Tribunners / Citizen Journalism
Tribunners
Refleksi Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Kaltim
Tidak jarang terdengar dana jaminan kesehatan habis sebelum tahun berakhir di RS.
*Tingkatkan Komitmen pada Tatanan Kebijakan Operasional
Oleh: Rahmat Bakhtiar
- Dosen IKM Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarmaan
- Ketua IAKMI Kalimantan Timur
Profesor Winslow (1958) mendefenisikan kesehatan masyarakat sebagai ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dengan menggerakkan potensi seluruh masyarakat.
UPAYA yang tidak kenal lelah dari petugas kesehatan pada masa lalu membuat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kegiatan promotif dan preventif meningkat. Ungkapan seperti lebih baik mencegah dari pada mengobati ternyata belum disertai dengan perubahan sikap dan tindakan. Konsep kesehatan masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku sehat akan lebih terbentuk dan bertahan lama bila dilandasi kesadaran sendiri (internalisasi) sehingga konsep upaya sehat dari, oleh dan untuk masyarakat sangat tepat diterapkan.
Deklarasi Alma Ata dengan semboyan "Health for All" juga menyepakati peningkatan peran kesehatan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan. Tanpa pemahaman terhadap penyakit dan masalah kesehatan masyarakat maka masyarakat tidak akan memiliki dasar pemahaman yang kuat tentang masalah kesehatan yang ada. Jika kesenjangan, pemahaman konsep penyakit dan masalah kesehatan antara petugas kesehatan dan masyarakat semakin besar akan menjadi penghalang dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sebagai contoh rendahnya partisipasi masyarakat di posyandu, rendahnya tingkat pemakaian kondom pada masyarakat yang beresiko tinggi, atau tingginya prevalensi orang yang merokok di rumah dan lain-lain. Contoh di atas memberikan gambaran bahwa masyarakat belum terlibat secara aktif dalam kesehatan masyarakat.
Perilaku sehat masyarakat pun mengikuti saat paradigma sehat dikalahkan oleh perilaku sakit, yaitu memanfaatkan pelayanan kesehatan hanya pada saat sakit. Perilaku sakit masih dominan sehingga upaya kuratif yang membutuhkan biaya besar cenderung menyebabkan dana tidak tercukupi atau habis di tengah jalan.
Sehingga tidak jarang terdengar dana jaminan kesehatan habis sebelum tahun berakhir di RS. Karena itu diperlukan perubahan paradigma masyarakat menjadi paradigma sehat melalui pendidikan kesehatan secara terus menerus dan berkualitas..Para pemimpin sebaiknya mendukung peningkatan paradigma sehat di masyarakat. Jadi sangat tidak relevan jika seorang calon pemimpin baik Bupati/Walikota/gubernur mencanangkan janji pelayanan kesehatan gratis karena akan meningkatkan perilaku sakit.
Pelayanan kesehatan gratis mendorong masyarakat mengabaikan upaya pemeliharaan kesehatan pribadi. Rendahnya upaya memelihara kesehatan akan meningkatkan resiko sakit. Dalam paradigma sehat, resiko sakit ini akan jauh berkurang karena masyarakat selalu menjaga atau memelihara kesehatannya. Kemampuan memelihara kesehatan inilah yang selalu harus diingatkan dalam setiap kesempatan. Keterlibatan semua stakeholder kesehatan terbukti berdampak kepada perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat. Masalahnya adalah kegiatan promotif dan preventif tidak laku dijual secara politik. Pembangunan puskesmas 24 jam atau puskesmas rawat inap di perkotaan memberikan dampak politis yang dapat dirasakan dan dilihat langsung masyarakat serta dapat dijadikan dasar dalam menunjukkan "keberhasilan" pembangunan kesehatan. Sedangkan kegiatan perbaikan sistem manajemen kesehatan, sistem informasi kesehatan, penyuluhan dan kesehatan lingkungan dianggap sebagai kegiatan rutin.
Walaupun pemerintah selalu mengingatkan perlunya upaya perbaikan mutu pelayanan kesehatan seperti melalui program peningkatan kompetensi dan pemerataan distribusi tenaga kesehatan serta pendekatan akses melalui program puskesmas 24 jam dan akreditasi Rumah Sakit tetapi belum seluruh petugas kesehatan mendukung.
Hal tersebut terkait perilaku sehat petugas kesehatan yang masih banyak menyimpang dari tujuan awal keberadaannya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masih sering kita mendengar keluhan masyarakat tentang pelayanan yang diberikan. Dokter atau bidan yang tidak ada ditempat, terlambat datang ke fasyankes, ruang perawatan yang penuh dan lain-lain. Masalah ini menjadi catatan dan diharapkan dapat diperbaiki melalui perbaikan manajemen kesehatan.
Banyak terget MDG's yang harus dicapai melalui intervensi kesehatan masyarakat. Kedepannya pemerintah daerah seyogyanya mampu memilah dan lebih memprioritaskan kegiatan kesehatan masyarakat. Peran Dinas kesehatan berperan sebagai stewardship harus dioptimalkan sehingga mampu menjamin kegiatan kesehatam masyarakat dapat dilaksanakan.
Peningkatan kegiatan kesehatan masyarakat dapat dicapai dengan melalui (1). Pembenahan sistem kesehatan sehingga sistem kesehatan menjadi acuan atau arahan untuk pelaksanaan kegiatan program kesehatan.(2). Peningkatan peneriman masyarakat terhadap program kesehatan, (3). Meningkatkan proporsi dana untuk kegiatan kesehatan masyarakat misalnya dengan mengalokasikan dana BOK khusus daerah. (*)