Inilah Surat Balasan La Nyalla Menanggapi Surat AFC
Tribun Kaltim - Selasa, 28 Agustus 2012 23:37 WITA
Kepada yang terhormat,
Dato' Alex Soosay General Secretary Asian Football Confederation
Perihal : Pelepasan pemain untuk tim nasional
Berkaitan dengan surat anda sebelumnya, saya ingin menjelaskan tentang duduk permasalahan yang menyebabkan beberapa klub ISL melarang pemainnya untuk bergabung dengan tim nasional (timnas).
KPSI dan ISL menyadari betul adanya peraturan FIFA terutama status and transfer of Players yang melarang perjanjian antara klub dengan pemainnya untuk dapat memperkuat timnas pemain terkait. Walau demikian aturan pelepasan pemain tersebut memiliki kondisi hanya jika pertandingan yang dimaksud masuk ke dalam kalender pertandingan internasional yang dikeluarkan oleh FIFA atau yang lebih dikenal dengan istilah International "A" matches.
Seperti permintaan pelepasan pemain yang dilayangkan PSSI terhadap beberapa klub pasa saat akan melakukan pertandingan uji coba melawan klub Spanyol; Valencia FC. Tanggal pelaksanaan pertandingan adalah 4 Agustus 2012. Tanggal tersebut tidak termasuk ke dalam kalender pertandingan internasional FIFA dan oleh sebab itu klub-klub tadi tidak memiliki kewajiban untuk melepas pemainnya seperti tertuang pada peraturan FIFA tentang Status and Transfer Of Players aneks 1, artikel 1, ayat 3 .
Permintaan tersebut bahkan mengharuskan klub-klub tadi melepaskan pemainnya lima hari sebelum pertandingan dan juga harus segera bergabung untuk TC sehari setelah pertandingan tersebut. Pelanggaran terhadap peraturan FIFA memperjelas bahwa tindakan tersebut tidak sah dan illegal dan juga memperlihatkan kurangnya pemahaman PSSI terhadap peraturan dan petunjuk FIFA.
Kepemimpinan PSSI saat ini telah gagal untuk mengatur timnas secara efisien. Tidak adanya rencana jangka panjang dan kurangnya dukungan dari segi teknis telah menjadikan timnas Indonesia berada di level yang sangat rendah
Beberapa perandingan timnas membuktikan hal itu semua. Semenjak Djohar Arifin memimpin PSSI timnas Indonesia tenggelam kedalam tingkatan yang cukup memalukan. Kekalahan 10-0 atas Bahrain pada babak kualifikasi piala dunia 2014, perekrutan pelatih dan administrator yang kurang pengalaman serta ilmu dan mengadakan pertandingan-pertandingan uji coba yang dirancang tergesa-gesa.
Pemecatan Alfred Riedl yang notabene memiliki kualitas pelatihan yang baik hanya karena dia dikontrak oleh administrator PSSI sebelumnya adalah kesalahan pertama yang mereka buat. Setelah itu beberapa kesalahan lainnya dilakukan oleh mereka seperti melarang pemain-pemain ISL untuk dapat bergabung dengan timnas, batalnya turnamen Java Cup dan keikutsertaan timnas pada turnamen Al-Nakbah di Palestina yang bukan merupakan turnamen yang disetujui/sahkan oleh FIFA maupun AFC.
Akibat dari rendahnya kualitas IPL menyebabkan pemain-pemain yang dipanggil untuk memperkuat timnas kurang memiliki pengalaman dan talenta untuk bertanding melawan timnas lain yang memiliki liga domestik yang kuat.
Memaksakan pelatih dengan jam terbang internasional yang rendah adalah salah satu kedangkalan pemikiran PSSI saat ini. Keterpurukan timnas Indonesia akan terus berlanjut selama kepemimpinan dipegang oleh DAH dimana sekarang Indonesia berada pada posisi terendah sepanjang masa yaitu posisi ke-159.
Sebagai perwakilan KPSI pada saat sebelum penandatanganan MoU Saya menganggap mendapatkan kepastian bahwa JC akan menyelesaikan permasalahan dualisme liga dan asosiasi sebagai badan koordinasi untuk segala permasalahan PSSI. Dimana masalah keanggotaan dan juga timnas merupakan hal yang termasuk didalamnya. Sampai saat ini semua hal diatas samasekali belum/tidak terlaksana sebagaimana mestinya
Pada saat masalah-masalah tersebut tidak dibahas dalam rapat JC, Saya selaku representatif KPSI menganggap bahwa semangat MoU telah tercoreng. PSSI masih melanjutkan pengelolaan timnas secara sepihak dan juga tetap melakukan perubahan-perubahan terhadap susunan komite eksekutif secara ilegal dari 33 Pengprov PSSI yang ada, dimana hal tersebut bertolak belakang dengan konsep dasar MoU.
Untuk memperbaiki nasib timnas, KPSI telah mengambil beberapa keputusan; Menghadirkan kembali Alfred Riedl sebagai pelatih dan segera memulai TC pada 5 september 2011 di Malang. Hal ini juga untuk memastikan Indonesia memiliki perwakilan terbaik dalam AFF Cup di bulan November 2012.
Di lain pihak, timnas yang dibangun PSSI tidak merepresentasikan pemain-pemain terbaik Indonesia, dimana semua pemain tersebut berada di dalam klub-klub ISL. Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal.
Selain penjelasan mengenai FIFA Status and Transfer of Players, penggalan-penggalan paragraf diatas merupakan alasan mengapa pemain ISL tidak kami lepaskan untuk memperkuat timnas PSSI. Namun kami juga telah mempersiapkan timnas yang sesungguhnya yang dipimpin oleh pelatih kepala Alfred Riedl yang kami harapkan dapat dikelola dan dikoordinasikan oleh JC.
Apabila ada hal-hal yang perlu penjeIasan lebih lanjut Saya sangat bersedia memberikannya.
Dengan Hormat,
LA NYALLA MATTALITTI
Cc: Chairman and Members, Joint PSSI Committee
27 Agustus 2012
Dato' Alex Soosay General Secretary Asian Football Confederation
Perihal : Pelepasan pemain untuk tim nasional
Berkaitan dengan surat anda sebelumnya, saya ingin menjelaskan tentang duduk permasalahan yang menyebabkan beberapa klub ISL melarang pemainnya untuk bergabung dengan tim nasional (timnas).
KPSI dan ISL menyadari betul adanya peraturan FIFA terutama status and transfer of Players yang melarang perjanjian antara klub dengan pemainnya untuk dapat memperkuat timnas pemain terkait. Walau demikian aturan pelepasan pemain tersebut memiliki kondisi hanya jika pertandingan yang dimaksud masuk ke dalam kalender pertandingan internasional yang dikeluarkan oleh FIFA atau yang lebih dikenal dengan istilah International "A" matches.
Seperti permintaan pelepasan pemain yang dilayangkan PSSI terhadap beberapa klub pasa saat akan melakukan pertandingan uji coba melawan klub Spanyol; Valencia FC. Tanggal pelaksanaan pertandingan adalah 4 Agustus 2012. Tanggal tersebut tidak termasuk ke dalam kalender pertandingan internasional FIFA dan oleh sebab itu klub-klub tadi tidak memiliki kewajiban untuk melepas pemainnya seperti tertuang pada peraturan FIFA tentang Status and Transfer Of Players aneks 1, artikel 1, ayat 3 .
Permintaan tersebut bahkan mengharuskan klub-klub tadi melepaskan pemainnya lima hari sebelum pertandingan dan juga harus segera bergabung untuk TC sehari setelah pertandingan tersebut. Pelanggaran terhadap peraturan FIFA memperjelas bahwa tindakan tersebut tidak sah dan illegal dan juga memperlihatkan kurangnya pemahaman PSSI terhadap peraturan dan petunjuk FIFA.
Kepemimpinan PSSI saat ini telah gagal untuk mengatur timnas secara efisien. Tidak adanya rencana jangka panjang dan kurangnya dukungan dari segi teknis telah menjadikan timnas Indonesia berada di level yang sangat rendah
Beberapa perandingan timnas membuktikan hal itu semua. Semenjak Djohar Arifin memimpin PSSI timnas Indonesia tenggelam kedalam tingkatan yang cukup memalukan. Kekalahan 10-0 atas Bahrain pada babak kualifikasi piala dunia 2014, perekrutan pelatih dan administrator yang kurang pengalaman serta ilmu dan mengadakan pertandingan-pertandingan uji coba yang dirancang tergesa-gesa.
Pemecatan Alfred Riedl yang notabene memiliki kualitas pelatihan yang baik hanya karena dia dikontrak oleh administrator PSSI sebelumnya adalah kesalahan pertama yang mereka buat. Setelah itu beberapa kesalahan lainnya dilakukan oleh mereka seperti melarang pemain-pemain ISL untuk dapat bergabung dengan timnas, batalnya turnamen Java Cup dan keikutsertaan timnas pada turnamen Al-Nakbah di Palestina yang bukan merupakan turnamen yang disetujui/sahkan oleh FIFA maupun AFC.
Akibat dari rendahnya kualitas IPL menyebabkan pemain-pemain yang dipanggil untuk memperkuat timnas kurang memiliki pengalaman dan talenta untuk bertanding melawan timnas lain yang memiliki liga domestik yang kuat.
Memaksakan pelatih dengan jam terbang internasional yang rendah adalah salah satu kedangkalan pemikiran PSSI saat ini. Keterpurukan timnas Indonesia akan terus berlanjut selama kepemimpinan dipegang oleh DAH dimana sekarang Indonesia berada pada posisi terendah sepanjang masa yaitu posisi ke-159.
Sebagai perwakilan KPSI pada saat sebelum penandatanganan MoU Saya menganggap mendapatkan kepastian bahwa JC akan menyelesaikan permasalahan dualisme liga dan asosiasi sebagai badan koordinasi untuk segala permasalahan PSSI. Dimana masalah keanggotaan dan juga timnas merupakan hal yang termasuk didalamnya. Sampai saat ini semua hal diatas samasekali belum/tidak terlaksana sebagaimana mestinya
Pada saat masalah-masalah tersebut tidak dibahas dalam rapat JC, Saya selaku representatif KPSI menganggap bahwa semangat MoU telah tercoreng. PSSI masih melanjutkan pengelolaan timnas secara sepihak dan juga tetap melakukan perubahan-perubahan terhadap susunan komite eksekutif secara ilegal dari 33 Pengprov PSSI yang ada, dimana hal tersebut bertolak belakang dengan konsep dasar MoU.
Untuk memperbaiki nasib timnas, KPSI telah mengambil beberapa keputusan; Menghadirkan kembali Alfred Riedl sebagai pelatih dan segera memulai TC pada 5 september 2011 di Malang. Hal ini juga untuk memastikan Indonesia memiliki perwakilan terbaik dalam AFF Cup di bulan November 2012.
Di lain pihak, timnas yang dibangun PSSI tidak merepresentasikan pemain-pemain terbaik Indonesia, dimana semua pemain tersebut berada di dalam klub-klub ISL. Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal.
Selain penjelasan mengenai FIFA Status and Transfer of Players, penggalan-penggalan paragraf diatas merupakan alasan mengapa pemain ISL tidak kami lepaskan untuk memperkuat timnas PSSI. Namun kami juga telah mempersiapkan timnas yang sesungguhnya yang dipimpin oleh pelatih kepala Alfred Riedl yang kami harapkan dapat dikelola dan dikoordinasikan oleh JC.
Apabila ada hal-hal yang perlu penjeIasan lebih lanjut Saya sangat bersedia memberikannya.
Dengan Hormat,
LA NYALLA MATTALITTI
Cc: Chairman and Members, Joint PSSI Committee
27 Agustus 2012
Penulis : Feri Mei Efendi
Sumber : Tribun Kaltim