Minggu, 3 Mei 2026

Hukum dan Kriminal

Waspada, Jambret Marak Terjadi di Kota Ini

Warga kota tepian patut waspada, terutama bagi kaum hawa yang berkendara sendirian di malam hari, pasalnya saat ini jambret sedang marak beraksi.

Tayang:
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Lf (35) ketika berada di ruang peyidik Satreskrim Polsekta Sungai Kunjang, Selasa (11/8/2015). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Warga kota tepian patut waspada, terutama bagi kaum hawa yang berkendara sendirian di malam hari, pasalnya saat ini jambret sedang marak beraksi.

Penjambretan kembali terjadi pada Senin (10/8/2015) malam sekitar pukul 23.30 Wita. Ketika itu, seorang bidan yang bekerja sehari-hari pada puskesmas yang berada di Makroman, Kutai Kartanegara, hendak menjemput temannya di jalan M Said, Sungai Kunjang.

Namun, belum sampai di rumah temannya tersebut, tas selempang yang ia kenakan dirampas oleh dua orang jambret yang menggunakan kendaraan bermotor.

Tas berukuran kecil yang di dalamnya terdapat tab, dompet berisi sejumlah unag tunai.

"Jadi, tepat di turunan gunung Jalan Teuku Umar itu, tali tas saya diputus dengan pisau. Ketika itu, saya langsung teriak minta tolong, kebetulan masih ada beberapa warga disekitar jalan itu," tutur Fitri Yani Ningrum, Selasa (11/8/2015).

Baca: Dikira Jambret, Montir Motor Babak Belur Dihajar Warga

Warga yang mendengar jeritan Fitri, langsung bergegas untuk mengejar kedua pelaku. Beruntung bagi Fitri, warga berhasil mendapatkan salah satu pelaku penjambretan, yakni Lf (35), sedangkan rekannya berhasil kabur dari amukan massa.

"Setelah saya teriak itu, warga langsung mengejar keduanya, mungkin karena panik, jambret itu jatuh karena menambrak median jalan, tapi hanya satu yang berhasil didapatkan oleh warga, satunya berhasil kabur," urainya.

Warga pun tanpa pikir panjang, langsung menghujami Lf dengan bogem mentah disekujur tubuhnya, alhasil, pelipis mata maupun wajah Lf mengeluarkan darah. Setelah berhasil diamankan oleh jajaran Polsekta Sungai Kunjang, Lf langsung dilarikan ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan.

Ketika dimintai keterangan, Lf yang sehari-hari bekerja sebagai tukang membuat tato itu mengaku terpaksa menjambret karena kebutuhan ekonomi.

Ayah dari 2 orang anak itu menilai, usahanya sebagai tukang tato tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari anak dan istrinya.

"Tidak cukup kalau bergantung dengan buat tato saja, karena jarang sekarang yang mau buat tato. Jambret juga saya lakukan karena kepepet dan diajak oleh teman saya itu," tutur Lf. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page  fb TribunKaltim.co  atau follow twitter  @tribunkaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved