asihnya seperti seorang ibu, keinginan hatinya agar seluruh umat manusia dan makhluk lainnya terbebas dari lautan kesengsaraan," jelas Go Hengseng.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved