TribunKaltim/

Sebatik Direbut, Lumbis Ogong Terancam Pisah NKRI

Namun di sisi lainnya, kemenangan itu justru akan membuat Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad seluas sekitar 154.000 hektare di Lumbis Ogong.

Sebatik Direbut, Lumbis Ogong Terancam Pisah NKRI
Repro
Peta lokasi outstanding boundary problem di Kabupaten Nunukan. 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Republik Indonesia dalam dilema. Di satu sisi posisi Republik Indonesia sangat kuat untuk memenangkan outstanding boundary problem (OBP) di Pulau Sebatik yang luasnya mencapai 87 hektare.

Namun di sisi lainnya, kemenangan itu justru akan membuat Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad seluas sekitar 154.000 hektare di Kecamatan Lumbis Ogong, terancam lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Dewan Pendiri Pemuda Penaja Perbatasan RI, Lumbis S Sos menjelaskan, Nederlandsche dan Britsch Noord Borneo sebagaimana tertuang dalam traktat 1891 menyebutkan, patok batas triangulasi dipasang di punggung gunung (watershed) dari Gunung Jagoi di Kalimantan Barat hingga Sumantipal, Sinapad dan Sebatik di Kalimantan bagian utara.

Pihak penjajah pada saat itu menyadari tidak semua gunung menjadi watershed karena akan ada potongan sungai. Sehingga lahirlah traktat 1915 khusus persoalan Sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad.

“Dimana selain watershed maka disepakati juga koordinat aliran sungai seperti di Sebatik mulai 4’10” dan di Lumbis Ogong 4’20”. Inilah yang menjadi menjadi sumber masalahnya,” ujarnya, Kamis (31/3/2016).

Berdasarkan survei pemetaan antara Republik Indonesia dan Malaysia pada 1975-1978 terjadi perbedaan penafsiran.

Baca: 180 Hektar Daratan Indonesia di Tanjung Kayu Mati Dicaplok Malaysia?

“Sehingga sesuai dengan pertemuan bilateral di Kota Kinabalu pada 1975 dan dilanjutkan di Bali maka disepakatilah beberapa sigmen batas negara akan dibicarakan kemudian,” ujarnya.

Diantaranya beberapa titik patok berada di Pulau Sebatik dan Sungai Sumantipal serta Sungai Sinapad.

“Patok B2700-B3500 dan C500-C700 di Kecamatan Lumbis Ogong yang sekarang dikenal dengan istilah OBP,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Niko Ruru
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help