Inflasi dan Net-outflow
LONJAKAN harga bawang putih dan cabe rawit bulan Maret mendongkrak inflasi di kota Balikpapan
Berdasarkan penjelasan Umar Riyadi, Kasi Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, Maret ini Balikpapan terjadi inflasi 0,87%. Menurut dia inflasi ini cukup tinggi, bandingkan dengan Maret 2012 (Year on year) inflasi hanya 0,25%.
Bawang putih menjadi komoditas utama yang memicu inflasi, punya andil hingga 0,28%, disusul cabe rawit 0,24%. Sebagian besar komoditas ini berasal dari kelompok pengeluaran bahan makanan yang memberi andil terbesar terhadap inflasi dibandingkan enam kelompok pengeluaran lain.
Andil kelompok bahan makanan mencapai 0,75%, disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,08% dan kelompok kesehatan sebesar 0,03%. Kendati demikian, ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi sepanjang Maret yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; kelompok sandang dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga.
Inflasi Maret ini mencapai 2,52%, lebih tinggi dibandingkan inflasi kalender periode yang sama tahun lalu mencapai 2,11%. Dengan inflasi inipula, kemungkinan inflasi hingga akhir tahun nanti bisa mencapai angka 6% lebih. Ini pun belum memasuki momentum yang biasanya mendongkrak harga seperti momentum bulan ramadhan dan Lebaran. Biasanya dua bulan sebelum Idul Fitri sudah mulai 'pemanasan' atau merangkak naik.
Dari delapan kota di Pulau Kalimantan, semuanya mengalami inflasi, yaitu Pontianak 1,02%, Balikpapan 0,87%, Tarakan 0,66%, Sampit 0,54%, Palangkaraya 0,44%, Singkawang 0,23%, Banjarmasin 0,19% dan Samarinda 0,12%.
Deputi bidang Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menegaskan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih terlihat semakin rumit. Bawang adalah jenis produk tanpa alternatif. Artinya berapapun harga bawang tetap akan dibeli karena kebutuhan.
Diam-diam Balikpapan menyimpan persoalan ekonomi yang rumit. Tutuk SH Cahyono, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mengungkapkan, transaksi real time gross settlement (RTGS) di wilayah kerjanya menunjukkan perubahan pola yakni net outflow, padahal sebelumnya selalu tercatat net inflow.
Uang bergerak keluar lebih banyak dibanding uang masuk ke Balikpapan. Hal ini, katanya, menunjukkan ada perubahan karakter pelaku usaha yang mungkin disebabkan kondisi perekonomian regional. Sinyal perubahan pola ini sebenarnya telah terlihat pertengahan tahun lalu dan perlahan-lahan net outflow jauh lebih besar dibandingkan net inflow.
RTGS adalah sistem transfer dana elektronik atau proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan pertransaksi dan bersifat real time. Sistem ini dikhususkan untuk pengiriman dana di atas Rp100 juta. Tutuk menduga salah satu penyebabnya karena terjadi perlambatan ekonomi, sementara beban usaha yang harus ditanggung pengusaha masih cukup besar.
Ketua Kadin Balikpapan Rendi S Ismail memberi tambahan pola transaksi masyarakat Balikpapan yang cenderung berbelanja ke luar daerah bisa saja menjadi salah satu penyebab sehingga terjadinya arus aliran dana keluar yang cukup besar.
Selain itu, ketika terjadi situasi yang sulit dalam sektor dominan seperti pertambangan dan perkebunan, maka tak sedikit pengusaha yang berupaya menginvestasikan dananya untuk sektor di luar pertambangan, untuk mencari alternatif lain. Kondisi ini diproyeksikannya masih akan terjadi dalam jangka waktu cukup lama, selama tata niaga batubara belum recovery.
Jelas Balikpapan saat ini ibarat terkena dua pukulan besar sekaligus, yakni inflasi dan net- outflow. Masyarakat butuh solusi dari para pembuat kebijaksanaan agar persoalan ini segara bisa diatasi, dengan harapan beban ekonomi yang semakin berat ini bisa ditekan dan dikurangi. (*)