Emosi Jadi Penyebab Kegagalan Diet
Hampir setiap wanita pernah menjalani diet. Meskipun gagal, kita tak pernah kapok mencoba.
Ayo jujur, apakah Anda pernah berdiet? Jawabannya hampir pasti pernah. Hampir semua wanita pernah menjalankan program diet untuk menurunkan berat badan. Namun hanya sedikit yang berhasil. Kalau pun berhasil, dalam waktu relatif singkat berat badan naik kembali.
"Anda tahu, 91 persen orang yang berdiet untuk menurunkan berat badan mengalami kegagalan. Kenapa? Karena mereka menjalani diet dengan perasaan bersalah dan tersiksa. Maka setelah lepas dari program diet, setelah gagal atau mencapai berat badan yang diinginkan, berat badan naik lagi," kata Juli Triharto praktisi hipnoterapi yang punya program HypnoLangsing ini.
Meskipun gagal total, orang tidak pernah kapok berdiet kembali. Mungkin mereka kembali melakukan program diet yang sama dari awal atau mencoba program yang lain. Juli menyebut hal ini obsessive diet. Kita jadi terobsesi pada diet langsing.
Itu sebabnya industri diet tumbuh subur. Permintaan orang untuk langsing tidak pernah surut. Juli mengatakan di seluruh dunia ini ada 25 ribu program diet yang menawarkan keampuhan penurunan berat badan. Semuanya hampir sama. Hal yang membedakan hanya resep-resep makanan saja.
Juli berpendapat tidak tepat bila penurunan berat badan harus dilakukan dengan berdiet saja. Terlebih lagi dengan menahan lapar dan menghindari makanan-makanan tertentu yang dianggap bikin gemuk.
"Mau sampai kapan kita menghindari makanan-makanan itu? Tidak tepat kalau makanan enak disalahkan jadi penyebab kegemukan. Industri makanan itu dikreasikan untuk dinikmati, bukan untuk dihindari," kilahnya.
Pria dengan latar belakang ilmu teknologi informasi ini melihat masalah kegemukan saat ini terjadi karena banyak orang mengaitkan rasa nyaman dengan makanan. "Ini masalah emotional eating. Kita makan bukan karena lapar tapi karena situasi yang tidak menyenangkan seperti sedih, takut, stres. Kita makan untuk memberi suasana nyaman pada diri sendiri," ungkapnya.