Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Tribunners

Peradaban Lingkungan Lestari di Sekolah

Ingin belajar tentang kebersihan dan kesehatan datanglah ke sekolah, ingin belajar disiplin datanglah ke sekolah.

Tayang:
Editor: Fransina Luhukay
Oleh:  Anda Supanda, S.Pd.
Wakepsek SMKN 1 Samarinda


Sekolah sebagai satuan pendidikan formal memiliki peran penting dan strategis untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


DIKATAKAN berperan penting karena sekolah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak siswa serta peradaban bangsa. Proses pembudayaan dan pembiasaan hal-hal baik di sekolah itulah yang menjadi peran strategisnya. Apa yang dipelajari siswa saat sekolah, maka ketika sudah dewasa dan menjadi anggota masyarakat akan menuai hasilnya.


Penulis teringat pernyataan Prof. Dr. H. Rahmat Soe'oed, MA, guru besar Universitas Mulawarman, bahwa sekolah seyogyanya menjadi "center of civilization", pusat peradaban. Jika kita ingin menjadi pribadi yang baik dan bermoral maka datanglah ke sekolah, jika ingin menjadi pribadi unggul datanglah ke sekolah, ingin belajar tentang kebersihan dan kesehatan datanglah ke sekolah, ingin belajar disiplin datanglah ke sekolah, ingin menjadi pengusaha sukses datanglah ke sekolah, ingin menjadi penulis datanglah ke sekolah dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadi sesuatu yang diharapkan oleh siswa, maka harus belajar di sekolah. Itulah yang disebut sekolah sebagai pusat peradaban.


Segala sesuatu yang menjadi ekspektasi masyarakat yang begitu besar terhadap peran sekolah sebagai pusat peradaban terkadang terbentur oleh birokrasi dan aturan yang mengungkung sekolah. Adakalanya sekolah ingin berkreasi tentang sesuatu yang memerlukan dana, namun anggaran sudah diplot sedemikan rupa, sehingga tidak boleh mengutak-atik. Disisi lain pemimpin sekolah juga  belum bisa mengimbangi harapan-harapan stakeholders sekolah dengan program-programnya yang jelas dan bermutu. Yang pada akhirnya kepercayaan masyarakat menurun dan ekspektasi terhadap sekolah sebagai pusat peradaban menjadi luntur dan kabur.


Bagaimanapun kondisi sekolah yang demikian sangat sedikit jumlahnya. Masih banyak sekolah terutama pemimpinnya yang berupaya keras menenuhi harapan besar masyarakat yang sudah mencap sekolah sebagai pusat peradaban, pusat segalanya dengan membeberkan program-program nyata menyangkut isu kekinian seperti isu lingkungan. Gayung bersambut karena pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup memiliki program  pelestarian dan pemeliharaan lingkungan.


Adiwiyata sebagai Trigger
Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif. Adiwiyata bermakna tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup  menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.


Sedangkan yang menjadi tujuan dari Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Program Adiwiyata dapat menjadi trigger untuk mewujudkan sekolah sebagai pusat peradaban, khususnya bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai kebersihan, keindahan dan kesehatan lingkungan. Beberapa sekolah di Samarinda, mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah sudah menunjukan prestasi dalam program ini. Bahkan mulai minggu ini sekolah juga menjadi salah satu unsur yang dinilai dalam Program Adipura yaitu program strategis Kementerian Lingkungan Hidup yang mempunyai maksud dan tujuan untuk mendorong pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan kota yang bersih dan teduh dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dan tata kelola lingkungan yang baik.  


Ketidaksempurnaan Kondisi
Penanaman nilai-nilai kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekolah sebagai bagian budaya, mendapat tantangan berat ketika siswa menghadapi kondisi riil di masyarakat yang tidak mendukung budaya tersebut. Sebagai contoh banyaknya penambangan yang tidak memperhatikan lingkungan sekitar, apakah dekat dengan pemukiman atau tidak, adanya kegiatan galian C, pengurukan rawa, yang sejatinya merupakan serapan air, kegiatan membuang sampah ke sungai, membakar sampah yang dapat menimbulkan racun dan pemanasan global. Kondisi di atas dapat menimbulkan ekses yang berbahaya bagi kesejahteraan masyarakat seperti banjir dan tanah longsor.


Namun demikian hal-hal tersebut merupakan tantangan sekaligus ketidaksempurnaan dari kondisi riil di masyarakat. Sekolah harus memberikan pemahaman kepada siswa sehingga  dapat menyikapinya dengan cara yang sempurna. Artinya ada hikmah yang bisa dipetik untuk melestarikan lingkungan agar ke depan para siswa tidak melakukan hal seperti itu dan  memiliki pemahaman yang utuh dan menyeluruh dalam melihat dampak kegiatan negatif tersebut.


Menjaga kelestarian lingkungan adalah kewajiban bagi kita. Pemberian pemahaman kepada siswa tentang bagaimana menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan adalah investasi bagi masa depan. Ini merupakan hal urgent karena merekalah yang akan menjadi pelaku sejarah nantinya. Seluruh pihak sudah saatnya mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan, tidak hanya di sekolah tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Semoga jerih payah para pempimpin sekolah yang sedang giat menuju Sekolah Adiwiyata dapat mempercepat terwujudnya sekolah sebagai pusat peradaban yang sesungguhnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved