TribunKaltim/

Investor Malaysia Siap Tanam Modal di Sesayap

Pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di kecamatan Sesayap Kabupaten Tana Tidung akan dimulai tahun 2012.

TIDENG PALE, tribunkaltim.co.id– Pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di kecamatan Sesayap Kabupaten Tana Tidung akan dimulai tahun 2012, ditargetkan 2013 mendatang sudah bisa beroperasi dan akan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.

Hal tersebut disampaikan kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Dishutamben) KTT Tajuddin Noor, Selasa (25/9). Kecamatan Sesayap merupakan salah satu kawasan perkebunan kelapa sawit yang cukup luas, khusus untuk Sesayap seberang luasanya telah mencapai 30 ribu hektar, yang dikelola oleh dua investor asal Negara tetangga Malaysia.

“Mudah – mudahan akhir 2012 proses pembangunanya sudah bisa dimulai, karena kelapa sawit yang ditanam telah memasuki masa panen permanen yang bisa dilakukan dua kali dalam satu bulan, jika tidak ada pabrik pengolahan akan dikemanakan buah kelapa sawit yang telah matang,”kata Tajuddin.

Dijelaskanya, dua investor yang telah siap membangun pabrik pengolahan kelapa sawit yaitu PT. Tabung Haji dan Pelda yang merupakan investor asal Negeri Jiran Malaysia. Dengan adanya pabrik pengolahan Crude Palm Oil (CPO) di KTT yang memiliki antara 60 ribu hingga 70 ribu hektar  kawasan perkebunan kelapa sawit, diharapkan kesejahteraan warga utamanya yang berada di lingkungan perkebunan bisa meningkat.

“Setelah pabrik CPO ini beroperasi akan menyerap tenaga kerja lokal tidak kurang dari 3.000 orang, selain itu masyarakat juga bisa mengelola kebun kelapa sawit dengan system plasma, bahkan jika memungkinkan dapat menanam sendiri dan mengelola kebun kelapa sawit, karena pabrik pengolahan sudahada, sehingga petani tidak akan kesulitan untuk menjual hasil panenya,”paparnya.

Tajuddin menambahkan, dengan harga jual kelapa sawit yang cenderung stabil kebun kelapa sawit plasma yang luasanya satu hektar sudah dapat menghasilkan sekitar delapan juta rupiah setiap bulanya.

”Jika usia kelapa sawit telah mencapai delapan tahun, sudah bisa dibilang memasuki masa panen permanen, yang buahnya telah sempurna untuk di olah menjadi minyak kelapa sawit. Panen permanen ini bisa dilakukan dua kali dalam satu bulan,”imbuhnya.

Sektor perkebunan dinilai mampu mendongkrak perekonomian warga KTT, sehingga perlu perhatian serius dari pemerintah kabupaten untuk terus mengembangkan kawasan perkebunan, khsusnya kepala sawit yang saat ini mulai bergeliat di Bumi Upun Taka.

“Dinas terkait terus berupaya memfasilitasi investor mupun masyarakat untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit, karena kedepan kepala sawit akan membantu peningkatan ekonomi masyarakat yang terlibat didalamnya,”urainya.

Setelah pembangunan pabrik CPO di kecamatan Sesayap beroperasi, tidak menutup kemungkinan pabrik – pabrik serupa juga akan dibangun, karena dari 30 ribu hektar saja minimal harus dibangun dua pabrik pengolahan, jika saat ini KTT memiliki kawasan kebun kelapa sawit yang mencapai 70 ribu hektar paling tidak dibutuhkan tiga pabrik pengolahan CPO.

“Dengan luasan perkebunan yang saat ini telah tertanami kelapa sawit yang mencamai 70 ribu hektar, tidak menutup kemungkinan jumlah pabrik pengolahan CPO akan bertambah, mengingat hasil panen akan melimpah, bila tidak dibarengi dengan pabrik pengolahan CPO akan mempengaruhi pola panen dan tentunya harga jual,”pungkasnya. 
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help