Rabu, 10 Juni 2026

Revolusi Sembako

SERIUS amat ada kudeta! Ya, iyalah, mosok iya dong. Maka tanggal 25 Maret 2013 kemarin, masyarakat Indonesia khususnya

Tayang:
zoom-inlihat foto Revolusi Sembako
bisnis.kti.com
ilustrasi
SERIUS amat ada kudeta! Ya, iyalah, mosok iya dong. Maka tanggal 25 Maret 2013 kemarin, masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta ada yang merasa plong ada pula yang terbengong- bengong.

Bagaimana tidak, polisi sudah disiagakan 3.000 personel untuk berjaga-jaga di sekitar Istana Negara untuk mengamankan aksi demontrasi sekitar 3.000 orang. Eee ternyata cuma ada acara bagi-bagi sembako saja di halaman YLBHI, Jakarta.

Mau tahu? Begini ceritanya: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat bisikan dari intelijen bahwa akan ada kudeta tanggal 25 Maret 2013. Sejak isu kudeta berhembus begitu kencang, terlihat kegalauan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya dari hari ke hari. Dimulai dari curahan hatinya di media massa hingga mengundang para mantan jenderal dan sejumlah pimpinan ormas Islam.

Isu kudeta menghantui Presiden SBY di saat masa kepemimpinannya kurang dari dua tahun lagi. Aksi demo besar-besaran pada 25 Maret mendatang disebut-sebut akan menggulingkan presiden dan menggantikan dengan pemerintahan transisi.

Menariknya, demo yang diklaim akan bergerak di 17 provinsi dengan Jakarta sebagai pusatnya akan mengusung lima tuntutan. Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) itu berisi nasionalisasi tambang migas, turunkan harga, hentikan liberalisasi impor, selesaikan kasus korupsi yang melibatkan Istana, dan hentikan konflik SARA dan adili pelanggaran HAM.

Kegalauan SBY itu sudah terasa ketika berhebus bocornya dokumen pajak keluarga Cikeas. Sejak isu itu ditiup, SBY menunjukkan kepatuhannya di depan media, seraya menyerahkan berkas pajaknya. SBY berharap kebocoran pajak keluarganya tidak terjadi lagi. Selain itu, dia memerintahkan Direktorat Jenderal Pajak harus segera merespon dan mengklarifikasi sesegera mungkin agar tidak mencemarkan nama baik.

Kegelisahan SBY juga terlihat ketika ia mengundang tujuh purnawirawan jenderal di kantor kepresidenan dua hari lalu, Rabu (13/3). Tujuh purnawirawan jenderal yang datang temui SBY, adalah Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, Jenderal (Purn) Subagyo HS, Jenderal (Purn) Fachrul Razi, Letjen (Purn) Agus Widjojo, Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang, Letjen (Purn) Sumardi, dan Letjen (Purn) Suaidi Marasabessy. Pertemuan tersebut membahas dinamika politik, ekonomi, hukum dan keamanan nasional saat ini.

Sebelumnya, Presiden SBY bertemu dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto di Kantor Presiden pada Senin (11/3). Meski tak menjelaskan secara detail apa yang dibahas dengan  SBY, Prabowo tak menampik jika Gerindra dapat berkoalisi dengan Demokrat.

Tak lama kemudian, SBY mengundang para pemimpin redaksi media nasional ke Istana Negara. Pertemuan ini pun terbuka dan bisa diliput oleh semua wartawan. Bahkan SBY menjuluki para pemred dengan julukan 'mahawartawan'. SBY pun membantah pertemuan ini adalah pertemuan untuk mempengaruhi media dalam pemberitaan. Dirinya menegaskan akan menerima semua kritik dari masyarakat yang disampaikan melalui media.

Kegalauan SBY bertambah-tambah, lalu mengundang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqiel Siradj dan 12 Ormas Islam lainnya ke kantor presiden.Ormas-ormas Islam itu tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Semua menyatakan siap di belakang SBY bila ada kudeta.

Kenyataannya Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) membagikan sembako lewat kupon. Dalam kupon sembako tertera tulisan 'Sembako untuk Rakyat, Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia- Mari Bangkit dan Menuju Indonesia Baru'.

Gambar garuda setengah badan tertutupi warna merah sebagian berwarna putih. Ratusan warga dari berbagai wilayah di Jakarta Pusat tampak mengantri di depan gedung kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jl. Dipenogoro, Jakarta, Senin (25/3).

Melihat kenyataan itu ada yang merasa plong, karena tidak ada huru-hara, sebaliknya ada yang geleng-geleng kepala: Heran. Kok bisa ya, isu kuedeta berbalik jadi bagi-bagi sembako. Inilah Indonesiaku. Apakah ini komedi politik, ataukah politik yang dikomedikan? Lucu dan mengharukan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved