• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribun Kaltim

Ancam Bunuh Wartawan, Pejabat Ini Didakwa Setahun Penjara

Rabu, 29 Mei 2013 15:52 WIB
Ancam Bunuh Wartawan, Pejabat Ini Didakwa Setahun Penjara
KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN
Mantan Kepala Kemenag Pamekasan Nurmaluddin saat mendengarkan dakwaan kasus perbuatan tidak menyenangkan, di Pengadilan Negeri Pamekasan.
PAMEKASAN, tribunkaltim.co.id - Sehari setelah lengser dari jabatannya sebagai Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Nurmaluddin, duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Pamekasan.


Dia didakwa melakukan ancaman pembunuhan terhadap Sukma Umbara Tirta Firdaus, wartawan Harian Radar Madura pada 25 Desember 2012 lalu.


Di dalam sidang perdana pembacaan dakwaan, Rabu (29/5/2013), Nurmaluddin hadir dengan mengenakan kemeja biru, berkopiah hitam dan bercelana hitam.


Hakim Ketua PN Pamekasan Moh Muchlis dalam dakwaannya menyatakan Nurmaluddin diancam dengan kurungan penjara satu tahun berdasarkan KUHP Pasal 335 Ayat 1 tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. Setelah dakwaan dibacakan, Nurmaluddin yang didampingi dua penasihat hukumnya tidak mengajukan keberatan dan tidak mengajukan eksepsi. "Bahkan pada sidang berikutnya, meminta agar langsung pada agenda pembuktian dengan menghadirkan saksi-saksi," terang Muhlis.


Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum, Muhammad Hari, dalam tuntutannya menyampaikan bahwa Pasal 335 itu sudah memenuhi unsur. Bahkan, jaksa mengajukan tuntutan lebih berat, yakni dua tahun penjara karena perbuatan itu disertai dengan ancaman pembunuhan.


Sidang yang hanya berjalan 10 menit tersebut menjadi perhatian sejumlah media lokal dan nasional serta beberapa staf di lingkungan Kantor Kemenag Pamekasan. Lebih-lebih setelah Nurmaluddin lengser dari jabatannya.


Sebelumnya, pada tanggal 25 Desember 2012 lalu, Nurmaluddin mendatangi Kantor Radar Madura Biro Pamekasan karena keberatan atas pemberitaan tentang pemotongan gaji PNS di lingkungan Kemenag Pamekasan. Di kantor tersebut, Nurmaluddin meminta Sukma Firdaus selaku wartawan yang menulis berita tersebut, membeberkan nama PNS yang membocorkan pemotongan gaji tersebut.


Namun, Sukma menolaknya, dengan alasan kode etik jurnalistik. Karena enggan menyebutkan nama narasumber berita tersebut, Nurmaluddin yang waktu itu didampingi Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama, Juhairiyah, mengancam akan membunuh Sukma.


Ancaman tersebut semuanya terekam dalam telepon seluler Sukma Firdaus. Beberapa hari kemudian, Sukma Firdaus melaporkan ancaman tersebut kepada polisi.
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
194092 articles 6 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas