Citizen Journalism

Kesejahteraan Bangsa yang Tertunda PLTN Tidak Boleh Mundur

INGATKAH kita pada tanggal 10 Agustus 1995? Bangsa Indonesia telah berhasil membuat pesawat terbang, N250.

Kesejahteraan Bangsa yang Tertunda PLTN Tidak Boleh Mundur
KOMPAS
Ilustrasi. PLTN Fukushima Jepang. Pemanfaatan nuklir untuk tenaga listrik masih jadi perdebatan. 

Oleh: Purwadi, SE., M.Si
Pembina Komunitas Muda Nuklir Nasional (KOMMUN)
Chapter Universitas Mulawarman
mnapri@gmail.com

INGATKAH kita pada tanggal 10 Agustus 1995? Bangsa Indonesia telah berhasil membuat pesawat terbang, N250. Prof. BJ. Habibie menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sejajar dengan Negara maju lainnya. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Habibie membuktikan mimpi tersebut, dunia mengakuinya.

Namun, ada kepentingan asing yang tidak menginginkan Indonesia menjadi Negara maju. Pukulan ekonomi dan politik menjadi senjata yang paling ampuh. Itulah yang disampaikan Habibie dalam wawancaranya di acara televisi nasional. Bisa kita saksikan melalui jejaring sosial, youtube.

BACA JUGA: Jembatan dan Jalan Lingkungan di Daerah Pesisir Dibetonisasi

Begitu halnya dengan energi nuklir, Indonesia sudah memulai pengembangan sejak tahun 1960-an. Indonesia sudah banyak melahirkan sumber daya manusia (SDM) handal dalam teknologi nuklir hingga hari ini, dunia mengakuinya. Jurusan Nuklir di UGM, Program Studi Nuklir di ITB hingga Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir di Yogyakarta. Informasi dan pemahaman mengenai nuklir sudah lengkap. Namun, realisasi selalu terhambat karena ketidaktahuan, kejumutan (kemandegan berpikir) dan kepentingan.

Seharusnya Indonesia sudah lama merasakan kesejahteraan dengan pemenuhan listrik yang baik. PLTN merupakan salah satu diversifikasi energi yang harus diterapkan secepatnya. Sepuluh negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, hanya Indonesia yang belum memiliki dan bahkan memulai membangun PLTN.

LIHAT JUGA: VIDEO - Waduh, Petarung Ini Mencret Saat Bertanding

Malaysia yang baru beberapa tahun memasuki era nuklir, lebih progresif dibanding Indonesia. Maka, jika groundbreaking PLTN Kaltim tahun 2017, suatu hal yang mendesak. Kajian Ilmiah mengenai PLTN sudah sangat lengkap sehingga semua pertanyaan pihak yang menolak PLTN bisa dijawab dengan ilmiah dan rasional. Profil kebutuhan energi yang besar di masa ini sesuai dengan kapasitas PLTN untuk memenuhinya. Kita lihat di China, merupakan Negara dengan deposit batubara terbesar memilih untuk menggunakan batubara Indonesia dan memiliki 35 PLTN.

Sudah banyak kalangan akademisi yang siap duduk bersama berdiskusi secara ilmiah untuk menjawab semua kekhawatiran akan PLTN. Kegiatan sosialisasi energi nuklir telah diselenggarakan sejak awal tahun dari diskusi-diskusi kecil menjadi seminar besar. Mari kita bedah secara mendalam berbagai pertanyaan mengenai radiasi, limbah nuklir, Fukushima, Chernobyl, Three Miles Island (TMI) dan semua pertanyaan lainnya. Semua pihak berdiskusi dengan cara yang baik, santun dan bijaksana.

BACA JUGA: Film pun Lirik Dunia Maya untuk Media Promosi

Seringkali kita kebakaran jenggot ketika mendapati fakta bahwa Indonesia tertinggal dalam banyak hal. Marah dan menyalahkan ke berbagai pihak. Tapi kita tidak menunjukkan sikap dan tindakan nyata untuk menjadi bangsa maju. Maka setiap stakeholder harus memiliki sudut pandang yang luas, pemikiran yang tajam dan ketegasan sikap. Semua niat baik untuk masa depan anak cucu kita tidak perlu takut untuk diperjuangkan. Perjuangan memang tidak mudah, namun terlambat lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. (*)

Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved