• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 18 September 2014
Tribun Kaltim

Bumi Plc: Tak Ditemukan Bukti Korupsi di Berau

Selasa, 23 April 2013 12:46 WIB
Bumi Plc: Tak Ditemukan Bukti Korupsi di Berau
LONDON, tribunkaltim.co.id - Bumi Plc menyatakan tidak menemukan black hole atau lubang hitam dalam hasil investigasi keuangan PT Berau Coal Energy. Pernyataan ini keluar sehari setelah Bumi Plc meminta otoritas bursa London mensuspensi sahamnya.


"Kami tidak menemukan lubang hitam apapun atau masalah signifikan lainnya yang mengkhawatirkan, dan kami sudah merampungkan cukup banyak pekerjaan," kata Nick Von Schirnding kemarin soal investigasi keuangan Berau.



Jika Anda masih ingat, pada 12 Apil lalu, Bumi Plc mengatakan tak bisa memverifikasi sejumlah pengeluaran Berau. Empat hari kemudian, Chief Financial Officer Bumi Plc Scott Merrillees menyampaikan ia akan mundur bulan Juni.


Lantas kemarin, Bumi Plc menyatakan bahwa tim manajemen sedang mengaudit penuh dan memverifikasi kontraknya. Bumi Plc memiliki 85% saham Berau.


Jika ditarik lebih mundur lagi ke sebulan lalu, manajemen Berau pernah mengungkapkan bahwa tak ada bukti yang cukup untuk mendukung kapitalisasi sejumlah pengeluaran yang berjumlah sekitar US$ 56 juta tahun lalu. Berau juga tak mampu memverifikasi penuh pembayaran lahan senilai US$ 38 juta.


Namun kini Von Schirnding lebih optimis. "Inilah yang jelas sedang kami perjelas dan selesaikan. Saya ingin keluar dari masalah ini dengan serangkaian hasil dan kebijakan, dan lain-lain sehingga kita semua dapat benar-benar nyaman dan sejalan dengan praktek best corporate governance. Kami perlu bisa menyelesaikan masalah ini agar saya bisa memberi Anda keyakinan itu," paparnya.


Masih ada 10 hari lagi sampai penyelidikan atas Berau kelar. Menurut Von Schirnding, penyelidikan itu ditangani oleh manajemen internal, Ernst & Young, dan auditor Berau PriceWaterhouseCoopers. Ia menambahkan, Sekitar 60 orang yang bekerja di kasus ini tidak menemukan bukti korupsi.


Deadline pisah dari Bakrie

Saham Bumi Plc terperosok 69% sepanjang tahun lalu di bursa London. Anjloknya saham Bumi itu terjadi di tengah invistigasi terhadap 'penyimpangan keuangan' di tubuh Berau dan Pt Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dimulai pada September 2012.


Harga saham Bumi Plc pada penutupan Jumat (19/4) mencapai 259,3 pence. Harga itu sudah terpangkas 5,6% tahun ini. Kapitalisasi pasarnya kini sebesar 625 juta poundsterling (US$ 956 juta).


Manajemen Bumi Plc berusaha menenangkan badai dengan memisahkan diri dari BUMI dan Grup Bakrie. Kata Von Chirnding, transaksi pemisahan senilai US$ 580 juta ini masih dalam proses dan dijadwalkan selesai pada Juni.


Von Schirnding menjelaskan, ia bertemu perwakilan Bakrie kemarin untuk bicara lebih jauh. Sebelumnya, ia ingin jaminan bahwa Bakrie dapat membiayai transaksi itu.


"Terang saja, itu adalah isu utama dan satu hal yang selalu saya tanyakan di setiap pertemuan kami. Mereka telah menjamin bahwa uangnya akan ada. Kami akan terus menekankan hal ini berulang-ulang kali," tuturnya.


Ia menambahkan bahwa transaksi penjualan itu 'secara virtual' sudah ada.

Reaksi Rothschild

Nat Rotshchild, pemegang saham Bumi Plc yang keluar dari direksi tahun lalu, kembali medesak agar tiga orang direktur Berau mundur segera. Mereka adalah Merrillees, Chairman Samin Tan, dan Alex Ramlie.


"Dengan peran manahemen dan komisaris mereka di Berau, dan hubungan simbiosis mereka dengan Bakrie, tidaklah meyakinkan jika mereka dinyatakan sebagai korban kecelakan ini seperti halnya pemegang saham minaritas sesungguhnya. Mereka bertiga ini benar-benar berkonflik kepentingan," ujarnya dalam email yang dikirim kemarin (22/4).


Kemudan dalam wawancara telepon dengan Bloomberg, Rothschold menyatakan ia sudah meminta Bumi mengadakan rapat direksi sejak Desember 2011 untuk mengambil langkah atas Berau. Tapi, kata Rorthschild, tanggapan atas kritik itu lamban dan lama.

Editor: Fransina
Sumber: Kontan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
176712 articles 6 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas