Tribun Batam
Gas Alam Masih akan Melanjutkan Koreksi
Tribun Kaltim - Selasa, 7 Agustus 2012 09:09 WITA
Share |
JAKARTA, tribunkaltim.co.id -  Harga gas alam kembali tertekan. Awal pekan lalu, harga gas alam sempat mencapai level US$ 3,21 per milion metric British Thermal units (mmBtu) namun di akhir minggu harga gas alam terkoreksi hingga US$ 2,88 per mmBtu.

Kemarin (6/8), harga gas alam untuk pengiriman September 2012 di New York Mercantile Exchange kembali terkoreksi 2,09% menjadi US$ 2,81 per mmBtu dibanding harga sehari sebelumnya.

Penyebabnya, selain persediaan gas alam di Amerika Serikat (AS) yang meningkat, harga gas alam juga terseret kekecewaan pasar terhadap keputusan European Central Bank (ECB) pada pekan lalu yang dianggap belum bisa mengatasi krisis di Uni Eropa.

Departemen Energi AS menghitung, persediaan gas alam di AS meningkat 56 miliar kaki kubik menjadi 3,22 triliun kaki kubik selama sepekan yang berakhir di 27 Juli. Jumlah itu di atas prediksi para analis yang disurvei Bloomberg sebesar 23 miliar kubik.

Harga gas alam terkoreksi setelah prediksi cuaca di wilayah utara AS pada pertengahan Agustus akan lebih dingin. Ini berpengaruh terhadap berkurangnya permintaan gas alam sebagai pengganti batubara untuk kebutuhan pendingin udara di AS.

Sehingga, persediaan gas alam di AS naik dan terjadi oversupply di pasar. "Namun, harga gas masih akan berfluktuasi selama kekhawatiran suplai gas akan terganggu oleh badai tropis Ernesto yang terjadi di Puerto Rico," ujar Tim Evans, analis energi Citi Futures Perspective di New York kepada Bloomberg.

Badai ini berpotensi memburuk selama sepekan ke depan. "Kami akan mengawasi pergerakan badai Ernesto yang kemungkinan akan menuju Teluk Meksiko dalam tujuh hingga 10 hari ke depan," ujar Evans.

Wahyu Tribowo Laksono, pengamat komoditas, mengatakan, pada pekan lalu pernyataan Presiden The Federal Reserve, Ben Bernanke dan Presiden ECB, Mario Draghi memberikan optimisme pasar. Itu membuat harga komoditas sempat menguat. Tapi ternyata, hasil rapat ECB Kamis (2/8), tidak sesuai ekspektasi pasar dan harga komoditas kembali terkoreksi.

Senior Analyst Harvest International Futures, Ibrahim, menambahkan, gas alam diprediksi akan kembali melemah karena krisis di Eropa masih menghantui. Apalagi, selama ECB belum akan mengambil langkah stimulus untuk mengeluarkan Eropa dari jurang krisis.

Ibrahim memprediksi, harga gas alam akan bergerak di rentang US$ 2,85 per mmBtu hingga US$ US$ 2,93 per mmBtu. Sedangkan Wahyu berpendapat, tren pergerakan harga gas alam masih akan menunggu beberapa data ekonomi AS pada pekan ini.


Editor : Fransina
Sumber : Kontan