TribunKaltim/

Di Tana Tidung Pengrajin Batu Batu Mulai Menjamur

Pesatnya pembangunan di KTT memberikan dampak yang positif bagi para pengrajin batu bata.

Di Tana Tidung Pengrajin Batu Batu Mulai Menjamur
Ilustrasi.
TIDENG PALE, tribunkaltim.co.id– Pesatnya pembangunan di Kabupaten Tana Tidung memberikan dampak yang positif bagi para pengrajin batu bata, tak heran jika bisnis batu batu pun mulai ikut menjamur. 

Di kecamatan Sesayap dan Seyap hilir banyak bermunculan industri rumahan, pelaku usaha juga didominasi oleh pendatang baru dari luar daerah.

Menjamurnya industri  batu bata merupakan indikasi kemajuan pembangunan fisik di Tana Tidung, hal inilah yang tidak disia-siakan Sutomo, pria 42 tahun ini mengakui perkembangan usahanya sejalan dengan kemajuan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten. 

”Pembangunan berkelanjutan memberikan peluang bagi banyak orang, salah satunya pembuat batu bata seperti saya. Sudah hampir setahun permintaan akan batu bat uterus meningkat,”katanya, Minggu (23/9).

Meskipun dewasa ini sudah ditemukan inovasi bahan pengganti batu bata seperti batako untuk dinding bangunan, tetapi sebagian besar masyarakat masih menggunakan batu batu. Hal ini merupakan peluang usaha yang masih terbuka lebar, apalagi dalam memenuhi permintaan material utama pendukung pembangunan khususnya di bidang property, sehingga hasil produk batu bata banyak dibutuhkan bagi pembangunan di Tana Tidung.

“Dengan banyaknya proyek pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah maupun masyarakat pada umumnya, usaha yang saya rintis sejak satu tahun lalu ini terus menunjukan perkembangan. Untuk saat ini permintaan masih didominasi oleh pemerintah, seperti proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Sekolah terpadu, selain itu banyak warga yang sudah mulai membangun rumahnya dengan menggunakan batu bata,”sebutnya.

Setiap harinya Sutomo mengaku mampu mencetak sekitar 200 batang batu bata, sedangkan prosesnya memakan waktu agak lama. Pertama-tama membuat adonan dari tanah liat kemudian dipadatkan dan dicetak kedalam cetakan yang terbuat dari kayu, batu bata yang masih basah disusun memanjang dan melebar sesuai kapasitas tempat penjemuran.

“Proses mengeringkan ini biasanya membutuhkan waktu sehari bila keadaan cuaca panas, tetapi jika hujan atau mendung bisa memakan waktu hingga lima hari atau lebih, pengeringan ini bertujuan agar daya ikatan bahan tanah kuat dan tidak mudah patah maupun hancur,”terangnya.

Tahap terakhir dari pembuatan batu bata adalah pembakaran selama dua hari dua malam di tungku yang telah di rancang sedemikian rupa, sedangkan pemanasan menggunakan kayu yang dibakar di sekitar tumpukan batu bata yang telah disusun di tungku raksasa.

“Pembakaran biasanya dilakukan sebulan sekali menunggu berkumpulnya batu bata kering, dibutuhkan tiga pekerja untuk mengawasi pembakaran, setelah warna batu bata kemerah – merahan langkah selanjutnya didinginkan dan siap dipasarkan,”urainya.

Dijelaskan bapak tiga anak ini, harga standar untuk batu batanya Rp 8.000 per batang dengan ukuran 9 x 20 centimeter, omsetnya pun tidak menentu rata – rata dalam sekali jual Sutomo dapat meraup keuntungan hingga Rp 3.000.000.

“Naik turunya harga batu bata tergantung dari proyek yang dilaksanakan pemerintah daerah, semakin maju dan berkembang proyek pemerintah akan semakin baik prospek kedepanya, meskipun demikian diharapkan ada perhatian dari pemerintah terhadap para pengrajin batu bata, terutama untuk standar harga sehingga persaingan yang semakin ketat bisa berjalan dengan sehat, tidak saling menjatuhkan dengan menjual dengan harga murah,” pungkasnya.
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help