Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Kombinasikan dengan Industri Kecil Khas Kaltim

Trans Studio Bakal Jadi Pelepas Dahaga

Lebih baik meributkan lokasi tambang yang mengepung Samarinda ketimbang meributkan lokasi Trans Studio.

Tayang:
Editor: Fransina Luhukay
zoom-inlihat foto Trans Studio Bakal Jadi Pelepas Dahaga
Dr Aji Sofyan Effendi SE MSi
Oleh:  Dr Aji Sofyan Effendi SE MSi
Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan & Keuangan Daerah FE Unmul

Hadirnya wahana indoor Trans Studio di Jalan Bhayangkara atau eks hotel Lamin Indah Samarinda, tentu pantas disambut dengan suka cita. Saya sengaja tidak menyoroti polemik yang mempersoalkan lokasi. Kalau kita hanya terpaku pada polemik tersebut, maka tidak akan ada pembangunan di kota ini. Lebih baik meributkan lokasi tambang yang mengepung Samarinda ketimbang meributkan lokasi Trans Studio.


Kalau ditanya kepada warga Samarinda dan sekitarnya, kemana keluarga mereka saat weekend tiba. Jawabannya pasti ke mal yang ada bioskopnya, atau ke hotel yang ada kolam renangnya. Pilihan lain adalah ke Balikpapan. Juga ke Jawa bagi yang memiliki duit lebih.


Bertamasya ke Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS), agaknya masih menjadi alternatif nomor tujuh dan seterusnya. Samarinda memang belum memiliki wisata alam yang benar-benar indah dan nyaman dengan infrastruktur yang memadai. KRUS masih ala kadarnya. Air Terjun Tanah Merah nyaris tidak diminati. Sungai Mahakam masih jauh panggang dari api. Sungguh kita memang belum punya wisata air yang sophisticaed dan terencana baik.


Barangkali satu-satunya wisata yang paling pas dan nyaman di Samarinda adalah dengan menikmati indahnya banjir di simpang Sempaja, di Jl Antasari dan di simpang Mal Lembusuana. Warga kesal dan frustasi terhadap Pemkot Samarinda yang sejauh ini belum mampu menyediakan obyek wisata  yang sehat, nyaman, dan menyenangkan.


Dan kalau kita tanya kepada warga Kutai Kartanegara, warga Kutim, dan Bontang, kemana mereka weekend, maka jawabannya adalah ke Samarinda. Karena itu hampir setiap Sabtu dan Minggu kita melihat puluhan bis dari daerah-daerah tersebut terparkir di mal-mal. Mereka tidak punya pilihan lain untuk sekedar melepas penat dan jenuh.


Karena itu, kehadiran Trans Studio Samarinda, bakal menjadi pelepas dahaga. Terlebih Trans Studio Samarinda konon bakal dibangun sebagai yang terbesar di Indonesia. Konon bakal lebih hebat dari Trans Studio Makassar dan Bandung.


Selama ini kita iri dengan berbagai fasilitas wisata di Pulau Jawa. Serba lengkap dan nyaman.  Mau ke kebun binatang oke. Mau wisata kuliner oke. Mau wisata alam oke. Mau wisata bahari oke. Mau wisata pantai oke. Mau wisata belanja pun oke. Pokoknya serba oke dan serba mudah. Asal ada duit,  Semua bisa dijangkau dengan mudah.


Kebalikan dengan Samarinda. Ada duit tapi tak ada obyek wisata. Oleh sebab itulah Trans studio Samarinda akan menjadi pilihan utama warga Samarinda menengah ke bawah untuk berwisata dan ber-weekend dengan keluarga


MULTIPLIER EFFECT
Dalam perspektif ekonomi dan keuangan daerah, kehadiran Trans studio, bukan hanya sekedar media permainan dan pariwisata serta leisure saja. Tapi juga membawa dampak multiplier effect yang cukup besar, seperti penyerapan lapangan kerja baik saat pra konstruksi sampai kepada konstruksi dan pelaksanaan wahana dalam keseharian. Kota Samarinda berdasarkan data  tahun 2012 memiliki tingkat pengangguran sekitar 10 % dan Kaltim 12 %. Dengan dibangunnya wahana Trans Studio ini maka praktis pengangguran ini akan mampu terserap di lapangan pekerjaan baik saat pra kontruksi, kontruksi maupun saat operasional yang jumlahnya bisa  ribuan tenaga kerja yang terlibat dengan berbagai kualifikasi pendidikan dan keahlian.


 Selain itu tenant-tenant yang mengisi mall-mall yang juga dibangun di situ sebagai kelengkapan wahana. Berdasarkan pengamatan penulis seperti di Makasar dan Bandung sangat besar dan lengkap rata-rata mencapai 300 tenant. Kalau setiap tenant melibatkan 10-50 tenaga kerja maka akan terserap 3.000-15.000 orang. Sungguh luar biasa. Itu belum termasuk tenaga kerja yang akan direkrut di masing-masing wahana yang akan mencapai sekitar 21-35 wahana. Kalau setiap wahana merekrut 10-25 orang, maka akan ada 210-875 orang yang terserap. Belum lagi Hotel Trans Studio yang juga akan dibangun yang bakal menyerap sekitar 1.000 orang lebih. Jika ini semua terbangun maka akan mampu mengurangi angka pengangguran khususnya di kota Samarinda secara signifikan.


Bagaimana dengan PAD kota Samarinda? Dengan sendirinya, karena lokasi trans studio berada di Samarinda, maka pundi-pundi PAD kota Samarinda juga akan bertambah. Apalagi jika  Pemprop Kaltim menggandeng Pemkot Samarinda untuk turut dalam pengelolaan, maka setiap karcis yang masuk ke wahana Trans Studio akan ada jatah sekian persen ( misal 10-15%) untuk PAD kota Samarinda. Begitu pula dengan retribusi parkir dan pajak parkir, serta pajak untuk semua tenant yang beroperasi di wahana Trans Studio, miliaran rupiah akan bisa diraup Pemkot setiap bulan.


SPACE INDUSTRI KHAS KALTIM
Multiplier effect tidak stop sampai disitu. UMKM dan industri kecil rumah tangga khas  Kaltim, baik makanan khas maupun sandang seperti batik khas kaltim, kerajinan, dan lain-lain, dapat mengambil peran pada Trans Studio tersebut melalui space khusus. Seperti ruang untuk jualan, ruang promosi dan ruang pameran khusus untuk mereka.


Tentu ini melalui komitmen atau MOU antara manajemen Trans Studio dengan Pemprop Kaltim dan Pemkot Samarinda, agar harga sewa bisa sangat murah. Sehingga wahana trans studio ini bukan sekedar untuk bermain dan leisure serba modern saja tapi juga akan mampu membawa peningkatan dan promosi bagi industri kecil tradisional Kaltim karena sangat disadari berdasar segmen pengunjung Trans Studio di Makasar dan Bandung ternyata juga diminati warga dari berbagai wilayah di Indonesia.


Dengan demikian maka sinergitas antara Trans Studio dengan pelaku usaha khas kaltim akan dapat terbangun dengan baik. Dan ini satu-satunya Trans Studio yang mampu mengkombinasikan dan mengkolaborasikan antara pelaku ekonomi lokal dengan bisnis murni Trans Studio. Akan menjadi contoh pilot project lain di Indonesia bahwa Trans Studio peduli dengan pelaku usaha ekonomi lokal. Pengunjung Trans Studio dari berbagai wilayah lain di Indonesia pun akan semakin mengenal Kaltim dan membawa oleh-oleh khas Kaltim selain oleh-oleh Trans Studio. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved