Kamis, 11 Juni 2026

Bupati Kutim Perlu Mendengarkan Kritik dengan Bijaksana

Dalam hal ini harus dibedakan secara terang dan jelas, mana komentar yang mengandung nilai kritik dan mana yang memuat fitnah

Tayang:
SANGATTA, tribunkaltim.co.id- Pengamat sosial Kutai Timur, Abu Faqih, menyayangkan pernyataan Bupati Kutai Timur yang akan memperkarakan komentar di jejaring sosial yang dinilai memojokkannya. Hal tersebut dinilainya sebagai proses penghakiman yang terlalu jauh.


"Semestinya beliau bisa mendengarkan secara bijaksana berbagai kritik yang disampaikan. Dalam hal ini harus dibedakan secara terang dan jelas, mana komentar yang mengandung nilai kritik dan mana yang memuat fitnah," katanya.


Komentar yang mengandung kritik semestinya dijadikan sebagai masukan untuk bahan evaluasi roda pemerintahan. Berbeda halnya dengan fitnah yang memang tidak bisa dibenarkan dengan alasan dan pertimbangan apapun.


"Saya berharap beliau bisa bersikap terbuka. Dengan adanya tuntutan-tuntutan mahasiswa, pasti pangkalnya telah terjadi sumbatan komunikasi. Kedepan semestinya dilakukan upaya yang lebih baik untuk membuka sumbatan-sumbatan itu," katanya.


Lantas, bagaimana dengan rencana memperkarakan komentar yang dianggap memojokkan? "Saya harapkan beliau jangan panik dan jangan menghakimi terlalu jauh. Mahasiswa bukan musuh. Mereka adalah anak-anak daerah. Dekati dan rangkullah mereka. Mereka "curhat" di FB mungkin karena adanya sumbatan komunikasi," katanya.


Dalam pelaksanaan pembangunan, bila pemerintah punya indikator keberhasilan, mungkin mahasiswa juga mempunyai indikator kegagalan. "Yang jelas ada perbedaan pola komunikasi antara sesama pemerintah dan birokrat, dengan mahasiswa," katanya. Pendekatan dialogis juga perlu dikedepankan.


"Akan lebih baik mahasiswa memiliki sikap kritis yang konstruktif daripada apatis. Sikap kritis adalah bentuk kepedulian mereka pada daerah," katanya. Sikap kritis yang konstruktif juga merupakan bentuk kontribusi dari mahasiswa sebagai salah satu kelas sosial dalam civil society (masyarakat madani).


Pada sisi lain, mahasiswa harus menjaga kemurnian idealisme dalam gerakannya. Juga memperkaya bobot intelektualitas dalam alternatif solusi yang disampaikan. Hal ini akan membentuk pola check and balances yang lebih baik.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved