TribunKaltim/

Hari Kartini

Peringati Hari Kartini, GMNI Gelar Aksi Damai di Jalan

Hal itulah yang menjadi dasar bagi sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda dalam memperingati

Peringati Hari Kartini, GMNI Gelar Aksi Damai di Jalan
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Samarinda melakukan aksi damai di simpang empat Lembuswana dalam memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, Selasa (21/4/2015). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - kapitalisme masih menjadi permasalahan bersama yang harus dilawan oleh kaum perempuan.

Hal itulah yang menjadi dasar bagi sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda dalam memperingati Hari Kartini.

Kelompok organisasi berlambang banteng tersebut melakukan aksi damai di simpang empat Lembuswana dari pukul 15.00-16.30 wita. Dalam orasinya, Hari Kartini dapat menjadi momentum sebagai langkah strategis dalam upaya penyadaran kaum perempuan terhadap akar pemasalahan selama ini yang mendera Indoensia, yakni kapitalisme.

Baca: Netizen Bingung, Mengapa Kartini bukan Cut Nyak Dien?

"Kesetaraan gender dan hak kaum wanita secara hakiki masih jauh dari pencapaian, meskipun sistem yang diterapkan oleh pemerintah dinilai lebih mengakomodir unsur keterwakilan perempuan. Namun masalah akuntabilitas tetap menjadi faktor penting dalam hal keterlibatan perempuan di ruang publik," ujar Humas Aksi Sarinah Ipung, Selasa (21/4/2015).

Selain itu, menurutnya pemerintah turut serta dalam pengekangan hak perempuan. Di balik itu semua ada ada sistem yang mengatur tentang pengekangan tersebut, kapitalisme memiliki andil besar dalam mekanisme tersebut.

"Kebebasan yang diiming-imingi oleh politikus dalam memancing perempuan untuk digunakan sebagai sampul parlemen dalam memberikan usaha pembebasan kepada perempuan hanyalah sebagai mengakulmulasi modal usaha semata," imbuhnya.

Bahkan, hingga saat ini fisik perempuan kerap dieksploitasi, sehingga menempel dibenak masyarakat tentang pandangan buruk terhadap kaum perempuan yang mengakibatkan terjadinya diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Dalam hal ini GMNI hadir dalam analisa yang tegas dan lugas. Bagaimana perjuangan perempuan dalam melawan kapitalisme seyogyanya tidka bisa terpisah dari tenaga produksi.

"Seperti yang dikatakan Bung Karno, laki-laki dan perempuan bak sepasang sayap merpati, berjuang dan bergerak bersama tanpa kenal gender," ucapnya.

Artinya, perjuangan pokok perempuan yaitu membebaskan perempuan dalam ketertindasan, karena berbicara tentang perempuan juga erat kaitannya dengan sosialisme.

"Jika senjata melawan kebodohan adalah pena di atas kertas, maka senjata melawan ketertindasan adalah kepalan tangan di atas kepala, hidup perempuan berlawan," tutupnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help