Opini

Catatan Akhir Tahun 2015, Sinergi Bersama Menyelamatkan Generasi Penerus dari Ancaman Narkoba

Apakah ini pertanda sebuah kesadaran bersama akan ancaman serius narkoba bagi anak muda khususnya?

Catatan Akhir Tahun 2015, Sinergi Bersama Menyelamatkan Generasi Penerus dari Ancaman Narkoba
iStock-Getty Images/AlexLMX
Ilustrasi. 

OLEH: Ir. H. Sutrisno Thoha
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kaltim
sutrisno.thoha39@gmail.com

17 Desember 2015 Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Timur bersama dengan Badan Nasional Narkotika Kalimantan Timur menggelar Kampanye dan Deklarasi Pemuda Anti-Narkoba. Kurang lebih 943 peserta dari berbagai elemen hadir. Hal yang patut diapresiasi, sebuah gelaran sosial mampu menghadirkan sekian banyak orang. Apakah ini pertanda sebuah kesadaran bersama akan ancaman serius narkoba bagi anak muda khususnya?

Di tengah upaya memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan UUD 1945, kita dikejutkan hasil temuan penelitian yang menyebutkan Kalimantan Timur menduduki rangking kedua dalam kasus peredaran narkoba menggeser Kepulauan Riau. Demikian pula dalam penggunaannya menduduki peringkat ketiga sesudah DKI Jakarta dan Kepulauan Riau (media online liputan 6).

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, pengguna narkoba di Kaltim mencapai 3,07 persen atau sebanyak 97 ribu jiwa. Mereka terdiri dari para pemakai coba-coba, teratur pakai dan pecandu yang pada umumnya berusia muda.

BACA JUGA:  Astaga, Ratusan Kilogram Ganja dari Aceh Disamarkan sebagai Sayur

Sudah seharusnya menjadi kegelisahan bersama akan ancaman narkoba yang tidak hanya menyelinap pada keluarga yang berantakan atau sekadar menjadi pelarian namun juga sudah menjadi teror bersama, menyerang anak muda yang menjadi harapan bangsa, menusuk jantung kaum intelektual cendekia, bahkan keluarga yang harmoni dalam beragamapun diserangnya. Tidak melihat sebuah latar belakang lagi, satu persatu dinding nurani dan keimanan diserang dengan narkoba, seolah gerakannya tanpa terdeteksi dan kita baru tersadar manakala orang yang kita cintai direnggut otak sadarnya dengan ketergantungan akan narkoba.

Dalam buku Menyiram Bara Narkoba (Soekedy,Millennium Publisher) menuliskan pengandaian, jika ada lima juta orang yang terjerat jaringan narkoba, dan mengalami ketergantungan yang berkelanjutan, dan sekiranya seorang pecandu mengeluarkan Rp 200.000 per hari, maka pengeluaran bangsa ini untuk menghancurkan diri sendiri berjumlah Rp 1 trilyun perhari atau Rp. 365 trilyun per tahun. Betapa besar jumlah yang digunakan untuk harakiri, penghancuran diri bangsa lewat narkoba. Dan tentu jumlah riil jauh lebih besar dari sebuah hitung-hitungan di atas.

BACA JUGA: Bayar Hutang Orangtua, Warga Paser Ini Rela Jadi Kurir Sabu

Kita harus selamatkan terutama anak muda, calon penerus kepemimpinan bangsa. Jangan sampai narkoba menghancurkan daya kreatif, inovatif, dan produktif sebagai ciri anak muda. Jangan sampai muncul generasi yang sakit, unhealty society dan masyarakat yang tereksploitasi oleh mafia narkoba.
Sebuah tugas berat dan harus dilakukan dengan bersinergi, menghentikan proses pembusukan dan pengamputasian generasi muda bangsa. Tidak mustahil ada kekuatan-kekuatan luar yang secara sistematis ingin melumpuhkan kita, melakukan iritasi terhadap generasi muda kita, agar bangsa Indonesia ini ke depannya bukan menjadi penentu zaman.

Jika upaya penghancuran tersebut tidak disikapi dengan sungguh-sungguh, bersama-sama, bersinergi maka seolah kita membiarkan terjadinya kebangkrutan nasional, sebab kita telah membiarkan anak muda penerus bangsa terpenjara oleh ilusi dan halusinasi, menjadi komponen masyarakat yang invalid, akan terjadi kehilangan satu generasi (lost generation).

Halaman
123
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved