Citizen Journalism

Spirit Salafi dan Kepeloporan Muhammadiyah

TANGGAL 2 -4 Oktober 2015 akan berlangsung Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Kaltim XII di Pondok Pesantren Al Mujahidin Km 10 Balikpapan.

Spirit Salafi dan Kepeloporan Muhammadiyah
tribunnews/heru sri kumoro
Ilustrasi. Pawai taaruf atau karnaval Muhammadiyah yang diikuti pelajar, organisasi otonom, sekolah Muhammadiyah, peserta muktamar, dan penggembira di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (1/8/2015). 

Oleh: Isman Saleh, SH., SHI
Alumni Ma'had HN.Shobron Univ.Muhammadiyah Surakarta-Jateng
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Balikpapan
isman.sh@gmail.com

TANGGAL 2 -4 Oktober 2015 akan berlangsung Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Kaltim XII di Pondok Pesantren Al Mujahidin Km 10 Balikpapan. Direncanakan musyawarah tertinggi Muhammadiyah se Kalimantan Timur ini akan dihadiri kurang lebih lima ratus "musyawirin" yang terdiri dari peserta dan peninjau. Tema yang diusung "Gerakan Pencerahan untuk Kaltim yang Berkemajuan".

Tema di atas mengisyaratkan optimisme Muhammadiyah, dakwah atau gerakan pencerahan adalah kunci mewujudkan kehidupan masyarakat Kaltim yang berkemajuan. Dakwah atau gerakan pencerahan dalam bahasa Al Qur'an diantaranya ditemukan dalam kalimat "Yukhrijuhum min-azh zhulumat ila-an nuur" yakni dakwah Islam haruslah bertujuan untuk menghindarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan atau kejahiliyahan (Azh-zhulumat) menuju kepada kehidupan yang diliputi segenap cahaya (An Nur).

BACA JUGA: Suami Salah Sebut Nama Istri, Pisau Bertindak

Apabila ditinjau dari sudut pandang bahasa, kata "An-Nur" adalah cahaya yang terpancar luas sehingga mempertajam lintasan pengetahuan manusia terhadap visi kehidupan duniawi dan ukhrawinya. Sementara "Azh-zhulumat" merupakan perlawanan kata dari "An-Nur" yang maknanya berkisar tentang ketiadaan cahaya atau petunjuk. Awal mula penyimpangan dan penyelewengan dalam berbagai bidang kehidupan manusia, berasal dari ketiadaan cahaya atau petunjuk. Dalam perkembangannya "Azh Xhulumat" tidak hanya digunakan untuk praktek penyimpangan tauhid seperti "syirik", dan "nifaq" (Q.S Luqman: 13), akan tetapi juga digunakan terhadap berbagai bentuk kesewenang-wenangan (zhalim) (Q.S Asy Syura: 40), demikian penjelasan pakar leksikologi al Qur'an Imam Al Isfahani (w.520 H/1108 M).

Dakwah pencerahan dalam tema Muswil, secara kontekstual dapat dipahami sebagai usaha mengajak umat manusia, khususnya umat Islam untuk keluar dari lingkaran kesyirikan atau kedurhakaan (hedonisme dan materialisme), kebodohan (liberalisme dan komunisme), dan kesewenang-wenangan (tuna susila dan tuna martabat) menuju kepada kehidupan tauhid, yang berkeadilan, berpengetahuan (penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara mutlak) dan berperadaban (keteladanan dan kepeloporan).

LIHAT JUGA: VIDEO - Perawat Hingga Dokter Demo Rumah Sakit

Oleh karena itu, menurut hemat penulis untuk mewujudkan dakwah pencerahan tersebut, ada satu hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut, terutama dalam pembahasan program dan agenda persyarikatan lima tahun mendatang, yakni bagaimana menjaga "spirit salafi" dan "kepeloporan" Muhammadiyah dalam menyelesaikan berbagai problem umat dan bangsa saat ini.

Spirit Salafi

Sejak didirikan tahun 1912, Muhammadiyah berkomitmen menjadi gerakan dakwah yang mengusung jargon "kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah". Pada masa awal-awal gerakan Muhammadiyah, Nusantara berada dalam kondisi terjajah. Kondisi terpuruk itu diperparah kesenjangan yang sangat jauh antara ajaran Islam yang terkandung dalam al Quran dan Sunnah Nabi SAW dengan mindset dan praktek keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat pada masa itu. Kesalehan ritual tidak tercermin dalam kesalehan sosial sehingga kualitas umat Islam pada masa itu mengalami stagnasi (Azh-zhulumat).

Halaman
123
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved