A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Mayoritas Pelabuhan Khusus di Berau Belum Kantongi Izin - Tribun Kaltim
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Kaltim

Mayoritas Pelabuhan Khusus di Berau Belum Kantongi Izin

Jumat, 15 Maret 2013 22:27 WIB
TANJUNG REDEB, tribunkaltim.co.id- Pelabuhan khusus (Pelsus) di Kabupaten Berau semakin marak, jumlahnya pun tidak sedikit. Data yang dihimpun Tribun, jumlah pelsus kini mencapai 18 lokasi. 13 diantaranya milik perusahaan tambang batu bara sedangkan sisanya dimiliki oleh perusahaan perkebunan sawit.

Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP), Abdul Nasir saat ditemui Tribun di ruang kerjanya mengatakan, dari 18 pelsus itu, hanya tiga pelsus yang sudah memiliki izin operasional dari Kementerian Perhubungan. Namun pihaknya enggan menyebutkan nama-nama perusahaan lain yang tidak memiliki izin operasional.

“Sampai saat ini, yang sudah punya izin operasional hanya Berau Coal, SBE (Supra Bara Energi) dan Swakarsa,” ungkapnya. Sedangkan 15 pelsus lainnya masih dalam tahap pengurusan izin. Meski demikian, 15 pelsus yang belum memiliki izin tersebut, ternyata sudah sejak lama beroperasi.

Padahal, pelsus tidak diperbolehkan beroperasi jika belum mengantongi izin operasi. “Memang ada tiga tahapan yang harus dilakukan sebelum beroperasi, tapi jangan salahkan saya, pelsus itu sudah beroperasi sebelum saya bertugas di Berau,” kilahnya.

“Kecuali saya datang (bertugas di Berau) ada pelabuhan baru, bisa saya kendalikan. Tapi pelsus yang ada sekarang ini sudah beroperasi sejak lama,” imbuhnya.

Selain itu, KUPP mengaku tidak bisa serta merta menutup pelsus yang tidak berizin tersebut. “Masa harus saya stop (tutup)? Kalau saya tutup perekonomian berhenti, ” katanya lagi. Menurutnya, saat ini ada ribuan karyawan yang bekerja di belasan perusahaan yang memiliki pelsus itu.

Jika pelsus ditutup, kata Nasir, maka kegiatan produksi akan terhenti karena hasil tambang atau perkebunan sawit tidak bisa dipasarkan. Meski belum mengantongi izin dan telah beroperasi, namun Nasir menegaskan, pihaknya mengeluarkan edaran kepada perusahaan yang memiliki pelsus.

KUPP juga mengaku sudah melakukan survey lokasi 18 pelsus itu, setelah mensurvey, KUPP mengeluarkan surat rekomendasi kepada Kementerian Perhubungan. Dijelaskannya, ada tiga tahapan yang harus dilakukan sebelum mengoperasikan pelsus.

Pertama, pemilik pelsus harus mengajukan izin penetapan lokasi. Kedua, izin pembangunan pelabuhan kepada Dirjen Perhubungan Laut, selanjutnya mengajukan izin ke Kementerian Perhubungan. Setelah itu, barulah pelsus boleh dioperasikan.

Meski demikian, KUPP telah melayangkan surat teguran kepada pemilik pelsus yang belum mengantongi izin. “Saya sudah mengeluarkan surat edaran yang disertai ancaman, mereka harus segera mengurus izin pelsus,” tegasnya.

Sementara itu, Polres Berau juga telah melakukan pemeriksaan terhadap 10 pelsus yang beroperasi di Berau. Temuan sementara, masih banyak pelsus ilegal.

“Kami (Polres Berau) sudah melakukan pemeriksaan pelabuhan khusus, baru memeriksa sebagian. Hanya ada beberapa yang sudah memiliki izin,” ungkap Kasat Reskrim, Polres Berau, AKP Yogie Hardiman saat ditemui Tribun di Mapolres Berau.

Senada dengan pernyataan KUPP, Polres Berau mengaku tidak bisa menindak keberadaan pelabuhan ilegal tersebut. “Mereka (pemilik pelsus) sudah mengurus izinnya, sudah satu bulan belum keluar, siapa yang salah?,” ujarnya.

“Satu bulan mereka mengajukan izin operasi tapi belum diberikan, masa harus menunggu terus, bisa rugi,’ tandasnya.
Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas