Berbusana Daerah di Tempat Kerja
Para perempuan anggun berkain dan berkebaya, sedangkan para pria terlihat gagah mengenakan beskap dipadu kain jarit, belangkon, dan selop.
Tribunkaltim.co.id - Para perempuan anggun berkain dan berkebaya, sedangkan para pria
terlihat gagah mengenakan beskap dipadu kain jarit, belangkon, dan
selop. Berbalut busana adat, mereka tetap tangkas bekerja. Begitulah
pemandangan di lingkungan kantor Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah,
setiap hari Kamis.
Kemeja batik juga dikenakan oleh pegawai
negeri sipil (PNS) di Solo setiap Rabu dan Jumat. Para pria mengenakan
beskap landung, yakni beskap tanpa coakan tempat keris di punggung,
tepatnya di pinggang bagian belakang. Para perempuan berkebaya kutubaru.
Kebaya kutubaru dan beskap landung, menurut Ketua Perhimpunan Ratna
Busana Solo Danarsih Santosa, merupakan model busana yang paling lama
dikenal masyarakat Solo.
Ketentuan yang mewajibkan PNS di Solo
mengenakan busana adat sebagai seragam kerja diterapkan sejak Februari
tahun lalu. Saat itu Wali Kota Solo Joko Widodo—kini Gubernur DKI
Jakarta—memandang pentingnya memperkuat identitas kota Solo melalui
pakaian yang dikenakan warganya.
Meski model dasarnya yang sama,
detail kebaya yang dikenakan bervariasi. Ada yang lengannya dibuat lebar
atau dibordir. Agar praktis dikenakan, jarit dijahit tanpa dipotong dan
diberi retsleting lengkap dengan lipatan-lipatan kain atau wiru di
bagian depan. Demikian pula kain bawahan beskap dijahit menjadi celana,
tetapi bagian depannya tampak seperti kain panjang dengan atau tanpa
wiru. Ini memudahkan pegawai yang bersepeda motor.
Ketika
terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo juga membuat
peraturan yang mewajibkan PNS di DKI berpakaian adat setiap hari Jumat
mulai Januari 2013. Para pegawai perempuan berkebaya encim—khas
Jakarta—dan berkain. Para pria mengenakan baju sadariah, yakni setelan
baju koko, kopiah, dan berkalung sarung di leher.
Kebaya encim
sudah sangat akrab bagi perempuan di Jakarta. Ruang padu padannya pun
cukup luas. Bagi pria, mengenakan baju sadariah juga relatif praktis,
cukup dengan memadukan kemeja koko putih dengan celana kain yang biasa
dipakai ke kantor ditambah peci hitam dan menyandang sarung.
Satu-satunya
”masalah” adalah membiasakan menyandang sarung di bahu. Kepala Bidang
Humas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Eko Haryadi menuturkan, meski para
PNS pria membawa sarung, kebanyakan memilih menyimpannya saja di ruang
kantor. ”Kalau dibawa kemana-mana bisa-bisa ketinggalan,” ujarnya.
Ied
Sabilla, pegawai di kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bercerita,
awalnya ia sempat kagok naik-turun bus ke kantor dengan kebaya encim dan
berkain panjang. ”Namun, lama-lama enggak masalah lagi, saya jadi
terbiasa,” ujar Ied.
Angso duo
Di Jambi,
penghargaan pada warisan budaya ditunjukkan dengan menggunakan batik
bermotif khas Jambi—seperti motif candi muaro jambi, angso duo, dan
durian pecah—sebagai seragam kerja di kantor.
Di Bank Indonesia
perwakilan Jambi, misalnya, para pegawai sepakat mengenakan batik Jambi
setiap Selasa dan Jumat. Mereka memesan kain batik dengan motif dan
warna yang sama lalu menjahitkan sendiri kain itu sesuai selera
masing-masing.
Marlison Hakim, Pemimpin Bank Indonesia Perwakilan
Jambi bercerita, seragam batik berwarna jingga dengan motif candi muaro
jambi dan buah buku yang mereka kenakan kerap membuahkan pujian dalam
pertemuan dinas bersama instansi lain. ”Betapa bangga kami memakai batik
yang motifnya sangat khas Melayu,” ujarnya.
Mengenakan batik
khas Jambi dirasakan lebih praktis ketimbang pakaian adat Jambi berupa
baju kurung bertengkuluk bagi perempuan dan teluk belango bagi pria. Di
lingkungan kantor Pemerintah Provinsi Jambi, para pegawai juga
mengenakan batik khas Jambi setiap hari Kamis. Pakaian adat baju kurung
bertengkuluk dan teluk belango diimbau dikenakan pada Jumat terakhir
setiap bulan.
Tengkuluk adalah kain yang dililitkan di kepala
perempuan. Dalam budaya Jambi, tengkuluk kerap dipakai perempuan untuk
melindungi kepala dari terik matahari di sawah. Tengkuluk dipakai pula
saat pengajian dan kondangan.
Pakaian teluk belango bagi pria
berupa setelan atasan baju koko Melayu senada dengan celana panjang dan
sarung melingkari pinggang hingga sebatas lutut. Sayangnya, tradisi
berbaju kurung dengan tengkuluk dan teluk belango di lingkungan kerja
belakangan meredup. Memakai tengkuluk dianggap kurang praktis. ”Saya
jarang pakai tengkuluk. Tidak bisa memasangnya di kepala,” ujar Retno,
pegawai di kantor Pemerintah Provinsi Jambi.
Soal kebiasaan
Anggapan
bahwa berpakaian adat sebagai seragam kerja itu merepotkan, menurut
perancang mode Musa Widyatmodjo, sekadar perkara kebiasaan. ”Ketika
seorang perempuan mulai mengenakan busana muslim sehari-hari, misalnya,
awalnya ia pasti juga merasa repot. Namun, begitu terbiasa, tak jadi
soal sama sekali,” ujarnya.