Rabu, 10 Juni 2026

Gizi Buruk di PPU

SAAT ini Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, sedang sibuk mempersipakan pelaksanaan pemilihan

Tayang:
SAAT ini Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, sedang sibuk mempersipakan pelaksanaan  pemilihan Bupati/Wakil Bupati Periode 2013-2018. Pilkada dilaksanakan 25 April 2013 mendatang. Ini tugas berat untuk mencari pemimpin baru bagi sekitar 180.000 jiwa yang mendiami wilayah seluas  3.333,06 Km 2.

Sebagai gambaran umum, tahun 2013 ini PPU mengetok APBD sebesar Rp 1,661 triliun, melejit dibanding tahun 2012 sebesar Rp 1,564 triliun. Menurut situs penajamkab.go.id, pendapatan penduduk Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara tahun 2003-2009 perkapita ± sebesar Rp. 4.765.007 /tahun atau sekitar $ 475 /tahun. Barangkali tahun 2012 sekarang sudah ada kenaikkan mencapai Rp5-6 juta lebih/ tahun/kapita.

Nah kalau mau bodoh-bodohan, tak usah berpikir keras cuma membagi uang saja, maka APBD sebesar Rp 1,661 triliun langsung dibagikan ke masyarakat, maka warga PPU mempunyai pendapatan besar mencapai Rp 9,21 juta/kapita/tahun.

Jadi apabila dimanfaatkan secara maskimal, maka APBD PPU seharusnya akan jauh lebih baik. Angka Rp 1,661 triliun bakal menjadi berlipat-lipat apabila pemimpin di PPU cerdas dan inovatif menggunakan anggaran sehingga pendapatan perkapitanya bukan cuma Rp 9 juta barangkali bisa mencapai Rp 12-15 juta/tahun.

Bagaimanakah kenyataannya? Mari kita melihat laporan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Rini Retno Sukesi, Jumat (28/2), selama rentang waktu Januari-Desember 2012, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki kasus gizi buruk terbanyak (seluruh Kaltim).

Dari total 478 kasus se-Kaltim, di Kabupaten  PPU terdapat 206 anak gizi buruk. Dari total 478 anak gizi buruk itu, 12 anak di antaranya meninggal dan 466 anak berhasil ditingkatkan status gizinya hingga normal.

Rini menambahkan, 12 anak yang meninggal itu adalah satu anak dari Kabupaten Paser, satu anak dari Kutai Barat, enam anak dari Kutai Kartanegara (terbanyak meninggal dunia), dua anak dari PPU, satu anak dari Balikpapan, dan satu anak dari Samarinda.

Daerah dengan kasus gizi buruk terbanyak kedua di Kaltim adalah di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan jumlah 72 anak, disusul Kabupaten Bulungan terdapat 45 anak, dan dari Kota Tarakan terdapat 36 anak.

Kasus gizi buruk berikutnya terdapat di Paser sebanyak 24 anak, Bontang 15 anak, Kutai Barat 10 anak, Balikpapan dan Tana Tidung masing-masing sembilan anak, Malinau empat anak, Berau dua anak, dan Kutai Timur tak ada laporan penderita gizi buruk.

Penderita gizi buruk terjadi lantaran asupan gizi pada anak yang kurang. Untuk itu, Diskes Kaltim pada 2012 memberikan makanan pendamping ASI ke sejumlah kabupaten dan kota mencapai 9.604 kilogram (kg). Rinciannya antara lain untuk Bulungan 562 dus yang berisi 3.777 kg, untuk Paser 155 dus yang berisi 1.045 kg, untuk Kutai Barat 470 kg, Kutai Timur 700 kg, Malinau 225 kg, Nunukan 525 kg, PPU 360 kg, Samarinda 930 kg, dan untuk Bontang sebanyak 300 kg.

Ini sebuah ironi! Ketika sebuah wilayah mempunyai dana cukup, akan tetapi masih ditemukan anak-anak sebagai generasi bangsa ini kekurangan gizi. Bagaimanapun PPU harus berani melakukan melakukan evaluasi internal, bagaimana dengan 'kekayaan' sebegitu besar ternyata menyandang sebagai daerah dengan kasus gizi buruk tertinggi.

Kini saatnya warga PPU bisa melakukan evaluasi kepada siapakah dukungan itu diberikan. Apakah tokoh-tokoh yang sekarang tampil sebagai pemimpin dan calon pemimpin itu sudah memberikan pelayanan terbaik bagi warganya? Apakah sudah ada usaha serius dan niat memberikan pelayanan tulus dan jujur kepada rakyatnya?

Sudah saatnya calon pemimpin di PPU mendatang bukan hanya bicara soal gizi buruk saja, akan tetapi benar-benar tokoh yang mampu memberikan perlindungan, kesejahteraan dan sikap terbuka untuk warganya.

Nah, warga PPU gunakanlah seluruh pikiran dan hati nurani Anda untuk memilih tokoh yang tepat. Jangan menjadi objek belaka, melainkan sudah waktunya menentukan nasib PPU secara keseluruhan di masa mendatang. Sekali Anda salah menentukan pilihan, maka lima tahun ke depan nasib Anda menjadi taruhan. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved