Hari Kartini

Jadi Bupati Kukar, Rita Widyasari Ingin Menjadi Ibu yang Mampu Berbuat untuk Orang Banyak

Soal gaya memimpin Kutai Kartanegara, ia mengaku tak punya cara khusus, apa yang ia lakukan selama ini dikatakan Rita bukanlah sebuah manipulasi.

Jadi Bupati Kukar, Rita Widyasari Ingin Menjadi Ibu yang Mampu Berbuat untuk Orang Banyak
Istimewa
Rita Widyasari saat berlibur bersama suami dan ketiga anaknya. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Menjadi istri dan ibu yang baik, disayang suami dan anak-anak, serta tindakannya bermanfaat bagi orang lain.

Itulah sosok perempuan ideal menurut Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.

Sosok Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita terus diperingati wanita Indonesia dari tahun ke tahun, setiap tanggal 21 April.

Tanggal ini merujuk hari kelahiran Raden Adjeng Kartini di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879.Perjuangan Kartini untuk terus mendapatkan hak dan emansipasi wanita yang setara dengan laki-laki dalam meraih pendidikan dan pekerjaan itu kini dapat dirasakan seluruh wanita di Indonesia.

Mungkin itulah sekilas gambaran Kartini yang sosoknya terus menginspirasi para wanita hebat yang hingga saat ini untuk terus dapat berkarya bagi sesama. Kegigihan dan usaha keras perempuan adalah tipikal yang diinginkan Kartini. Dan bibit itu ada pada Rita Widyasari, yang dikenal sebagai sosok Kartini modern.

Baca: Jabatan Wali Kota Membuatnya Sibuk tapi Neni Moerniaeni Rutin Telepon Suami

Wanita bupati pertama di Kalimantan ini melayani warga Kukar hingga ke pelosok pedalaman. Peringatan Hari Kartini dimaknai Rita sebagai salah satu penyemangat untuk terus memajukan masyarakat Kukar agar dapat dan lebih sejahtera.

Keseriusan Rita dalam mengemban amanah ini juga ditunjukkan dengan loyalitas dan perjuangannya yang maksimal tanpa pamrih.

Bahkan, ia tidak peduli berapa besar gaji dan tunjangan yang ia terima setiap bulannya. "Saya nggak peduli berapa gaji saya. Saya juga nggak tahu gaji saya ada berapa saat ini. Yang penting saya kerja," katanya.

Ia juga selalu ingat pesan Endri Elfran Syafril, suaminya, untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan, jangan sampai terjadi penyimpangan apalagi korupsi.

Halaman
123
Penulis: M Abduh Kuddu
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help