ESQ Mission and Character Building
PDAM Kutai Timur Upgrade SDM melalui Training
PDAM Tirta Tuah Benua Kabupaten Kutai Timur terus berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan perusahaan.
Direktur PDAM Kutim, Aji Mirni Mawarni,
mengatakan training ini digelar untuk meningkatkan kualitas SDM di
lingkungan perusahaan, yang diharapkan dapat membangun budaya organisasi
yang lebih kuat dan tangguh.
"Kami menilai, metode yang tepat untuk meningkatkan kualitas SDM adalah membangun karakter secara komprehensif. Baik aspek intelektual, emosional, dan spiritual. Karena itu kami melaksanakan in house training untuk keluarga besar PDAM Kutim," katanya.
Pada hari Jumat dan Sabtu (3 dan 4 Mei 2013),
dilaksanakan intermediate Training MCB bagi lebih 40 karyawan, termasuk
Badan Pengawas PDAM. Beberapa pekan sebelumnya juga dilaksanakan
training serupa.
"Training intermediate ini sifatnya lanjutan
dari basic training. Kami akan terus berupaya untuk melakukan capacity
and integrity building bagi keluarga besar PDAM. Bagi karyawan baru,
Insya Allah nanti akan diikutkan basic training juga," katanya.
Salah
satu target jangka pendek training ini adalah terbangunnya budaya
organisasi yang kuat, sehingga mampu mencapai visi PDAM sebagai
perusahaan yang sehat dan mandiri. Tentunya sesuai dengan misi dan tata
nilai perusahaan.
Sementara itu, trainer ESQ, Idham Cholid,
menyampaikan berbagai kiat manajemen aplikatif yang diliputi sentuhan
spiritualitas. Hal ini mengacu pada ESQ Model yang mensinergikan prinsip
Ihsan, Rukun Iman, dan Rukun Islam sebagai pola pengembangan diri
secara terpadu.
Ia memaparkan tentang konsep akselerasi
transformasi kultur melalui tiga pilar utama. Yaitu triple bottom line
(sinkronisasi IQ, EQ, dan SQ), MVVM Alignment (Mission, Vision, Value,
Meaning), juga value system leadership.
Ia pun mengungkap fakta
hasil penelitian, bahwa dalam perusahaan, umumnya terdapat 26% karyawan
terlibat (engaged), 55% karyawan acuh (disengaged), juga 19% karyawan
acuh yang aktif (actively disengaged), yang potensial menjadi
"provokator" dalam organisasi. Karena itu diperlukan penguatan dan
transformasi kultur secara signifikan untuk menyehatkan organisasi.