Negeri Galau
BULAN Maret 2013 belum selesai, masih menyisakan satu pekan lagi. Akan tetapi di bulan
Tampak aparat kepolisian Indonesia begitu gencar memerangi dan memberantas teroris di Indonesia, sebaliknya serangkan terhadap polisi juga semakin keras dengan frekuensi makin tinggi.
Peristiwa menyedihkan yang menyentuh simbol-simbol kekuasaan dan supremasi hukum yang gejalanya semakin tak terkendali dan terbuka. Masih belum hilang dalam ingatan kita, pasukan TNI menyerbu dan membakar Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan, 7 Maret Silam.
Tiba-tiba Sabtu (23/3) dinihari Indonesia dikejutkan oleh sebuah peristiwa baru yang luar biasa, ketika sekelompok orang tak dikenal --setidaknya untuk sementara ini -- menyerbu secara paksa Lapas Cebokan, Yogyakarta.
Mereka memaksa masuk ke lapas, mengancam petugas Lapas untuk menunjukkan sel yang dihuni oleh empat tersangka pelaku pembunuhan terhadap seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo's Cave, Yogyakarta.
Dua kasus besar ini turut menyemarakan hingar bingar situasi tidak kondusif di Indonesia. Kait mengait antara masalah ekonomi, hukum, politik dan keamanan masing-masing telah memberi andil nyata.
Dalam penegakan hukum oleh KPK menunjukkan bukti bahwa negeri memang mempunyai penyakit mental 'kleptomania'. Kebiasaan para petinggi dan pemilik jabatan untuk mengutil dan menggergoti uang negara masih terus terpelihara secara teratur dan berkelanjutan.
Perilaku suka suap dan senang akan rezeki yang bukan haknya dijadikan sebuah kebiasaan yang terus menerus dipelihara, seolah para pelaku kejahatan korupsi tidak pernah menganggap KPK itu ada.
Terbukti, KPK kembali menangkap tangan, saat Wakil Ketua PN Bandung Setyabudi Tejocahyono menerima uang suap di ruang kerjanya. Semakin menambah runyam penegakan hukum di Indonesia. Sementara itu, KPK sudah menangkapi banyak politisi top seperti Ketua PKS Luthfi Hasan Ishaaq.
Malahan sekarang ini KPK sudah mendekat pada kasus korupsi di ujung penguasa Indonesia, ketika sudah menetapkan H. Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus korupsi, menyusul H. Muhammad Nazaruddin, Agelina Sondakh, Mantan Menpora. Kini Yulianis, bendahara perusahaan Nazaruddin secara terbuka sudah menyebutkan bahwa Eddy Baskoro (Ibas), Sekjen Partai Demokrat yang juga putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinyatakan menerima aliran dana dari Nazaruddin.
Kalaulah sampai kelak Ibas masuk dalam daftar tersangka, maka sudah lengkaplah kisah sebuah partai politik dimana Ketua, Bendahara dan Sekjen terkena kasus suap. Tentu akan dicatat secara khusus dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Lebih lengkap lagi apabila KPK sudah mendapatkan langkah konkret melakukan langkah pro-justicia untuk kasus bailout Bank Century. Di tengah-tengah persoalan itu, muncul pula kelangkaan cabai, melambungnya harga bawang putih yang menunjukkan kinerja pemerintah semakin merosot.
Indonesia tampak galau. Karena menurut rencana hari ini (25 Maret 2014) akan ada demo besar menurunkan SBY, yang didahului oleh sinyal bahwa akan ada kudeta kepada pemerintahan. Tetapi kemudian SBY yakin bahwa rakyat ingin pemerintah menyelesaikan amanat yang diberikan hingga akhir masa jabatan di 2014 . Presiden yakin tidak ada kelompok yang dapat menurunkan pemerintahan di tengah jalan.
"Tidak ada yang bisa mengancam dan menakut-nakuti dirinya hanya karena segerombolan orang berteriak di jalanan dengan pesan politik yang tak relevan," kata Staf Khusus Presiden bidang Politik Daniel Sparinga melalui pesan singat, Minggu ( 24/3 ).
Silakan pemerintah dan elite politik galau, tetapi jangan kemudian kegalauan yang dibuat sendiri risikonya ditimpakan kepada rakyat. Rakyat tetap tenang, tetap setia menunggu pemimpin yang benar-benar berjuang untuk rakat. (*)