Pemkot Persilakan Jika Ada Nama Selain Taman Samarendah

Jika ada penolakan dan masukan dari masyarakat mengenai nama lain "Taman Samarendah" silakan diajukan resmi ke Pemkot Samarinda.

Pemkot Persilakan Jika Ada Nama Selain Taman Samarendah
TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HP
Walikota Samarinda Syaharie Jaang bersama rombongan meninjau pembangunan Taman Samarendah. Taman ini dibangun di eks SMPN1 dan SMAN Samarinda di simpang empat jalan Bhayangkara Samarinda. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA- Pproyek pembangunan ruang terbuka hijau di lokasi eks SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda di Jl Bhayangkara Samarinda terus dikebut. Dua buah tulisan berukuran besar "TAMAN SAMARENDAH" berwarna merah sudah terpasang di dua sisi taman. Satu menghadap Jl Bhayangkara dan satunya lagi menghadap Jl Awang Long.

Penamaan "Samarendah" itu dipilih sendiri oleh Walikota Samarinda Syaharie Jaang. Namun para alumni SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda memprotesnya di media sosial.

Menanggapi adanya penolakan terhadap nama itu, Kepala Bidang Prasarana Perkotaan di Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Samarinda, Mahyudin, Senin (2/11) enggan berkomentar banyak. Jika memang ada penolakan dan masukan dari masyarakat kata dia, silakan diajukan resmi ke Pemkot Samarinda.

Tetapi apakah nama tersebut nanti masih bisa diganti atau tidak, keputusannya ada tangan Walikota Samarinda. Sejauh ini, pihaknya hanya memberikan nama sesuai perintah Walikota, yakni "Taman Samarendah".

"Ya, ajukan saja (jika tidak setuju dengan nama yang ada)," katanya.

Diberitakan sebelumnya, para alumni SMPN 1 dan SMAN1 Samarinda yang tergabung dalam grup whatsapp kecewa, marah dan prihatin. Mereka kaget begitu mengetahui nama taman kota yang dibangun di atas lahan lapangan Pemuda serta eks SMAN1-SMPN1 Samarinda itu ternyata adalah "Taman Samarendah".

Mereka tahu nama itu setelah kontraktor selesai memasang namanya dalam tembok taman bertulis: "TAMAN SAMARENDAH". Gambar itu kemudian disebar dalam grup-grup diskusi alumni SMA1 di media sosial. Jaringan alumni tersebar tak hanya di Kaltim, melainkan juga di berbagai kota besar di Tanah Air.

Di antaranya Iswan Priady, Adrian Hakim, dan Isran Noor. Mereka menilai penamaan itu tak tepat. Seakan-akan tidak ada nama lain saja. Iswan Priady, seorang profesional yang berkarir di Jakarta menuturkan kepada Tribun, Minggu (1/11), memang benar nama "Samarinda" berasal dari gabungan kata "Sama-Rendah".

Tetapi, kalau ini dijadikan nama sebuah taman, yang akan menjadi salah satu ikon kota, justru tidak pas karena konotasinya sebagai dataran rendah yang sering kebanjiran. Akan lebih baik kalau diberi nama yang relevan dengan histori lokasinya. Misalnya, "Taman Pemuda" sebagai representasi nama lapangan Pemuda dan sekolah yang pernah ada di sana.

"Sungguh ini mengusik kami semua. Saya awalnya hanya prihatin dengan proses penyelesaiannya (pembangunan taman) yang sangat lama. Kini pun belum ada tanda-tanda kapan akan selesai. Jalan lingkar yang mengelilingi pun berkualitas rendah. Ternyata, pilihan nama pun membuat kami lebih prihatin lagi," jelas Iswan.

Wahyudi Manaf, tokoh alumni yang selama ini sering mengoordinasikan kegiatan alumni, termasuk saat reuni 60 tahun, membuat surat terbuka di jaringan media sosial kepada Walikota Syaharie Jaang dan Wakil Walikota Nusyirwan Ismail. Ratusan alumni mengamini penolakan nama itu. Mereka meminta diganti menjadi nama lain yang sesuai histori lokasi itu, "Taman Pemuda" misalnya. (dep)

Penulis: Doan E Pardede
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved