TribunKaltim/

Berita Unik

Kisah Howard Utting: Saya Dibesarkan di Kuburan

Saya pernah mengajak seorang gadis ke rumah. Aku menunjuk bangunan di atas kuburan, ya di dalam situ. Dia lari dan tidak pernah kembali.

Kisah Howard Utting: Saya Dibesarkan di Kuburan
theguardian.com
Howard Utting dengan latar belakang Pemakaman Arnos Vale, Brsitol, Inggeris. 

NAMAKU Howard Utting, ketika tumbuh dewasa, ayah saya mengatakan agar saya rajin menulis di buku harian lengkap dengan nama dan alamat. "Mengapa? Karena orang-orang tak yakin saya tinggal di kuburan," katanya. Jadi di buku harian itu tertera nama serta alamat: "Arnos Vale Cemetery, Bristol."

Kepada situs theguardian.com, dia mengatakan bahwa Arnos Vale adalah lahan pemakaman seluas 45-acre di Victoria, mulai dibangun tahun 1837. Disitu rumput hijau menyapu dan bangunan klasik putih. Kakek saya William Utting tiba dari Walsall tahun 1908 menjadi pengawas di pemakama tersebut.

BACA JUGA: VIDEO - Wow, Keren! Sepatu Ini Bisa Mengencangkan Ikatannya Sendiri

Charles Emerson/ theuardian.com
Inilah Howard Utting, generasi ketiga pengelola pemakaman Arnos Vale, Bristol. Di pemakaman itulah dia dibesarkan oleh orang tuanya.

Berkat dia, Arnos Vale menjadi pemakaman pertama di luar London yang mempunyai perlengkapan kremasi. Kemudian, anaknya Alfred, ayah saya, mengambil alih. Saya lahir tahun 1943, generasi ketiga yang tinggal di kuburan itu. Aku sudah tinggal di sana selama 30 tahun.

BACA JUGA: Nenek Usia 100 Tahun Belum Mau Pensiun, Kerja 11 Jam Tiap Hari

Disitu jadi tempat sibuk lebih dari 30 staf berkerja sebagai kebersihan, dengan semak-semak mawar dan rumput halus terpotong. Ayah saya mengawasi layanan pemakaman dan penggali kubur, pemotong rumput, kusir kuda. Kakek-nenek saya juga tinggal di sana.

Tapi rumah itu hanya untuk orang dewasa saja. Adikku Elaine tidak tinggal disana sampai usia 10 tahun. Saya menghabiskan banyak waktu bermain sendiri di pemakaman bersama sepeda saya. Saya suka mencari jengkerik. Kadang-kadang aku berkunjung ke kabin penggali kubur. Mereka suka berbagi keju dan bawang sandwich dengan saya. Mereka adalah orang-orang baik; salah satu dari mereka membaca Nietzsche.


Itu bukan tempat yang menakutkan untuk hidup. Saya telah melihat kesedihan sejak aku masih kecil; Aku punya indra keenam ketika orang menderita. Aku benci kekejaman, dan aku sedikit nonkonformis.

Ayah saya adalah orang yang baik, sangat meyakinkan, tapi kadang-kadang pekerjaannya menyita waktunya. Dia sebenarnya tidak tertarik saya ambil alih tugasnya: "Kau sudah cukup menderita," katanya. Jadi saya putuskan bekerja sebagai petugas sinyal kereta api, kemudian sebagai tukang pos. Tapi aku masih pulang ke pemakaman selama 20 tahunan.

Halaman
12
Penulis: Priyo Suwarno
Editor: Priyo Suwarno
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help