Pelaksaan Operasi Lubang Kunci CBSC

Keluarga Pasien Bisa Nonton Operasi Leher Kecetit Lewat CCTV

Operasi saraf apalagi batang leher, sungguh mengerikan. Tetapi lewat bedah mikro, maka operasi leher kecetit bisa dilakukan cepat, mudah dan terjamin.

Keluarga Pasien Bisa Nonton Operasi Leher Kecetit Lewat CCTV
priyo suwarno/ tribun kaltim
Melalui layar monitor CCTV inilah, keluarga pasien bisa melakukan komunikasi dan menyaksikan langsung jalannya operasi. 

LEMBAGA kesehatan Comprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Surabaya membuat terobosan baru, keluarga pasien bisa menonton langsung jalannya operasi. Keluarga bisa duduk di sebuah lobi di balik dinding kamar operasi (OK), mereka bisa nonton bersama (Nobar) menyaksikan jalannya operasi melalui laya CCTV.

Senin (12/10), dokter ahli bedah saraf CBSC masing-masing dr Muhammad Sofyanto, Sp.BS dengan dr Gigih Pramono, Sp.BS sedang melaksakan operasi spondylosis cervical, atau bahasa awamnya kecetit leher di Rumah Sakit Bedah Surabaya.

priyo suwarno/ tribun kaltim
Melalui CCTV inilah keluarga pasien bisa menonton langsung jalannya operasi sekaligus berkomunikasi dengan dokter yang melakukan operasi di ruang bedah RS Bedah Surabaya.

Disebutkan, pasien yang dioperasi itu mengalami kerusakan level tiga, yaitu terjadi kerusakan tiga ruas bantalan leher, "Satu-satunya cara ya mengganti bantalan ini," kata dr Sofyanto, ketika memberikan penjelasan langsung di depan 16 wartawan nasional yang diundang untuk menyaksikan langsung jalanya operasi tersebut.

priyo suwarno/ tribun kaltim
Di dalam kamar operasi juga dipasang layar televisi untuk memantau semua jalananya operasi bedah yang dilaksanakan oleh dokter ahli bedah saraf Comprehensive Brain and Spine (CBSC) Surabaya.

Apakah tidak ngeri? Dokter Sofyanto menjelaskan pelaksanaan operasi leher kecetit ini tidak perlu ngeri. Mengapa? Karena tidak tampak ada luka terbuka, "Kami hanya membuka kulit pasien satu sentimeter saja, tidak ada perdarahan besar. Kami sebut operasi ini bloodless (tanpa darah)," tuturnya di depan wartawan.

priyo suwarno/ tribun kaltim
Tim dokter dan perawat dan para medis sedang bersiap-siap melakukan operasi spondylosis cervical (kecetit leher) level tiga, di RS Bedah Surabaya.

Operasi menggunakan teknik bedah mikro (micosurgery) yang disebut dengan key hole (lubang kunci), "Disebut lubang kunci, karena memang hanya ada pembedahan sebesar lubang kunci untuk melakukan operasi itu. Kami hanya menyayat sedikit leher depan pasien. Selanjutnya dari lubang itulah, kami memasukkan peralatan bedah mikro. Di dalam alat ini sudah ada kemera, plus semua perlengkapannya. Semua bisa disaksikan secara langsung," tegasnya.

priyo suwarno/ tribun kaltim
Dokter H Sofyanto, Sp.BS (kiri) dan dr Gigih Pramono (Kanan) dibantu tim medis lainnya sedang melaksanakan operasi penggantian bantalan pada batang leher, spondylosis cervical di RS Bedah Surabaya.

Di ruang bedah Rumah Sakit Bedah Surabaya itulah, wartawan bisa menyaksikan langsung jalannya operasi termasuk keluarga pasien. "Pak lihat disini, kami segera melakukan operasi," kata Sofyanto melakukan komunikasi melalui CCTV dengan keluarga pasien.

"Iya dok. Terus bagaimana?" kata keluarga pasien di sebelah kamar operasi.

"Ini sudah kami buka, selanjutnya kami akan melakukan proses penggantian bantalan pada ruas leher yang mengalami kerusakan," katanya. Tampak ada sepupuluh orang keluarga pasien itu sedang menyaksikan lewat lewat layar monitor.

Siang itu, tima dokter CBSC tengah menangani pasien penderita spondylosis cervical level tiga, proses penggantian bantalan pada tulang keher itu setiap ruas memakwan waktu sekitar 30 menit, total untuk menyelesaikan operasi itu memakan waktu sekitar 2 jam. Semua terekam secara baik, pihak keluarga pasien juga mendapatkan CD rekaman operasi yang dilaksanakan.

priyo suwarno/ tribun kaltim
Dokter akhli bedah saraf CBSC, dr M Sofyanto dan dr Gigih Pramono, Sp.BS bersama tima media lainnya tengah melasaksanakan operasi spondylosis cervical (leher kecetit) di RS Bedah Surabaya.

"Jadi tidak perlu ragu-ragu lagi melaksanakan operasi saraf di betang laher. Karena memang sudah ada teknologinya. Kami sudah menguasai teknologi ini. Pasien maupun keluarganya tidak usah takut atau khawatir berlebihan," tegasnya.

Halaman
12
Penulis: Priyo Suwarno
Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved